Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Mual


__ADS_3

2 Minggu lebih sudah berlalu setelah kejadian malam bertukar kasih sayang di antara mereka dan paginya Aeri melakukan program hamil di salah satu dokter yang ada di rumah sakit. Selama menjalankan program hamil itu mereka juga lebih sering bertukar kasih sayang.


Pagi ini Edgar sedang bersiap-siap untuk berangkat ke Singapura bersama Bara dan Ernest karena mereka di undang langsung oleh Samuel. Tujuan Samuel menyuruh datang kesana untuk merayakan suksesnya kerjasama di antara mereka.


“Kapan kamu akan pulang?” Tanya Aeri.


“Aku disana hanya 2 atau 3 hari saja.” Edgar memasang jaket hitamnya lalu berjalan mendekati Aeri. “Jaga dirimu baik-baik ya, jangan makan yang sembarang ingat apa yang di katakan oleh dokter.”


Aeri menganggukkan kepalanya.


Chup……


Edgar mengecup bibir Aeri lalu perlahan ********** di balas oleh Aeri, ciuman mereka bertahan beberapa menit.


Sejenak mereka melepas rindu yang akan tertahan untuk beberapa hari, sebenarnya Edgar sempat menolak karena tidak ingin meninggalkan Aeri sendirian. Tetapi Aeri tidak mengizinkan, alhasil Edgar terpaksa pergi.


Kini mereka berdua sudah berada di teras rumah, Bodyguard meletakkan koper Edgar ke dalam mobil.


“Sayang aku pergi dulu ya.” Edgar mencium kening Aeri lalu berjalan masuk ke dalam mobil.


“Hati-hati sayang.” Aeri melambaikan tangannya, begitu juga dengan Edgar.


Mobil yang di tumpangi Edgar sudah berjalan keluar gerbang rumah. Sementara Aeri kembali masuk ke dalam rumahnya.


**


Edgar, Bara dan Ernest baru saja tiba di Singapura jam 10 Pagi. Mereka langsung menuju hotel penginapan untuk beristirahat, kamar hotel yang sangat mewah dan juga luas, tersedia ada 3 ranjang di dalamnya.


Tiba di kamar, mereka langsung ke ranjang masing-masing. Karena acaranya besok pagi di sebuah restoran mahal yang sudah di booking oleh Samuel untuk mereka.


Edgar meraih ponselnya lalu mencari nama Aeri dan menelponnya.


“Sayang?” Panggil Edgar kepada Aeri yang baru saja mengangkat telponnya.


“Iya sayang?”


“Aku baru saja tiba di hotel, bagaimana kabar mu sayang?”


“Baik sayang, aku tadi berolahraga dan juga berenang.” Jawab Aeri yang sedang berbaring di atas ranjang. “Aku sudah merindukan mu.”


“Hahaha aku juga merindukan mu, kita benar-benar tidak bisa berjauhan sayang.” Edgar tidak bisa menahan senyumnya disaat mendengar Aeri berbicara seperti itu.


“Cepatlah kembali, aku ingin di peluk lagi.” Rengek Aeri dari seberang telpon.


“Sayang jangan menggoda ku seperti itu, kita sedang berjauhan.” Edgar kesal jika Aeri menggodanya ketika mereka berjauhan.

__ADS_1


“Iya iya sayang, lebih baik kamu istirahat dulu.” Ucap Aeri.


“Iya sayang, dah sayang.” Edgar mematikan telpon lalu meletakkan di sampingnya.


Edgar mulai memejamkan matanya untuk beristirahat hingga memasuki bawah alam sadar.


**


Keesokan harinya pukul 7 pagi di kediaman Edgar Dale Nichols. Orang-orang yang bekerja di rumah itu mulai melakukan aktivitas mereka masing-masing.


Di salah satu kamar yang ada di sana, terlihat ada seorang wanita yang masih betah di bawah selimutnya tertidur dengan pulas.


Tok…. Tok…. Tok…..


Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar membuat Aeri membuka matanya, ia segera beranjak dari ranjang untuk membuka pintu.


Terlihat ada kepala pelayan yang sedang berdiri di depan kamar sambil membawa 1 gelas jus dan juga buah-buahan yang lainnya.


“Silahkan di minum non.” Menyerahkan kepada Aeri.


Aeri meraihnya. “Terima kasih pak.” Tersenyum.


Setelah mengantar minuman dan buah-buahan, kepala pelayan kembali pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.


Kini Aeri duduk di balkon untuk menghabiskan minumannya sambil menikmati pemandangan awan yang cantik di depannya.


Selesai menghabiskan minuman, Aeri berajak dan berjalan mendekati pagar balkon. Ia merentangkan kedua tangannya lalu menghirup udara segar, ketika ia tengah asik tiba-tiba merasa mual dan ingin muntah.


“Huuekk….Huekkk….Huekk…..”


Aeri bergegas pergi ke kamar mandi, karena sudah tidak bisa di tahan. Daritadi ia muntah-muntah hingga kepalanya mulai terasa pusing.


Saat ini Aeri sedang duduk di atas ranjang, ia memutuskan untuk pergi keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan pelan. Di tengah tangga tiba-tiba Aeri sangat pusing dan hampir terjatuh tapi di tahan oleh Bodyguard 1 yang kebetulan melihat Aeri.


“Ada apa dengan nona? Apa nona sedang sakit?” Tanya Bodyguard 1.


“Aku tidak sakit, tapi tiba-tiba saja aku merasa sangat mual dan muntah.” Jawab Aeri. “Apa mungkin masuk angin.”


Bodyguard 1 menyentuh kedua bahu Aeri lalu membawanya ke ruang tamu diikuti oleh Bodyguard 2.


“Tunggu sebentar, saay panggilkan kepala pelayan dulu.” Ucap Bodyguard 1. “Jaga nona.” Perintahnya kepada Bodyguard 2.


Aeri pun duduk di bantu oleh Bodyguard 2. “Apa bos tahu kalau nona sedang sakit?” Tanyanya dan berdiri di samping Aeri.


“Tidak, karena sebelumnya aku juga tidak sakit.”

__ADS_1


“Tapi wajah nona terlihat sangat pucat.”


Aeri hanya diam lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang.


Kepala pelayan dan Bodyguard 1 berjalan ke arah mereka berdua.


“Nona belum sarapan kan? Tadi koki pribadi Tuan sudah memasakkan makanan kesukaan nona.” Ucap kepala pelayan berdiri di depan Aeri.


Aeri menggelengkan kepalanya. “Aku tidak berselera makan.”


“Nona pergi ke rumah sakit saja ya di temani mereka berdua dan supir, takut nanti Tuan tahu kalau nona sakit, karena telat membawa nona ke rumah sakit.”


“Tidak usah ke rumah sakit, sepertinya aku tidak apa-apa.” Tolak Aeri.


“Panggilkan Ratih (Salah satu pelayan yanga da disana) di dapur.” Perintah kepala pelayan kepada Bodyguard 1.


Bodyguard 1 beranjak pergi untuk memanggil bi Ratih, tidak menunggu lama mereka berdua tiba di ruang tamu. Terlihat wajah Aeri sangat lemas, ia daritadi merasa mual dan ingin muntah lagi.


“Bawa nona ke kamarnya dan temani dia dulu.” Perintah kepala pelayan kepada bi Ratih.


“Baik.” Bi Ratih membantu Aeri untuk berdiri.


Mereka mulai berjalan menuju kamar diiringi kedua Bodyguard takut terjadi apa-apa kepada Aeri.


Tiba di depan kamar, kedua Bodyguard kembali lagi melakukan aktivitas mereka. Aeri dan bi Ratih masuk ke dalam kamar lalu membantu Aeri untuk duduk di atas ranjangnya, sementara bi Ratih duduk di sofa.


“Hueekkk… Hueeekk… Hueeekkkk…”


Tiba-tiba Aeri merasa mual lagi dan langsung berlari ke kamar mandi karena ia benar-benar tidak kuat menahannya diikuti bi Ratih.


“Mulai dari kapan nona sakit?” Tanya bi Ratih sambil memijat leher Aeri.


“Baru tadi pagi aku merasakan mual dan juga muntah yang tidak berhenti.”


Beberapa menit berada di dalam kamar mandi, mereka pun keluar dan Aeri duduk kembali di atas ranjang. Sementara bi Ratih membuka semua gorden yang masih tertutup karena tadi waktu bangun Aeri tidak sempat membukanya.


“Sungguh kepala ku sangat pusing.” Ucap Aeri.


Bi Ratih yang mendengar itu langsung berjalan mendekati Aeri dan duduk di sampingnya. “Sini non.” Mulai memijat kepala Aeri.


...- Maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. terimakasih...


...Bersambung……...

__ADS_1


__ADS_2