
Kini mobil Edgar baru tiba di markas, ia bergegas keluar dari dalam mobil lalu masuk untuk menemui Ernest dan Bara.
Edgar membuka pintu utama markas. “Bara!! Ernest!!” panggilnya berjalan masuk ke dalam sambil berteriak memanggil nama mereka dengan langkah yang cepat.
Terlihat Ernest dan Bara sedang duduk bersantai di ruang tengah menikmati minuman Wine yang ada di tangan mereka masing-masing.
Saat ini Edgar benar-benar emosi karena belum juga mendapatkan informasi terbaru mengenai Aeri.
Edgar menghentikan langkahnya tepat di depan mereka. “Cepat turunkan semua bawahan kalian untuk mencari istriku!!” menghempaskan tubuhnya ke sofa lalu memijat ujung hidungnya.
Bara dan Ernest yang mendengar itu langsung meletakkan gelas kecil mereka di atas meja.
Bara menoleh Edgar yang saat ini duduk di sampingnya. “Memangnya dia kemana? Kenapa kau menyuruh kami menurunkan bawahan?” tanyanya.
“Edgar!! Hari ini kita ada jadwal….” Ucap Ernest terpotong.
“Dia di culik.” Ucap Edgar.
“Siapa yang berani menculiknya?” tanya Bara penasaran.
“Aku rasa pelayan baru itu suruhan orang untuk memantau rumahku dan mengawasi istriku.” Jawab Edgar.
“Sejak kapan kau mempunyai pelayan baru?” tanya Ernest.
Bara dan Ernest sering ke rumah Edgar untuk bersantai ketika mereka bosan berada di markas HEREWOLF.
“Oh iya aku pernah melihat pelayan itu….” Bara memotong ucapannya. “Tapi dari mana kau tahu bahwa pelayan baru itu ada hubungannya dengan istrimu?” sambungnya.
Edgar menghela nafas. “Karena tadi waktu aku ke dapur untuk mencari dia, disaat semua pelayan berkumpul, pelayan baru itu tidak ada padahal hari ini dia tidak ada jadwal libur.” Jelasnya.
“Ada penyusup ternyata, kenapa kau bisa kecolongan seperti ini?” Sahut Ernest.
Edgar mengambil botol Wine lalu meminumnya tanpa menuang di gelas kecil terlebih dahulu.
“Karena…. ARRRRGGGGGHH!” Edgar mengacak-acak rambutnya.
Ernest berdiri. “Sebentar aku akan menelpon bawahan ku.” Beranjak.
“Apa jangan-janagan Mike yang melakukan ini?” ucap Bara tiba-tiba. “Atau mungkin orang lain?” mengambil gelasnya lalu minum.
Tanpa basa basi Edgar mengambil ponsel yang ada di dalam sakunya lalu mencari-cari nomor telpon Mike untuk memastikan bahwa memang Mike yang telah menculik istrinya.
Edgar beranjak dari sofa dan langsung menelpon Mike. Kini posisi Edgar dalam keadaan berdiri di tengah-tengah ruangan.
****
__ADS_1
Di sebuah ruangan yang tidak terlalu gelap, kini Aeri duduk di tengah ruangan itu dengan mata yang masih terpejam. Daritadi rintikan air hujan turun diiringi dengan kilatan petir, tidak lama kemudian Aeri membuka matanya secara perlahan.
klekkkk……
Seseorang membuka pintu ruangan itu dan berjalan masuk ke dalam, Aeri memperhatikan orang itu.
“Siapa dia?” batin Aeri. “Dimana aku sekarang?” berusaha melepaskan ikatan tangannya tetapi tidak bisa.
Tap……. Tap….. Tap……
Suara langkahan terdengar jelas di telinga Aeri, ia begitu ketakutan. Mike berjongkook di hadapannya lalu menyentuh rambut Aeri dengan telunjuknya sambil menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Aeri begitu risih di tatap oleh Mike seperti itu, ia berusaha menghindarkan kepalanya agar tidak di sentuh.
“Kau begitu cantik jika di lihat seperti ini.” Ucap Mike. “Ternyata Edgar pandai juga dalam memilih seorang wanita ya.” Menyeringai.
Mike mendekatkan wajahnya hingga wajah mereka sangat dekat. “Apa kau sudah pernah bermain dengan Edgar?” tanyanya sambil tersenyum iblis.
Aeri hanya diam dan menatap Mike sambil menjauhkan wajahnya dari Mike.
“Aku tidak begitu yakin bahwa Edgar benar-benar mencintai mu.” Ucap Mike. “Apa kau tahu? Edgar menikahi mu itu hanya gara-gara ingin balas dendam kepadamu.”
Sebelumnya Mike sudah mendapatkan informasi tentang kenapa Edgar bisa menikahi Aeri.
Aeri memundurkan wajahnya lalu menunduk.
“Apa kau takut dengan ku? Aku tidak akan bermain kasar denganmu.” Ucapan Mike membuat Aeri merinding.
Mike memegang kedua pipi Aeri lalu mendongakkan wajahnya. “Tidak usah membuang muka seperti itu, apa kau tahu aku ini siapa hah?”
Aeri menggelengkan kepalanya sambil menahan air mata yang ingin terjatuh. “Aku sekarang lagi dimana? Dan orang yang ada di depan ku ini siapa?” batinnya, sambil menggerakkan bola matanya ke samping kiri dan kanan.
“Kau tidak perlu takut kepadaku, karena aku yang akan menemani mu disini.” Mike menyeringai sambil membuka lakban yang menutupi mulut Aeri.
“Lepaskan aku!!” teriak Aeri. “Untuk apa kau menculik ku hah?” bentaknya.
Mike menjambak rambut Aeri lalu mengencangkan jambakan nya. “Tidak usah berteriak seperti itu!! Aku masih mempunyai 2 telinga untuk mendengarkan mu cantik.” Ucapnya. “Jadi lembutkanlah suara mu.” Godanya lalu menaikkan satu alisnya. “Kenapa kau begitu galak sekali kepadaku.”
“Lepaskan aku!!” teriak Aeri dengan kencang.
Mike menjambak rambut Aeri lalu mendongakkan kepalanya. “Dengar ya!! Tidak akan ada yang bisa mendengar teriakan mu disini.”
Aeri menatap tajam. “Apa kau gila hah?” teriaknya lagi. “Kenapa kau melakukan ini kepadaku? Memangnya kau siapa?” bentaknya.
__ADS_1
Plaakkkkk……..
Tamparan keras di wajah Aeri yang di berikan oleh Mike membuat hidungnya sedikit mengeluarkan darah.
Mike menudingkan jari telunjuk di dahi Aeri, “Tidak usah berteriak seperti itu bodoh!! Aku tidak tuli!” mencekik leher Aeri. "Ternyata kau berani juga ya."
Aeri menggerakkan kepalanya agar tangan Mike terlepas dari lehernya.
Mike menaikkan satu alisnya. “Apa kau ingin mati sekarang?” menggoyangkan kepala Aeri dengan kasar. “Aku tidak akan melepaskan mu.” Tersenyum. “Kau belum makan kan?” tanya Mike. “Sepertinya kau kelaparan, apa kau mau makan?”
Aeri menggelengkan kepalanya.
Mike mengambil pistol yang ada di jaketnya dengan tangan kanan lalu menodongkan pistol itu di dahi Aeri. Sementara tangan kirinya yang masih mencekik leher Aeri dengan kencang. “Jangan macam-macam kepadaku, aku bisa saja langsung membunuh mu dan suami mu itu tidak akan mendapatkan mayat mu.” Ancamnya.
Aeri menggeleng-geleng sambil mengeluarkan air mata karena cekikkan Mike begitu menyiksanya.
Mike melepaskan tangan dari leher Aeri lalu menyentuh bibir Aeri dengan jempolnya. “Sepertinya bibir mu ini belum pernah di coba sama Edgar.” Menyeringai sambil menatap bibir Aeri yang mungil dan halus. “Karena bibir mu ni masih sangat indah.” Mengusap bibir Aeri dengan jempolnya setelah itu Mike mendekatkan bibirnya. “Apa aku boleh mencobanya sekarang?” godanya sambil meletakkan pistol ke dalam jaketnya.
Dengan perlahan Mike mendekatkan lagi wajahnya, sehingga hembusan nafas Aeri terasa oleh Mike. Kini posisi wajah mereka sangat dekat, Aeri berusaha menghindar.
Mike menatap Aeri. “Jangan terlalu tegang.” Tersenyum. "Aku tidak akan bermain kasar jika kau tidak melawan ku!!!"
Aeri menggelengkan kepalanya dengan tatapan dendam kepada Mike.
"Mau apa dia? Apa yang ingin dia lakukan kepadaku?" batin Aeri.
Mike menyentuh wajah Aeri dengan telunjuk kanannya sambil menyeringai. "Kau begitu menggoda, bagaimana bisa aku mendiamkan wanita seperti mu." Menaikkan satu alisnya. "Aku sudah tidak bisa menahannya......."
Ketika Mike ingin melanjutkan aksinya, tiba-tiba ponsel yang ada di dalam sakunya bergetar.
Dreettt…. Dreettttt…. Dreettttt…..
“Sial!!” Mike berdiri lalu mengambil ponsel yang ada di dalam saku. Terlihat ada nomor yang tidak di kenal menelpon. “Siapa yang menelpon ku?” gumamnya sambil melihat layar ponsel. “Menganggu saja.”
“Edgar aku takut.” Aeri bergumam dalam hati diiringi tetesan air mata membasahi pipinya.
Mike berjongkok di hadapan Aeri lalu menyentuh bibir Aeri dengan jari telunjuknya. “Tunggu aku! Setelah ini kini akan bersenang-senang.” Berdiri lalu beranjak pergi keluar dari ruangan gelap itu.
“Edgar tolong aku. Kamu dimana?” lagi dan lagi Aeri meneteskan air matanya sambil menatap ruangan yang sedikit gelap itu.
...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan banyak kekurangan...
...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini dengan cara like, vote, gift dan favorit. Terimakasih...
__ADS_1
...Bersambung..........