
Edgar melanjutkan lagi langkahnya untuk melihat-lihat apa saja yang ada di sana, sementara Aeri hanya mengikutinya.
Edgar melihat ada sebuah buket yang berisi coklat manisan berbentuk love, ia pun berjalan ke arah sana dan meraihnya.
“Untuk apa dia mengambil buket itu?” batin Aeri.
“Ini untuk kamu.” Edgar menyerahkan buket itu kepada Aeri.
“Hah?”
Edgar menaikkan satu alisnya, Aeri langsung mengambil buket itu dari tangan Edgar.
Pegawai toko 2 berjalan ke arah mereka. “Ini Tuan, saya sudah memilihkan yang terbaik.” Menyerahkan paper bag kepada Edgar.
Edgar mengambil paper bag dan menyerahkan black card. “Sekalian sama yang itu.” Menunjuk buket yang ada di tangan Aeri.
Pegawai toko 2 mengambil black card. “Baik Tuan.” Beranjak pergi.
“Terimakasih buketnya.” Ucap Aeri.
“Sepertinya dia tahu kalau aku sangat menyukai manisan.” Aeri bergumam dalam hati sambil tersenyum malu. “Dia tidak terlalu buruk.”
Aeri menatap paper bag yang ada di tangan Edgar, ia segera mengambil paper bag itu. “Biar aku saja yang membawanya.”
“Tidak.” Edgar menolaknya.
Hingga pegawai toko 2 pun kembali dan menyerahkan black card kepada Edgar. Setelah itu Edgar dan Aeri pun keluar dan masuk kembali ke dalam mobilnya.
Mobil mereka sudah meninggalkan tempat ATK dan mulai memasuki jalanan kota.
“Apa kau ingin makan sesuatu?” tanya Edgar dengan pandangan yang lurus ke depan.
“Makan? Hm aku ingin makan Bulgogi.”
Edgar menoleh Aeri. “Bulgogi?”
Aeri mengangguk. “Tapi aku tidak ingin di restoran yang mahal. Kita makan disana saja.” Menunjuk restoran biasa di pinggir jalan.
Edgar melihat ke arah restoran yang di tunjuk Aeri. “Disana?” menatap Aeri kembali.
“Iya. Disana Bulgogi nya sangat enak.”
Edgar langsung menghidupkan lampu sen kanan dan segera memarkirkan mobilnya.
Mereka berdua segera keluar dari dalam mobil dan masuk ke dalam restoran yang biasa itu, kini posisi duduk mereka bersebelahan.
Mereka berdua sudah memesan makanan. Tidak menunggu waktu lama pesanan mereka berdua pun datang, Aeri memesan Bulgogi dan juga minuman dingin, sementara Edgar hanya memesan minuman dingin bersoda.
Aeri menoleh Edgar. “Apa kau hanya memesan minuman dingin?”
Edgar mengangguk.
“Kenapa kau tidak memesan makanan? Ini makanannya sangat enak.” Ucap Aeri.
“Tidak, kau saja yang makan.”
Aeri mengambil sendok dan garpu. “Apa kau mau mencoba makanan ku?”
Edgar menggelengkan kepalanya.
“Sedikit saja, ini sangat enak.” Menyodorkan daging ke mulut Edgar sambil tersenyum.
Dengan terpaksa Edgar membuka mulutnya lalu mengunyah. Aeri tersenyum dan melanjutkan makan.
Dretttt…. Dretttt…. Dretttt……
__ADS_1
Ponsel Edgar bergetar, ia segera mengambil ponsel dari dalam sakunya dan melihat siapa yang menelponnya. Tertera nama Ernest di layar ponselnya.
“Untuk apa dia menelpon ku?” gumamnya lalu mengangkat telpon itu.
“Ada apa?” tanya Edgar kepada Ernest yang berada di seberang telpon.
“Kau lagi dimana?” tanya Ernest.
“Di restoran, memangnya kenapa?”
“Tadi aku keluar dari kawasan markas, ada melihat seorang pria menggunakan sepeda motor di seberang jalan.
“Motor?” Edgar bingung. Tiba-tiba ia teringat mobil hitam yang pernah berada di seberang jalan. “Apa aku ada melihat mobil hitam?”
“Tidak ada, hanya ada sebuah motor.” Jawab Ernest. “Ketika orang itu menyadari aku melihatnya, ia langsung saja pergi sambil melihat ke arah ku.” Jelasnya.
“Oh oke.” Edgar mematikan telpon.
“Motor siapa itu? lalu mobil hitam?” batin Edgar bertanya-tanya.
“Siapa yang menelpon mu?” tanya Aeri memecahkan lamunan Edgar.
“Ernest.” Edgar memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku. “Apa kau masih lama makannya?”
Aeri menggeleng. “Sebentar lagi selesai.” Mengambil gelas lalu meminumnya hingga habis
Tidak lama kemudian Aeri sudah selesai makan Bulgogi dan Edgar segera membayarnya lalu pergi dari restoran itu.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil dan memasang seat belt masing-masing.
“Apa kau sangat menyukai Bulgogi?” tanya Edgar.
Aeri mengangguk. “Bulgogi adalah salah satu makanan kesukaan ku juga.” Jawabnya.
Edgar menjalankan mobilnya menuju rumah mereka.
Edgar membunyikan klakson mobilnya agar Security segera membuka gerbang rumahnya. Security yang mendengar suara klakson langsung saja membuka gerbang yang tinggi menjulang ke atas itu.
Sudah terbuka gerbangnya. Ketika Edgar ingin menjalankan mobilnya untuk masuk ke dalam, tiba-tiba pandangannya terfokus pada mobil hitam yang sebelumnya pernah ia lihat di sebrang jalan markas, sejenak Edgar mengamati mobil itu.
“Mobil itu lagi?” batin Edgar. “Siapa dia?” menatap tajam ke arah mobil hitam. “Apa dia mengikuti ku?”
Aeri menoleh Edgar. “Kenapa? Memangnya ada siapa?” tanyanya bingung.
Dengan cepat Edgar mengalihkan pandangannya lurus ke depan. “Hah? Tidak ada.”
Aeri celingak-celinguk melihat ke arah kaca mobil yang ada di samping Edgar.
Edgar menatap Aeri. “Apa yang kau lihat?”
Aeri menggelengkan kepalanya, sejenak pandangannya ke arah mobil hitam yang mulai pergi dari tempatnya lalu mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
“Tidak ada siapa-siapa, kenapa dia seperti itu?” batin Aeri.
Edgar menjalankan mobilnya untuk masuk ke dalam sambil menoleh ke samping, sudah tidak terlihat mobil hitam itu. “Ada maksud apa dia?” bergumam dalam hati.
Mobil Edgar sudah masuk ke dalam lalu berhenti di depan Security yang sedang berdiri. Edgar menurunkan kaca mobilnya. “Suruh semua keamanan untuk memeriksa seluruh sudut rumah sekarang juga!” perintahnya.
Security 2 mengangguk. “Baik Tuan.”
Edgar menaikkan kembali kaca mobilnya dan menjalankan mobilnya ke teras rumah.
Mobil Edgar sudah berada di teras rumah. Edgar dan Aeri keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam terlihat beberapa Bodyguard yang berjaga.
Edgar berjalan mendekati BG 1 yang berdiri dekat dengan ruang tamu. “Suruh yang lain untuk berjaga lebih ketat lagi. Pastikan semuanya aman dan jangan sampai ada yang lengah!” perintahnya.
__ADS_1
“Baik Bos.”
Edgar melanjutkan langkahnya dan mulai menaiki anak tangga.
“Memangnya ada apa?” batin Aeri bingung sambil mengikuti langkah Edgar.
klekkkk…….
Mereka berdua sudah masuk kamar, Edgar menutup kembali pintu kamarnya itu dan berjalan duluan masuk ke dalam.
“Kenapa kau selalu menyuruh orang-orang yang bertubuh besar itu berjaga di rumah ini?” Aeri memberanikan diri untuk bertanya soal itu, karena ia di buat penasaran. “Memangnya ada apa? Apa kau ada ma……..” Ucapnya terpotong.
Edgar menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya menghadap Aeri. “Kau tidak perlu tahu itu!” Edgar tersenyum. “Kau yang duluan bersih-bersih, aku ingin bersantai dulu.” Ucap Edgar berjalan menuju balkon kamar.
“Kenapa dia tidak mengatakan apapun kepadaku? Ah itu tidak penting……” Aeri berjalan ke arah lemari bajunya untuk mengambil baju setelah itu masuk ke dalam kamar mandi.
Saat ini Aeri sedang berendam di bathtub sambil memijat kepalanya. “Sungguh kepala ku sangat sakit.” Gumamnya. “Edgar ada masalah apa? Apa dia sedang dalam bahaya?”
Aeri pun melanjutkan ritual mandinya.
**
Edgar sedang duduk di balkon kamarnya dengan satu kaki yang di angkat pandangan ke arah langit menatap awan yang sedikit mendung.
Dretttt…. Dretttt….. Drettttt…..
Ponsel Edgar yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar, ia segera mengambilnya dan melihat siapa yang menelponnya. Terlihat nama Security 1 di layar ponsel, ia pun mengangkat telpon.
“Sudah kami periksa ke semua sudut, tetapi tidak ada apa-apa Tuan.” Ucap Security 1 yang berada di seberang telpon kepada Edgar. “Semuanya aman dan kami juga sudah memeriksa monitor.”
“Oke, kalian tetap harus berjaga dan tidak boleh lengah.”
“Baik Tuan.”
Edgar mematikan telpon lalu meletakkan di atas meja.
“Mobil siapa itu? Kenapa mobil itu ada di dekat rumahku?” gumam Edgar. “Semalam di markas dan sekarang?” Edgar mengacak-acak rambutnya.
Edgar mengambil kembali ponselnya untuk menghubungi Ernest.
“Ada apa?” tanya Ernest.
“Mobil hitam yang ku maksud itu ada di dekat rumah ku.” Ucap Edgar.
Ernest yang mendengar itu melebarkan matanya. Bara yang sedang duduk di sampingnya pun bingung melihat ekspresi Ernest. “Apa mobil hitam yang semalam di seberang jalan itu…….” Terpotong.
“Mobil hitam?” Bara bingung.
“Ya! Ku rasa mobil itu mengikuti ku.” Edgar beranjak dari kursi lalu berjalan mendekati pagar balkon untuk melihat suasana yang ada di bawah.
“Untuk apa mobil itu mengikuti mu? Kau harus waspada, suruh keamanan segera cek semua sudut rumah! Siapa tahu ada penyusup yang masuk ke dalam rumah mu.” Ernest sedikit khawatir.
“Sudah, aku baru saja mendapat laporan dari keamanan bahwa memang tidak ada siapa-siapa yang masuk ke dalam rumah ini! Bahkan di monitor pun juga tidak ada apa-apa.” Jelas Edgar kepada Ernest.
“Ada yang aneh. Siapa yang berada di dalam mobil hitam itu.” Ernest penasaran, membuat Bara ingin merebut ponsel yang ada di tangannya tetapi tidak bisa. Alhasil Bara beranjak dari ruang tengah menuju dapur untuk mengambil minuman bersoda dan duduk kembali di samping Ernest.
“Jaga markas, mungkin beberapa hari aku tidak bisa kesana.” Perintah Edgar.
“Kalau masalah markas, kau tenang saja. Aku dan Bara yang akan menjaganya.”
“Oke. Jika kau menemukan sesuatu segera hubungi ku.” Edgar mematikan telponnya dan memasukkan ke dalam saku.
“Sepertinya ada sesuatu.” Gumamnya.
...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...
__ADS_1
...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini dengan cara like, vote, gift dan favorit. Terimakasih ...
...Bersambung………...