Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Kotak kecil


__ADS_3

Seorang wanita sedang duduk di balkon dengan pandangan yang lurus ke depan, terlihat ada kilatan petir. Sejenak menghirup udara malam yang sejuk, tiba-tiba matanya melihat ke arah gerbang rumah terbuka, sebuah mobil masuk ke dalam. Wanita itu bergegas beranjak dari balkon kamar tidak lupa menutup pintunya lalu ia mematikan lampu kamar.


Aeri sudah duduk di atas ranjang dengan perasaan yang gugup, karena Edgar sudah datang dan masih berada di bawah.


“Aku jadi tidak sabar memberikannya kejutan ini.” Aeri memegang kotak kecil yang berisi tes kehamilan.


Jgeerrr….


Terdengar suara hujan yang sangat deras diiringi gemuruh petir, membuat Aeri sedikit ketakutan karena ia begitu takut ketika mendengar suara petir yang sangat nyaring.


Klekkk……


Edgar membuka pintu kamar dan berjalan masuk ke dalam, kamar yang sangat gelap hanya dihiasi kilatan petir.


“Sayang? Kok kamarnya gelap?” tanya Edgar. “Apa kamu tidak takut?”


Aeri memang sangat takut berada di dalam ruangan yang sangat gelap. Edgar menyalakan lampu kamar, terlihat Aeri sedang duduk di atas kasur dengan wajah yang tersenyum.


“Kamu ngapain kayagitu? Kamu mengangetkan ku saja.”


“Stop! Jangan kesini.” Perintah Aeri.


Edgar melebarkan matanya dan bingung.


“Kamu mandi dulu.”


“Hahaha baiklah sayang.” Edgar berjalan menuju kamar mandi.


Aeri masih duduk dengan santai di atas ranjang menunggu Edgar selesai mandi. Setengah jam kemudian, Edgar keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekati tempat penyimpanan parfum lalu menyemptorkan ke leher dan baju. Setelah itu, Edgar mendekati ranjang dan duduk di samping Aeri.


Huekkk…. Huek…. Huekkk….


Tiba-tiba Aeri mual setelah mencium aroma parfum milik Edgar. Aeri langsung beranjak dari ranjang dan masuk ke dalam kamar mandi.


“Apa dia masih sakit?” Edgar berjalan menyusul Aeri masuk ke dalam kamar mandi.


“Pergi!” teriak Aeri saat melihat Edgar juga masuk ke dalam sana. “Ganti pakaian mu, jangan memakai parfum.”


Edgar bingung. “Kenapa? Bukankah kamu selalu menyukai aroma parfum ku?”


“Ganti sayang.” Pinta Aeri.


Huekkk… Huekkk… Huekkk….


Dengan wajah yang sangat pasrah, Egdar terpaksa mengganti pakaian dan malam ini tidur tidak memakai parfum. Terdengar suara Aeri yang masih muntah di dalam kamar mandi, beberapa menit kemudian Aeri keluar dan duduk di samping Edgar.


Edgar meletakkan telapak tangan di dahi Aeri lalu membolak balikkannya. “Kamu kenapa? Masih sakit ya? Apa kamu sudah pergi ke dokter?”


Aeri melepaskan tangan Edgar sambil menggelengkan kepalanya.


“Sayang, kenapa kamu…..”


“Diamlah!!” Aeri mengambil kotak kecil lalu menyerahkan kepada Edgar. “Ini kado untuk mu.”


Edgar melebarkan matanya. “Dalam rangka apa kamu memberikan ku kado?”


Aeri diam tidak menjawab apapun.


“Kamu mau sesuatu ya?” goda Edgar kepada Aeri.


“Tidak.” Aeri membantah ucapan Edgar.


Edgar mulai membuka kotak kecil itu, tetapi tidak jadi karena Aeri menahan tangannya.

__ADS_1


“Pasti kamu sangat senang dengan hadiahnya.” Aeri tersenyum lalu melepaskan tangannya.


Edgar semakin penasaran dengan hadiah yang ada di dalam kotak kecil itu, ia langsung membukanya. Seketika ia terdiam sejenak lalu mengambil sesuatu dari dalam kotak itu.


“Bukannya ini alat tes kehamilan?” Edgar menatap Aeri dengan tangan yang memegang benda kecil itu.


Aeri mengangguk.


Edgar menatap benda yang ada di tangannya itu lalu mengamati hasilnya.


“Sayang?” Edgar kembali menatap Aeri.


“Iya?” sahutnya tersenyum.


“Kamu hamil?” tanyanya setelah membaca keterangan dari tes kehamilan itu.


Dengan penuh semangat Aeri mengangguk.


Edgar langsung memeluk Aeri dengan erat. “Terima kasih sayang. Sungguh aku masih belum percaya.” Melepaksan pelukan.


“Ini beneran kan sayang?” tanya Edgar untuk memastikan lagi dengan mata yang melihat lagi ke arah tes kehamilan itu.


Aeri mengelus rambut Edgar. “Iya sayang beneran, aku tidak berbohong.”


“Terima kasih sayang.” Edgar mengelus perut Aeri dengan pelan. “Hallo, ini Daddy.”


“Hahaha bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu?”


“Benarkan, walaupun perut kamu belum terlihat membesar tapi anak kita sudah berada di sana.” Edgar mencium perut Aeri.


Aeri hanya bisa tersenyum, sesekali air matanya menetes membasahi pipi karena ia begitu terharu.


Edgar menatap Aeri lalu mengusap air matanya. “Kamu kenapa menangis sayang? Apa yang membuat mu bersedih?”


“Lalu?”


“Aku menangis karena bahagia, akhirnya bisa memberikan seorang bayi.” Air mata Aeri kembali menetes setelah berbicara seperti itu. “Ini adalah penantian kita.”


Edgar langsung memeluk Aeri sambil mengelus punggung belakangnya. “Sudah ya, jangan menangis lagi.”


Lumayan lama pelukan itu bertahan, sepasang istri yang malam ini sangat berbahagia karena penantian dari mereka berdua akhirnya terwujudkan. Kilatan dan suara petir menjadi saksi kebahagiaan mereka.


“Jadi kamu tadi muntah-muntah karena bawaan dari anak kita?” tanya Edgar.


“Seperti begitu sayang.” Sahut Aeri. “Aku merasa tidak enak saja ketika mencium aroma parfum kamu.”


Edgar terkekeh. “Untuk sementara waktu aku tidak akan memakai parfum dulu, agar kamu tidak muntah-muntah lagi.” Mengelus rambut Aeri.


Aeri mengangguk.


“Apa kamu sudah pergi ke dokter?”


“Belum sayang.”


“Baiklah, besok kita akan pergi ke dokter untuk memeriksa kehamilan kamu.” Ucap Edgar. “Sungguh aku tidak sabar menunggu anak kita lahir.”


“Hahaha bersabarlah sayang, aku pun juga begitu.” Aeri mengelus pipi Edgar. “Akhir-akhir ini aku tidak berselera makan, bawaannya muntah terus.”


“Lalu kamu hari ini makan apa?”


Terlihat wajah Edgar berubah karena khawatir dengan keadaan Aeri yang tidka bisa makan dengan baik.


“Aku tadi menyuruh kepala pelayan membelikan mie ayam yang ada di depan.”

__ADS_1


“Mie ayam?” Edgar bingung. “Bukankah kamu tidak suka mie ayam?”


“Aku memang tidak suka mie ayam, tapi tidak tahu juga tiba-tiba aku mau makan itu.”


Edgar mengelus perut Aeri. “Apakah ini kemauan baby hm?”


“Mungkin saja, tapi setelah makan aku muntah lagi.” Jelas Aeri. “Sungguh aku tidak bisa makan dengan tenang.”


“Hahhaa aku mengerti sayang, nanti besok kita coba berbicara dengan dokter ya.” Mencium kening Aeri.


“Apa kamu besok tidak ada kesibukan?” tanya Aeri.


Edgar menggelengkan kepalanya. “Kalaupun ada, nanti Bara dan Ernest yang akan mengurus semuanya.”


“Jangan sayang.” Tolak Aeri.


“Sayang.” Edgar menyentuh hidung Aeri sekilas lalu mendekatkan wajahnya dan menatap Aeri. “Bagaimana bisa aku membiarkan mu pergi sendirian untuk memeriksa anak kita.”


“Bukan begi….”


Chup…..


Edgar mengecup bibir Aeri. “Apa kamu tidak mau aku temani?”


“Aku tidak mau merepotkan mu dan kamu juga baru pulang dari Singapore kan.”


“Berhentilah berbicara seperti itu, kamu tidak merepotkan ku sama sekali.” Edgar memegang kedua pipi Aeri. “Sungguh aku sangat mencintai kamu dan anak kita.”


Aeri tersenyum.


Edgar membaringkan Aeri dengan pelan ke atas ranjang lalu memasukkan kembali alat tes kehamilan ke dalam kotak.


Jgerrrrr….


Suara petir yang sangat nyaring membuat kamu langsung memeluk Edgar yang masih duduk dengan tangan memegang kotak kecil.


Edgar meletakkan kotak di atas nakas samping ranjang lalu mengajak Aeri untuk berbaring.


“Tenanglah sayang, aku ada disini.” Edgar memeluk Aeri sambil mengelus kepalanya.


Aeri menenggelamkan wajahnya di dada bidang Edgar. “Aku mencintaimu.”


“Aku juga mencintai mu sayang.”


Edgar melepaskan pelukan. “Sudah lama aku tidak bermanja dengan kamu sayang.” Godanya.


Aeri tersenyum malu. “Jangan dulu sayang, aku takut akan membahayakan anak kita.”


“Aku tidak akan mengeluarkannya di dalam.” Goda Edgar lagi.


“Sayang.”


“Iya iya, nanti besok kita tanya dokter.”


Beberapa kali Edgar mengecup bibir Aeri lalu dengan pelan Edgar ********** di balas oleh Aeri. Sejenak mereka melakukan ciuman yang hangat itu.


“Tidurlah sayang.” Ucap Edgar.


Aeri memeluk Edgar dengan mata yang mulai terpejam, begitu juga dengan Edgar. Beberapa menit kemudian, mereka berdua memasuki alam mimpi.


...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa kasih like, vote, dan gift. Terimakasih...

__ADS_1


...Bersambung……....


__ADS_2