
Mobil Edgar sudah memasuki halaman rumah di sambut oleh beberapa Bodyguard yang menunggu kedatangan mereka di teras.
Bodyguard 1 dan Bodyguard 2 berjalan mendekati mobil Edgar untuk membukakan pintu mobil. Mereka berdua pun turun dari mobil, Edgar berjalan duluan masuk ke dalam diikuti Aeri dari belakang.
Kepala pelayan dan beberapa pelayan yang melihat kedatangan mereka pun tersenyum lalu menunduk untuk memberi penghormatan kepada Tuan dan Nyonya mereka yang baru datang.
Klekkkkk…..
Edgar membuka pintu kamar dan Aeri masuk duluan ke dalam, Edgar menutup kembali pintu itu.
“Sayang kamu bersih-bersih duluan ya, aku mau ke balkon dulu.” Ucap Edgar.
“Kamu ngapain ke balkon? Ini sudah malam sayang.” Tanya Aeri.
“Aku hanya ingin bersantai sayang.” Edgar mengelus lengan Aeri. “Segera mandi lah.” Perintahnya lalu mendekatkan wajahnya. “Dan juga wangi.” Tersenyum jahil.
Aeri mendorong tubuh Edgar. “Memangnya aku kemarin-kemarin tidak wangi, jadi……”
Telunjuk Edgar menyentuh bibir Aeri. “Sssuuuttttt…… Tidak usah banyak berbicara, lakukanlah.” Perintahnya. “Oh iya pakai lah baju tidur warna hitam yang pernah aku belikan.” Tersenyum jahil lalu berjalan menuju balkon.
“Kenapa dia tiba-tiba menyuruh ku melakukan itu malam ini?” gumam Aeri berjalan menuju kamar mandi.
Aeri mulai membuka bajunya. “Apa jangan-jangan?” melebarkan matanya. “Ah tidak, itu tidak mungkin.”
**
Saat ini Edgar sedang bersantai di balkon dengan pandangan ke arah langit, cuaca semakin dingin dan hujan yang masih turun.
“Aku merasa bahagia karena sudah menepati janji ku untuk selalu membahagiakannya.” Gumam Edgar.
Setengah jam kemudian, Aeri keluar dari kamar mandi dan juga wangi sesuai yang di minta oleh Edgar. Aeri pun berjalan mendekati ranjang lalu duduk.
Aeri menunduk melihat baju yang saat ini ia kenakan. “Kenapa dia membelikan ku baju seperti ini, sungguh tidak enak karena sangat terbuka.”
Edgar beranjak dari balkon dan menutup pintu. Ia berjalan mendekati aeri. “Kenapa kamu lama sekali sayang?” duduk di samping Aeri.
“Tidak ada, bukankah memang sudah biasa.” Jawab Aeri sambil merapikan rambutnya.
Edgar mengamati Aeri dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Kau terlihat sangat cantik mengenakan baju ini.” Godanya.
“Hah?”
“Aku mandi dulu, kamu jangan keluar kamar.” Edgar berjalan ke arah kamar mandi.
“Siapa juga yang mau keluar kamar.” Gumam Aeri lalu merebahkan tubuhnya. “Aaaaa ini sangat enak.”
Setengah jam lebih Edgar baru keluar dari kamar mandi dengan baju kaos dan celana pendeknya lalu berjalan ke arah ranjang dan membaringkan tubuhnya di samping Aeri.
Edgar memeluk Aeri dari belakang lalu menciumi leher belakangnya.
Aeri berusaha melepaskan pelukan Edgar. “Ish kamu ngapain sayang?”
“Tidak ada, aku sangat suka dengan aroma tubuh kamu.” Ucap Edgar.
Aeri membalikkan badannya menghadap Edgar.
Posisi mereka saat ini saling berhadapan dengan tangan Edgar yang berada di pinggang Aeri.
“Benarkah kamu menyukai aromanya?”
Edgar mengangguk lalu memberikan sebuah kecupan di bibir Aeri.
Aeri melebarkan bola matanya.
“Kenapa?” tanya Edgar. “Apa kamu tidak suka?” menaikkan satu alisnya.
Aeri menggelengkan kepalanya.
Edgar menyentuh hidung Aeri sambil tertawa. “Berarti kamu suka ya?” memberikan kecupan lagi.
__ADS_1
“Bukan begitu.” Aeri menjauhkan bibirnya.
“Tidak usah malu-malu seperti itu sayang, jika suka katakan saja.” Ledek Edgar. “Aku pasti memberikannya padamu.” Godanya.
Pipi Aeri mulai memerah, beberapa kali Aeri memukul dada bidang Edgar.
Edgar menahan tangan Aeri. “Kenapa? Malu? Hahaha tidak usah malu, aku juga menyukainya.” Goda Edgar sambil menyentuh bibir Aeri dengan telunjuknya.
Tidak lama kemudian, Edgar bangun dan merubah posisi menjadi bersandar di ujung ranjang.
“Sayang?” panggilnya.
Aeri menoleh Edgar. “Iya sayang?” .endekati Edgar.
Edgar meraih kepala Aeri dan meletakkan di dada bidangnya sambil mengelus rambut Aeri. “Sayang?”
Aeri mendongakkan kepalanya. “Iya?”
Sejenak Edgar menatap Aeri lalu mengalihkan pandangannya lurus ke depan. “Apa kamu sudah tahu alasan ku menikahi mu waktu itu?” tanyanya sambil mengelus rambut Aeri dan memberikan kecupan di pucuk kepalanya.
Aeri mengalihkan pandangannya lurus ke depan. “Kenapa? Aku tidak salah dan selalu di perlakukan ka…..”
Telunjuk Edgar menyentuh bibir aeri. “Ssssuuutttt…. Awalnya karena kamu selalu mengganggu hidup ku, setiap kali kita bertemu selalu saja kamu membuat masalah kepadaku.”
“Ta…” Lagi dan lagi ucapan Aeri terpotong.
“Diam! Dengarkan dulu.” Edgar mendongakkan kepala Aeri lalu mengecup bibirnya. “Jangan berbicara dulu.”
Aeri mengangguk dan kembali bersandar pada dada bidang Edgar.
“Mungkin bagi kamu alasan aku menikahi mu itu adalah hal yang sangat kejam, benar apa yang kamu katakan bahwa kamu memang tidak bersalah. Aku sebelum kenal dengan kamu memang sangat membenci dan tidak menyukai wanita.” Mulai menjelaskan.
“Kenapa? Apa alasan kamu sangat membenci wanita?” tanya Aeri.
“Waktu dulu, ibu ku berselingkuh dengan pria lain dan meninggalkan ayah ku sendirian, hingga jatuh sakit dan meninggal. Tidak lama setelah ayah ku meninggal, aku mendapat kabar bahwa ibu ku kecelakaan dan tidak bisa di tolong.” Jelasnya. “Itulah kenapa aku sangat membenci wanita.” Sambungnya.
“Niat ku menikahi mu hanya ingin balas dendam, setelah sudah terbalaskan dendam ku maka aku akan meninggalkan mu.” Ucap Edgar sambil mengelus kepala Aeri. “Tapi aku tidak menyangka semuanya berubah.”
“Iya itu benar, ini benar-benar di luar dugaan ku. Jadi tolong maafkan sikap ku yang dulu.”
“Kamu tiba-tiba menculik ku dan menikahi ku tanpa alasan.” Ucap Aeri. “Ku pikir setelah menikah, aku akan bahagia. Tapi…..”
“Maafkan aku, karena dulu aku memang hanya ingin balas dendam.” Sahut Edgar. “Tapi percayalah satu hal kepadaku, saat ini dan seterusnya kamu selalu menjadi orang yang tidak bisa ku lepas.”
“Benarkah?”
“Ya, sungguh…. Apa kamu mau memaafkan ku?”
“Apa kamu nanti akan bersikap kasar lagi kepadaku?”
“Tentu saja tidak. Aku akan berusaha untuk selalu memberikan mu kebahagiaan dan kasih sayang.” Edgar tersenyum. “Mungkin dengan cara itu, aku bisa menebus semua yang ada di masa lalu. Percayalah, setelah ini aku pastikan kamu tidak pernah bersedih lagi.” Memeluk Aeri dengan erat.
Aeri tersenyum dan membalas pelukan Edgar lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Edgar.
“Aku mencintai mu sayang, apa kamu mau memaafkan ku? Izinkan aku menjadi seseorang yang selalu membuat mu tersenyum setiap saat.”
“Aku sudah memaafkan jauh sebelum kamu meminta maaf kepada ku.” Ucap Aeri. “Dan aku juga mencintai mu.” Mengelus dada Edgar.
“Sayang?” panggil Edgar.
“Iya?”
“Bisakah aku meminta sesuatu kepadamu?”
Aeri mendongakkan kepalanya. “Apa?”
Chup…
Edgar mengecup bibir Aeri. “Cintai aku selamanya, tanpa terkecuali.”
Aeri mengangguk dan tersenyum.
Edgar mengecup lagi bibir Aeri lalu tersenyum. “Sayang…. Apa kamu masih ingat dengan janji mu waktu itu?” tanyanya.
__ADS_1
“Janji? Apa aku memiliki janji kepadamu?”
Edgar menyentuh hidung Aeri. “Jangan berpura-pura lupa sayang, aku masih mengingatnya.” Meraih boneka yang ada di samping Aeri lalu mengangkat ke atas.
Aeri menelan ludahnya. “I….itu?”
“Dan aku mau menagih janji itu sekarang.”
“Sekarang? Memangnya hadiah apa yang kamu inginkan?” tanya Aeri.
“Apa kamu mau tahu?” Edgar melepaskan pelukan lalu beranjak menuju pintu dan menguncinya.
Aeri menatap heran. “Kamu mau ngapain?”
Edgar kembali berjalan ke arah ranjang lalu merebahkan tubuhnya di samping Aeri dan menarik selimut hingga dada mereka.
Aeri hanya diam dan melebarkan matanya.
“Mampus.” Batin Aeri.
“Apa kamu masih belum mengerti sayang?” Edgar mendekatkan wajahnya. “Aku ingin bermain dengan mu malam ini sayang.” Bisiknya. “Aku mau sekarang sayang, boleh ya?” T
Tersenyum dan memeluk erat tubuh Aeri.
Aeri hanya diam dengan ekspresi yang masih tidak percaya Edgar meminta itu kepadanya.
Edgar melepaskan pelukan lalu membuka baju kaosnya, terliat dada kekar seorang Edgar Dale Nichols yang begitu mengenyangkan mata.
Aeri merubah posisi membelakangi Edgar.
“Kenapa?” tanya Edgar.
“Tidak ada.” Detak jantung Aeri berdetak kencang.
Perlahan Edgar membalikkan badan Aeri agar menghadapnya.
Tiba-tiba terdengar suara hujan yang sangat deras diiringi kilatan yang masuk ke celah-celah gorden.
Jgerrr…..
Suara petir yang sangat nyaring membuat Aeri terkejut dan langsung memeluk Edgar.
“Kamu takut dengan suara petir ya?” Edgar membalas pelukannya.
“Iya.” Menenggelamkan wajahnya di dada Edgar.
“Tenang sayang, aku ada disini.” Mengelus punggung Aeri. “Berbahagialah bersamaku malam ini.”
Dengan perlahan Edgar berbaring di samping Aeri dan memberikan kecupan di kening lalu melepaskan kecupan itu. Edgar memberikan sentuhan di wajah Aeri yang masih menatapnya dengan gugup menggunakan ujung jari telunjuk yang kini sudah mulai turun ke area dada dan menyentuh salah satu kancing baju Aeri.
“Berbahagialah malam ini sayang, aku akan memberikan seluruh cintaku untuk mu, mulai malam ini dan seterusnya.” Perlahan melepaskan kancing baju satu persatu.
Edgar mulai menciumi leher Aeri dan berpindah ke bibir, Edgar ******* bibirnya dan bertahan beberapa detik. Kini Edgar melepaskan ciumannya lalu menyatukan kencing mereka berdua dan menatap Aeri sambil menghembuskan nafas hangatnya.
“Aku mencintai mu sayang….” Edgar mengecup lagi bibir Aeri.
“Aku juga mencintai mu sayang.” Aeri tersenyum lalu membalas kecupan Edgar.
Edgar mulai ******* bibir Aeri lagi dan memperdalam lumatannya begitu juga dengan Aeri dan berlanjut hingga selesai.
Malam panjang mereka lewati dengan tubuh yang sudah mulai menyentuh, Edgar memperlakukan Aeri sangat halus dalam memanjakan Aeri. Membuat Aeri terlarut dalam kehangatan yang di berikan Edgar.
Suara petir, suara hujan menjadi saksi malam mereka.
...- Maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...
...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. Terima kasih ...
...Bersambung….....
__ADS_1