
Lumayan lama bi Ratih menemani Aeri di dalam kamar karena perintah dari kepala pelayan untuk menjaganya agar tidak terjadi apa-apa.
“Maaf Non jika pertanyaan saya lancang.” Ucap bi Ratih sambil memijat leher Aeri.
Aeri menoleh.
“Kapan terakhir Nona berhubungan badan dengan Tuan?” tanya bi Ratih.
Aeri berpikir sejenak untuk mengingat kapan terakhir mereka melakukan itu.
“Aku melakukan program hamil sudah berjalan sekitar 2 Minggu, berarti malam sebelum ke rumah sakit…..” Aeri bergumam dalam hati."
“Non?” panggil Bi Ratih membuat Aeri tersadar dari lamunannya.
“Em…… Mungkin sekitar 2 minggu yang lalu.” Jawab Aeri dengan wajah yang sedikit malu mengatakan itu kepada bi Ratih yang ada di depannya.
“Kapan terakhir Nona datang bulan?” tanya bi Ratih.
“Sebelum berhubungan pertama.”
Bi Ratih beranjak dari ranjang. “Tunggu sebentar ya Non, saya mau mengambil sesuatu dulu ke bawah.”
Aeri mengangguk.
Bi Ratih pun berjalan keluar kamar Aeri lalu menuju kamarnya yang ada di belakang untuk mengambil sesuatu. Beberapa menit bi Ratih mencari benda itu tetapi tidak ketemu.
“Apa jangan-jangan sudah tidak ada stok lagi?” gumamnya lalu berjalan keluar kamar menuju teras.
Bi Ratih menyuruh salah satu Bodyguard yang ada di sana untuk membeli sesuatu di Apotek seberang. Tidak lama kemudian Bodyguard itu kembali membawa benda yang di maksud oleh bi Ratih.
“Ini bukan bi?” Bodyguard 2 menyerahkan tespek kepada bi Ratih yang daritadi berdiri di teras menunggunya.
Bi Ratih meraih benda itu sambil mengangguk. “Terimakasih ya.” Berjalan masuk ke dalam dan menuju kamar Aeri.
Klekkkk…..
Bi Ratih masuk ke dalam kamar lalu duduk di samping Aeri untuk menyerahkan benda itu kepadanya.
“Coba Nona cek dulu dengan ini.” Menyerahkan alat tes kehamilan itu kepada Aeri.
“Ini?” Aeri mengambilnya.
“Iya Non ini alat tes kehamilan. Coba Nona cek ya.” Ucap bi Ratih.
Aeri masih bengong memandangi alat tes kehamilan yang saat ini berada di tangannya.
“Apa aku beneran hamil? Semoga saja iya.” Gumam Aeri dalam hati.
“Nona kenapa?” tanya bi Ratih.
“Tidak apa-apa bi.” Tersenyum. “Terimakasih ya bi.”
“Iya Non. Kalau mau cek di pagi hari ya karena kata dokter bagus.” Ucap bi Ratih.
Aeri mengangguk. “Kalau bibi ada kesibukan tidak apa-apa, aku sudah mendingan kok.”
Bi Ratih berdiri. “Baik Non, silahkan istirahat dulu. Kalau ada apa-apa silahkan telpon ke nomor dapur.”
“Iya bi.”
Bi Ratih berjalan keluar kamar dan kembali ke dapur untuk melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda karena menemani Aeri.
**
__ADS_1
Sore hari di Singapura, saat ini Edgar sedang duduk bersantai di dekat pantai sambil menikmati pemandangan yang sangat indah di temani satu botol bir yang ada di atas meja.
“Mungkin sekitar 2 atau 3 hari lagi aku akan disini.” Gumam Edgar.
Dari kejauhan terlihat Ernest dan Bara sedang berjalan ke arah Edgar.
“Apa kau sudah lama disini?” tanya Bara kepada Edgar.
Edgar menoleh. “Tidak juga, cuaca sangat enak disini.”
“Pemandangan yang indah.” Ernest melihat bule-bule yang sedang berjemur.
“Pemandangan apa yang kau maksud hah?” Sahut Bara.
“Ya pemandangan.” Ernest nyengir lalu duduk di samping Edgar.
Mereka bertiga duduk santai di pinggir pantai sambil menunggu sunset yang indah disana. Hotel mereka sangat dekat dengan pantai itu, mungkin mereka sampai malam bersantai disana.
**
Aeri baru saja selesai makan malam, ia langsung berjalan keluar meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju kamarnya.
Sesampai di kamar Aeri langsung masuk ke kamar mandi karena ia merasa mual lagi. Tidak lama kemudian ia keluar dan berjalan menuju ranjang lalu berbaring untuk melanjutkan drama china yang ia tonton tadi.
Tengah asik menonton tiba-tiba air matanya keluar karena melihat ada scene yang sedih membuatnya menangis.
“Kok aku jadi cengeng begini.” Gumam Aeri sambil mengusap air matanya. “Aku juga dulu di perlakukan seperti wanita yang ada di drama itu tapi sekarang Edgar sudah berubah jadi lebih menyayangi ku.”
Drettt…. Drettt…. Drettt….
Tiba-tiba ponsel yang berada di samping Aeri bergetar.
“Siapa yang menelpon? Jadi tanggung ini sedihnya.” Aeri meraih ponselnya lalu mengangkat telpon.
“Iya sayang hiks hiks….” Jawab Aeri tidak kuat menahan sedihnya.
“Apa kamu menangis?” tanya Edgar dengan nada khawatir. “Kamu kenapa menangis sayang? Siapa yang menyakiti mu?"
“Ti…dak hiks hiks…. Saat ini aku sedang menonton drama china yang sedih.”
“Hahaha ada-ada saja kamu ini.” Edgar mengheran setelah mendengar jawaban Aeri. “Apa kamu sudah makan malam sayang?”
“Sudah sayang, kamu?”
“Aku baru mau makan sayang." Sahut Edgar.
“Kapan kamu akan pulang sayang?” tanya Aeri.
“Mungkin 2 atau 3 hari lagi, karena aku mau ke tempat sesuatu untuk mencek semuanya.” Ucap Edgar. “Kenapa? Apa kamu sudah tidak kuat menahan rindu sayang?”
“Hahah bukan begitu sayang.” Aeri tersenyum. “Ya sudah kamu makan malam dulu lalu istirahat ya.” Ucapnya. “Aku mau lanjut nonton dulu karena sedihnya nanggung sayang.”
“Hahaha iya sayang baiklah, dah sayang love you.”
“Love you more.” Aeri mematikan telponnya dan kembali meletakkan ponsel di sampingnya. Ia kembali menonton hingga larut malam.
**
Pagi dengan cuaca yang sangat cerah di Singapura. Saat ini Edgar, Bara dan Ernest baru saja selesai sarapan di pinggir pantai.
Dretttt… Drettt… Drettt…
Ponsel Edgar bergetar, terlihat nama kepala pelayan di layar ponselnya.
__ADS_1
“Iya ada apa?” tanya Edgar.
“Maaf saya mau nanya, kapan Tuan kembali ke rumah?” tanya kepala pelayan.
“Kenapa kau bertanya seperti itu?” Edgar bingung karena tidak biasanya kepala pelayan bertanya tentang kepulangannya. “Memangnya ada apa?”
“Jadi begini Tuan, sepertinya Nona sedang sakit. Tapi Nona tidak mau di bawa ke rumah sakit, mungkin Nona menunggu Tuan datang untuk membawanya.” Ucap kepala pelayan.
Edgar melebarkan matanya lalu berdiri. “Bagaimana bisa? Kenapa kau baru mengatakan sekarang hah?”
“Maaf Tuan, saya kemarin sangat sibuk jadi lupa untuk memberitahu Tuan.” Ucap kepala pelayan. “Saya sudah menawarkan Nona untuk pergi ke rumah sakit tetapi Nona tidak menolaknya.”
“Oke baiklah, jagalah istriku.” Perintah Edgar. “Siang atau sore aku akan pulang.” Mematikan telpon lalu duduk kembali.
“Apa yang terjadi di rumah mu?” tanya Ernest penasaran melihat wajah Edgar penuh kekhawatiran.
“Istriku sakit, mungkin siang atau sore ini kita akan pulang.”
“Tidak jadi 2 atau 3 hari lagi?” tanya Bara.
Edgar mengangguk. “Aku sangat mengkhawatirkannya.” Meneguk minumannya lalu berdiri.
“Kau mau kemana?” Tanya Ernest.
“Ke hotel.” Edgar berjalan duluan.
Bara dan Ernest pun beranjak dan menyusul Edgar menuju hotel mereka. Sesampai di kamar hotel, Edgar langsung pergi ke kamar mandi sementara Bara dan Ernest bersantai di balkon menunggu Edgar selesai mandi.
1 jam kemudian, Edgar sedang duduk di atas ranjang sambil memainkan ponsel yang ada di tangannya.
“Jadi kapan kita ke markas Samuel?” tanya Bara yang baru keluar dari kamar mandi.
“Sebentar lagi, karena bawahan Samuel sedang dalam perjalanan kesini.” Jawab Edgar sambil meletakkan ponsel ke dalam sakunya.
Tidak lama kemudian Edgar mendapatkan telpon dari orang yang menjemput mereka sudah tiba di lobby. Mereka langsung keluar dari kamar dan mendatangi orang itu.
Kini Edgar, Bara dan Ernest sudah berada di dalam mobil menuju markas Samuel yang membutuhkan waktu sekitar setengah jam.
Sesampai di markas Big White. Mereka bertiga langsung di bawa ke ruangan Samuel yang letaknya berada di lantai 3.
Klekkk….
Mereka bertiga masuk ke dalam dan sejenak membicarakan bahwa Edgar tidak bisa lebih lama disini karena istrinya sedang sakit.
1 jam kemudian Edgar, Bara dan Ernest keluar dari ruangan bersama Samuel lalu berjalan menuju teras.
“Thank you, sorry we can’t stay here longer (Terimakasih, maaf kami tidak bisa lebih disini).” Ucap Edgar.
“It’s okay, next time we can meet in Jakarta (Tidak apa-apa, lain waktu kita bisa bertemu di Jakarta).” Samuel tersenyum.
“We had so much fun with yesterday’s party (Kami sangat senang dengan pesta kemarin).” Edgar tersenyum. “Maybe later we will celebrate again in Jakarta (Mungkin nanti kita akan merayakan kembali di Jakarta).”
“Of course (Tentu saja).”
“Nice to meet you, we go first (Senang bertemu dengan mu, kami pergi dulu).” Edgar menyodorkan tangannya, di balas oleh Samuel. Begitu juga dengan Bara dan Ernest.
Mereka pun masuk ke dalam mobil yang tadi menjemput mereka. Mobil itu mulai berjalan meninggalkan markas dan kembali ke hotel mereka.
...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...
...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. Terima kasih ...
...Bersambung.......
__ADS_1