Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Mendadak pulang


__ADS_3

Pagi ini Aeri sudah bangun ia sedang bersantai di balkon kamar untuk menghirup udara segar, beberapa menit sudah ia bersantai lalu masuk kembali ke dalam. Sebelum ia pergi ke kamar mandi, terlebih dahulu ia mengambil alat tes kehamilan yang di letakkan di atas nakas samping lampu tidur.


“Semoga saja aku beneran hamil, Edgar pasti senang jika itu beneran terjadi.” Gumamnya sambil berjalan ke arah kamar mandi.


Aeri sedikit ragu untuk menantikan hasil dari tes alat kehamilan yang kemarin di kasih oleh bi Ratih kepadanya.


Saat ini Aeri hanya mondar mandi di dalam kamar mandi, padahal tidak menunggu waktu lama hasilnya sudah keluar. Tadi malam ia sudah memperlajari bagaimana menggunakan alat tes kehamilan dengan benar dan juga yang lainnya.


Beberapa menit kemudian, Aeri pun memberanikan diri untuk mengangkat hasil tesnya dan melihat hasilnya.


“Semoga.” Ucapnya sambil melihat ke arah tespek itu. Ia sangat berharap bisa memberikan keturunan dari rahimnya untuk sang suami tercinta.


Dilihatnya dua buah garis merah yang masih terlihat samar-samar disana, sehingga membuat Aeri meneteskan air matanya, ia langsung berjongkok lemas setelah melihat alat itu.


“Aku ha….mil?” gumam Aeri lirih dan kembali melihat alat itu untuk memastikan bahwa beneran hamil.


Aeri berdiri lalu berjalan keluar kamar dan meletakkan alat itu di atas nakas. Sejenak ia duduk lalu berbaring karena masih tidak menyangka bahwa beneram hamil.


Siang ini Aeri sedang berada di dapur untuk membuat minuman yang segar. Terlihat beberapa pelayan yang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Kepala pelayan berjalan mendekati Aeri. “Maaf Nona.” Ucapnya, membuat Aeri menoleh. “Bagaimana keadaan Nona? Apa Nona masih mual dan muntah?” Tanyanya, karean masih khawatir dengan kondisi Aeri.


“Sudah mendingan kok.” Aeri tersenyum.


“Syukurlah Non.” Tersenyum. “Siang ini Nona ingin menu apa?” tanya kepala pelayan agar Aeri berselera makan.


Aeri berpikir sejenak. “Aku ingin makan mie ayam.” Pintanya.


“Mie ayam? Sejak kapan Nona ingin makan mie ayam?” tanya kepala pelayan dengan heran.


“Hari ini.” Jawab Aeri tersenyum.


“Saya harus lapor dulu dengan Tuan Edgar, takutnya Tuan tidak mengizinkan Nona.”


“Beli saja, Edgar menjadi urusan saya.”


Kepala pelayan mengangguk lalu berjalan keluar dapur untuk membelikan mie ayam yang diinginkan Aeri.


Bi Ratih berjalan mendekati Aeri berselisihan dengan kepala pelayan yang berjalan keluar.


“Siang Nona.” Ucapnya sambil tersenyum dan berdiri di samping Aeri. “Maaf sebelumnya, apa sudah Nona tes dengan alat itu?” Tanyanya penasaran.


“Sudah bi.”


“Maaf, apa hasilnya Non kalau saya boleh tahu?” Bi Ratih tersenyum, ia tidak sabar menunggu jawaban dari Aeri.


Aeri mendekati bi Ratih. “Positif.” Bisiknya lalu nyengir.


“Wah benarkah Non? Akhirnya terbayarkan penantian yang selama ini Nona dan Tuan inginkan.” Girangnya.


“Bibi jangan kencang-kencang ngomongnya, yang tahu tentang ini cuman bibi doang.” Bisik Aeri.


“Maaf Nona saya reflek, nanti jangan lupa pergi ke dokter kandungan ya untuk di periksa.”


“Dokter kandungan?”


“Iya Non, kita harus memeriksanya apakah semuanya baik-baik saja.” Jelas bi Ratih.

__ADS_1


Aeri mengangguk sambil tersenyum. “Baik bi, aku pergi ke kamar dulu ya.” Berjalan meninggalkan dapur.


Tidak lama kemudian kepala pelayan masuk ke dapur sambil membawa 1 bungkus mie ayam lalu menuangkan di mangkok.


“Mie ayam untuk siapa pak?” tanya bi Ratih penasaran ketika melihat kepala pelayan menuang mie ayam ke dalam mangkok.


“Untuk Nona Aeri.” Jawabnya.


Bi Ratih melebarkan matanya.


“Kenapa? Apa kau mau juga? Beli di depan.” Ucap kepala pelayan lalu berjalan keluar menuju kamar Aeri.


“Siapa juga yang mau.” Gumam bi Ratih. “Sejak kapan Nona makan mie ayam? Hah? Jangan-jangan Nona lagi mengidam?” Nyengir lalu melanjutkan pekerjaannya.


Tock….. Tock….. Tok….


Kepala pelayan mengetuk pintu kamar Aeri, tidak lama kemudian Aeri membuka pintunya.


“Ini Non mie ayam yang Nona mau.” Menyerahkan kepada Aeri.


Aeri meraihnya. “Terima kasih pak.” Tersenyum.


“Saya permisi dulu Non.” Kepala pelayan beranjak pergi, sementara Aeri masuk kembali ke dalam kamar sambil membawa mie ayam yang ada di mangkok.


“Aromanya enak.” Gumam Aeri lalu duduk di sofa dan meletakkan mangkook di atas meja.


Aeri mulai memakan mie ayam itu, terlihat dari raut wajahnya bahwa ia sangat menyukainya hingga tidak terasa sudah hampir habis.


Ketika Aeri ingin memasukkan suapan terakhir ke dalam mulut, tiba-tiba perutnya terasa mual. Ia langsung pergi ke kamar mandi.


Huekkkk… Huekkkk…. Huekkkk


**


Sore hari di Singapura dengan cuaca yang cukup bagus, jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Edgar, Bara dan Ernest baru saja selesai membereskan barang mereka dan siap berangkat menuju bandara untuk kembali ke Indonesia.


Saat ini mereka bertiga sudah berada di ruang tunggu Changi Airport untuk menunggu jadwal keberangkatan mereka sekitar 15 menit.


Edgar meraih ponselnya lalu menelpon Aeri. “Sore sayang.” Sapanya kepada Aeri yang baru saja mengangkat telponnya.


“Iya sayang.” Sahut Aeri.


“Sore ini aku akan pulang ke Indonesia.” Ucap Egdar.


Aeri melebarkan matanya. “Hah? Kamu sudah berada di bandara?”


“Iya sayang, sebentar lagi aku akan masuk ke dalam pesawat.” Ucapnya.


“Bukannya kamu bilang sekitar 2 atau 3 hari lagi disana, kok tiba-tiba pulang.” Aeri bingung.


“Iya, karena kamu lagi sakit makanya aku memutuskan untuk pulang lebih cepat. Kemarin kepala pelayan menghubungi ku dan memberitahu bahwa kamu sedang sakit. Kenapa kamu tidak bilang kepadaku sayang?” Tanya Edgar.


“Hah bukan begitu, aku tidak mau mengganggu pekerjaan mu sayang.” Jawab Aeri sesaat bibirnya tersenyum karena mengingat tes kehamilan.


“Argh jangan begitu, aku tidak suka sayang. Kamu sama sekali tidak menganggu ku, aku tidak mau ini terjadi lagi.” Kesal Edgar.


“Iya, maaf ya sayang.”

__ADS_1


“Jangan di ulang lagi, aku sangat mengkhawatirkan mu.” Ucap Edgar. “Nanti lagi ya, dah sayang….. Love you mmuuaahhhh.” Edgar mematikan telpon.


“Ternyata begini ya kalau Edgar dengan istrinya.” Ucap Bara.


“Iya seperti anak manja.” Ledek Ernest.


Edgar menatap mereka dengan tajam. Tiba-tiba terdengar pengumuman boarding pesawat yang akan mereka naiki, mereka segera beranjak dan menuju gerbang C2.


“Pramugari yang disana cantik.” Bisik Ernest kepada Bara.


“Ah kau ini.” Kesal Bara.


Edgar mengela nafasnya. “Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya.” Batinnya.


Selama penerbangan mereka hanya tidur dan juga mendengar musik. Tidak terasa pesawatnya sudah mendekati bandara Seokarno Hatta.


Mereka baru saja keluar dari pesawat dan segera menuju tempat penjemputan yang dimana para bawahan mereka sudah menunggu disana.


Mobil mereka pun sudah meninggalkan bandara lalu ke markas. Sesampai di markas, sejenak Edgar beristihat.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Edgar meraih jaket yang didalamnya ada kunci mobil.


Edgar berjalan keluar dari kamar menuju ruang tengah, terlihat Bara dan Ernest sedang bersantai memakan pizza yang ada di tangan mereka.


“Apa kau mau pulang?” tanya Ernest sambil meraih gelas lalu meminumnya.


Edgar mengangguk.


“Makan ini dulu, tadi kami membeli 2 kotak pizza.”


“Kalian saja yang makan, aku mau langsung pulang.” Edgar beranjak pergi keluar markas.


“Memangnya Aeri sedang sakit apa?” Tanya Ernest.


“Kenapa kau bertanya pada ku? Aku bukan suaminya.” Sahut Bara lalu menuangkan Wine ke dalam gelas kecilnya.


Ernest mengangguk. “Iya juga.”


**


Saat ini di kediaman Edgar Dale Nichols, beberapa pelayan masih berada di dapur dan ada juga yang sudah kembali ke kamar mereka.


Saat ini Aeri sedang kebingungan untuk memberi kejutan kepada Edgar tentang kehamilannya itu.


Tok… Tok… Tok…


Aeri mendengar ketukan pintu, ia segera membukanya.


“Saya punya kotak kecil ini.” Bi Ratih menyerahkan kotak kecil. “Nanti letakkan saja alat itu ke dalam sana.”


Aeri meraih kotak itu lalu mengangguk. “Terimakasih ya bi.”


Bi Ratih kembali ke dapur dan Aeri masuk ke dalam kamarnya sambil membawa kotak itu lalu duduk di atas ranjang dekat dengan nakas.


Aeri meraih alat tes kehamilan lalu meletakkan ke dalam kotak itu. “Aku tidak sabar memberi kabar ini kepadanya.” Gumam Aeri sambil tersenyum. “Dia pasti sangat senang.” Mengelus perutnya.


...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...

__ADS_1


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. Terima kasih ...


...Bersambung…....


__ADS_2