
Jam menunjukkan pukul 9 malam di kediaman Edgar Dale Nichols. Saat ini Edgar sedang duduk di ruang kerjanya untuk membaca berkas-berkas yang baru di letakkan oleh bawahannya, sudah hampir 1 jam Edgar duduk disana.
Dretttt….. Dretttt….. Drettt…
Ponsel Edgar bergetar, ia langsung mengambilnya terlihat Bara menelponnya.
“Dimana?” tanya Bara yang ada di seberang telpon.
“Di rumah.”
“Segera ke markas, pengiriman barang ke kota G di halang oleh sekelompok orang.” Jelas Bara.
“Aku segera ke markas.” Edgar mematikan telpon sambil memasukkan ponsel ke dalam sakunya.
Edgar berdiri dari kursinya lalu berjalan keluar, terlihat ada kepala pelayan yang baru masuk dari pintu utama.
“Katakan kepada istriku, aku pergi ke markas dan ini sangat mendesak.” Perintah Edgar berdiri di depan kepala pelayan.
Kepala pelayan mengangguk. “Baik Tuan….”
Edgar langsung berlari keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Kini mobilnya sudah melaju meninggalkan halaman.
Aeri sedang menuruni anak tangga dan berjalan ke ruang kerja Edgar. Kepala pelayan segera menghampirinya untuk memberitahu pesan Edgar tadi.
“Maaf, apa Nona sedang mencari Tuan Edgar?” tanya kepala pelayan kepada Aeri yang sudah berdiri di depan ruang kerja Edgar.
“Iya, karena sudah waktunya makan malam.” Jawab Aeri.
“Baru saja Tuan Edgar keluar, katanya mau pergi ke markas karena ada urusan yang mendesak.” Jelas kepala pelayan.
Aeri mengangguk.
“Saya permisi dulu.” Kepala pelayan berjalan ke arah dapur.
“Memangnya dia ada urusan apa?” Gumam Aeri lalu berjalan ke arah ruang makan.
**
brakkkk……
Edgar menutup pintu mobilnya lalu berjalan masuk ke dalam markas. Terlihat Bara, Ernest dan beberapa bawahan sudah berkumpul di ruang tengah. Ia berjalan ke arah mereka semua dan duduk di samping Ernest.
“Kita harus ke perbatasan kota G malam ini. Karena 2 bawahan kita sedang di hadang oleh puluhan orang.” Ucap Bara.
“Siapa yang sudah berani melakukan itu?” tanya Edgar.
“Kami belum mengetahui siapa.” Sahut Ernest.
Edgar berdiri. “Kita kesana!” berjalan duluan.
Mereka yang mendengar itu langsung beranjak dari ruang tengah dan menyusul Edgar berjalan keluar.
Ada 3 buah mobil yang akan pergi kesana, perlahan-lahan mobil mereka berjalan meninggalkan kawasan markas dan mulai menyusuri jalanan kota.
Setengah jam kemudian mobil mereka memasuki jalanan yang dimana tidak ada rumah sama sekali, disana hanya ada hutan-hutan belantara, penerangan jalan yang sedikit.
“Dimana posisi mereka?” Tanya Edgar.
__ADS_1
“Sebelum perbatasan.” Jawab Ernest yang sedang menyetir.
Ernest melajukan mobil mereka hingga terlihat ada 8 buah mobil di tengah jalan, salah satunya ada mobil barang Edgar.
Ciittt……
Suara ban mobil terdengar karena Ernest menginjak rem secara mendadak.
brakkkk…….
Mereka semua turun dari mobil dan berjalan ke arah mereka. Terlihat puluhan orang menatap ke arah mereka dan 2 bawahan Edgar yang mengirim barang itu terkapar tidak berdaya dekat mobilnya.
Tanpa basa basi orang itu langsung menyerang mereka. Keduanya saling serang menyerang hingga mengeluarkan senjata masing-masing. Tidak lama kemudian, orang-orang itu terkapar tidak berdaya di atas aspal jalanan.
2 bawahan Edgar yang terkapar tadi pun di bawa bawahan yang lainnya masuk ke dalam mobil.
“Joshua, Dery.” Panggil Edgar.
Joshua dan Dery mendekati Edgar.
“Kalian berdua yang kirim barang itu.” Perintahnya kepada mereka berdua.
“Baik bos.” Jawab Dery.
“Cepat berangkat! Barang itu harus segera sampai disana.” Perintah Edgar.
“Baik bos.” Jawab bawahan Edgar.
Mobil pengiriman barang itu langsung melaju meninggalkan tempat itu. Edgar berjalan ke salah satu dari mereka yang sedang terkapar.
“Ti…dak ada, kami hanya….”
Bugh…..
Edgar menendang kepalanya dengan kasar. “Jangan berani macam-macam denganku.”
Setelah itu, ia berjalan masuk ke dalam mobil diikuti oleh yang lainnya.
Kini mobil Edgar putar balik meninggalkan tempat itu.
“Siapa mereka?” Tanya Bara yang sedang duduk di belakang.
“Aku juga tidak tahu.” Sahut Ernest.
“Itu tidak penting, mereka hanya kalangan bawah.” Ucap Edgar melihat ke kiri dan kanan yang hanya ada pohon-pohon tinggi.
Edgar jadi turun langsung, karena barang itu di kirimkan kepada orang yang akan bekerjasam dengan mereka dalam waktu terdekat. Jadi Edgar tidak mau pengiriman itu terhambat.
Tidak terasa mobil Edgar kembali memasuki kawasan markas, mereka semua turun dari mobil.
“Obati saja langsung mereka berdua.” Ucap Edgar melihat 2 bawahan yang tadi di hajar oleh orang-orang itu.
“Baik bos.” Jawab salah satu bawahan dari mereka.
Edgar, Bara dan Ernest masuk ke dalam markas. Sementara yang bawahan berjalan ke samping markas karena disana tempat khusus para bawahan.
“Apa kau langsung pulang?” tanya Bara sambil membuka pintu markas.
__ADS_1
Edgar melihat jam tangannya. “Sepertinya aku akan tidur disini.”
“Setelah barang itu sampai di tangan BLOODS, kapan mereka akan menghubungi kita untuk membahas kerjasama?” tanya Ernest sambil mendudukkan bokongnya di atas sofa.
Edgar menghentikan langkahnya. “Paling lambat siang atau besok sore.” Jawab Edgar melanjutkan langkahnya. “Mungkin besok pagi barang itu sudah sampai di tempat mereka.” Menaiki anak tangga.
klekkkk…..
Edgar masuk ke dalam kamar lalu menghempaskan tubuhnya dengan kasar. Sejenak ia menatap ke langit-langit kamar.
“Aku belum mengatakan apapun kepada istriku, bahwa malam ini aku tidak pulang.” Gumam Edgar sambil meraih ponselnya.
Edgar mencoba untuk menelpon Aeri, beberapa saat kemudian Aeri mengangkat telpon.
“Sayang?” Panggil Edgar kepada Aeri yang ada di seberang telpon.
“Iya?”
“Maaf tadi aku tidak sempat memberitahu mu kalau pergi ke markas karena mendadak.”
“Tidak apa-apa, tadi kepala pelayan sudah memberitahu ku.”
“Maaf sayang, sepertinya malam ini aku tidak pulang.” Edgar merasa tidak tenang jika berjauhan dengan Aeri tapi ia masih mengurus pengiriman barangnya.
“Iya sayang. Jadi kapan kamu pulang?” tanya Aeri yang sudah mulai rindu dengan kehadiran sang suami.
“Belum tahu, nanti akan ku kabari lagi.”
“Baiklah sayang.”
“Maaf besok pagi aku tidak berada di samping mu.”
“Hahaha iya sayang.”
“Dah sayang, I love you.” Ucap Edgar, membuat Aeri tersenyum mendengarnya.
“I love you more sayang.” Jawab Aeri.
Edgar mematikan telpon dan meletakkan di atas nakas. Kini Edgar mulai memejamkan matanya, tidak terasa ia mulai memasuki alam bawah sadar.
Di ruang tengah markas, dua orang masih menikmati minuman mereka masing-masing.
“Aku sudah sangat lelah.” Ucap Bara yang sudah banyak meminum alkohol.
“Aku juga, argh!!” Teriak Ernest.
Daritadi dua orang ini hanya minum-minum tidak jelas sampai akhirnya kebanyakan dan tumbang di sofa.
Beberapa menit kemudian Bara bangun dan berteriak memanggil Ernest. “Lebih baik kita pergi ke kamar, karena sudah larut malam.” Ucap Bara.
Terlihat di jam dinding waktu sudah menunjukkan pukul setengah 2 pagi. Ernest dan Bara pun beranjak dari ruang tengah menuju kamar masing-masing.
...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...
...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. terimakasih...
...Bersambung……...
__ADS_1