
Kini sudah 3 Minggu Aeri di rumah setelah keluar dari rumah sakit. Semenjak kejadian yang kemarin, Edgar selalu waspada bahkan ia menyuruh Bodyguard untuk mengawasi Aeri dan mengawal kemana pun Aeri pergi. Selama 3 Minggu itu pula Edgar siaga menjaga Aeri dari mengganti perban yang menempel di bahu belakang, makan, dan perhatian lebih lainnya membuat Aeri merasa sangat nyaman ketika dekat dengannya.
Edgar benar-benar menepati janjinya ingin membahagiakan Aeri. Seorang Edgar Dale Nichols akhirnya luluh dengan wanita yang awalnya bekerja di Coffe Shop itu, siapa yang menyangka Aeri menikah dengan seorang Mafia dan bisa meluluhkan hati seorang Edgar yang di kenal kejam.
**
Dua pasangan suami istri sedang tertidur pulas di bawah selimut tebal mereka, matahari pagi sudah mulai terbit dan cahaya pun mulai memasuki celah jendela kamar mereka. Suara burung bersahutan dari luar, tetesan air hujan dari pohon-pohon berjatuhan karena tadi malam hujan turun membasahi kota itu.
Seorang wanita mulai menggerakkan tubuhnya lalu membuka kedua mata secara perlahan. Dilihatnya pria yang masih tertidur nyenyak di sampingnya itu.
Aeri tersenyum manis ketika melihat wajah tampan Edgar. “Dia begitu tampan.” Gumamnya.
Tidak lama kemudian Aeri merubah posisinya menjadi duduk. “Huaaaa……” Ia mulai beranjak dari kasurnya lalu berjalan ke arah jendela besar untuk membuka semua gorden yang masih tertutup.
Setelah itu Aeri berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
Setengah jam kemudian Aeri selesai, ia langsung berjalan ke balkon kamar untuk menghirup udara segar di pagi hari. Aeri berdiri di dekat pagar balkon sambil melihat-lihat orang yang mulai beraktivitas.
**
Di sisi lain, Edgar mulai membuka matanya karena sinar matahari yang membuatnya silau. “Hua…..” Melihat ke samping, Aeri sudah tidak ada. “Dimana dia?” merentangkan kedua tangannya lalu beranjak, terlihat pintu balkon terbuka. Ia pun berjalan ke arah balkon dengan wajah yang benar-benar baru bangun tidur.
Edgar berjalan mendekati Aeri lalu melingkarkan tangannya di perut Aeri. “Selamat pagi sayang.” Ucapnya.
Aeri tersenyum sambil mengelus kedua tangan kekar yang sedang melingkari perutnya itu. “Selamat pagi juga sayang.”
Edgar meletakkan dagunya di bahu Aeri sebelah kanan sambil menatap lurus ke depan. “Bagaimana keadaan mu sekarang, hm?”
“Ku rasa sudah cukup membaik, karena ketika kamu memeluk ku seperti ini sudah tidak terasa nyeri lagi.” Aeri menyandarkan kepalanya ke belakang. “Apa kamu sudah mandi? Atau kamu baru bangun?”
“Belum, aku baru saja bangun." Mempererat pelukan. "Melihat mu sudah tidak ada di samping, aku langsung mencari mu.” Sahut Edgar.
“Apa kamu mengkhawatirkan ku?”
“Tentu saja. Aku pasti mengkhawatirkan mu, pertanyaan macam apa itu.” Edgar kesal. “Aku tidak mau kejadian kemarin terulang lagi.”
Aeri mengangguk. “Mandi dulu sana.” Menggerakkan tubuhnya agar Edgar melepaskan pelukannya.
Edgar mempererat pelukannya lagi agar Aeri tidak bisa bergerak. “Kalau aku tidak mau bagaimana?”
Aeri melepas paksa kedua tangan Edgar lalu membalikkan badannya dan memegang kedua pipi Edgar. “Cepat mandi lah sayang.” Pinta Aeri sambil tersenyum manis membuat pagi Edgar menjadi salah tingkah karena senyuman di bibirnya.
Edgar menyentuh hidung Aeri. “Apa?” Menaikkan satu alisnya.
“Hah? Mandi?” Aeri bingung.
“Katakan yang tadi.” Pinta Edgar.
“Yang mana?” Aeri memasang wajah yang bingung. “Mandi kan?”
Egdar menggelengkan kepalanya. “Bukan.” Mendekatkan wajahnya. “Yang tadi itu.”
Kini posisi wajah mereka sangat dekat, sejenak Aeri menahan nafasnya ketika Edgar menatapnya dengan tatapan menggoda.
“Sa…Sayang?” Aeri tergagap lalu menggigit bibir bawahnya.
Edgar tersenyum sambil mengeluarkan sedikit suara ketawa. “Iya sayang.” Mengecup bibir Aeri lalu masuk ke dalam kamar.
Pipi Aeri merah merona karena manahan malu dan juga bahagia karena mendapatkan perlakuan itu dari Edgar.
Aeri juga masuk ke dalam kamar tidak lupa menutup kembali pintu balkon. Sebelum Aeri menyiapkan sarapan pagi, terlebih dulu ia merapikan tempat tidur yang masih berantakan.
Beberapa menit kemudian Aeri keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur. Sesampai di dapur ia segera menyiapkan sarapan untuk Edgar. Awalnya Edgar tidak mengizinkannya karena masa pemulihan dan juga kekhawatiran Edgar, tetapi Aeri meyakinkan bahwa ia tidak apa-apa.
__ADS_1
Aeri sudah memberitahu kepada Edgar bahwa ia tidak mau kalau Edgar sarapan atau apapun itu di sediakan oleh pelayan. Karena Aeri ingin menyiapkan itu semua sendiri untuk suami tercinta.
Edgar baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melingkar di pinggangnya. Ia pun berjalan menuju lemari pakaian dan segera memilih pakaian.
Setelah semuanya selesai, Edgar segera keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang kerjanya.
Klekkkk…….
Edgar masuk ke dalam ruang kerja dan duduk di kursi kebesarannya sambil menghidupkan pendingin ruangan. Ia mulai membuka berkas-berkas yang ada di atas meja tentang penjualan senjata ilegalnya.
1 jam kemudian Edgar selesai melihat semua berkas yang ada di atas meja, ia menyandarkan punggungnya ke belakang lalu melihat ke arah luar. Sejenak ia melamun. “Apa aku hari ini mengajaknya jalan-jalan ke mall?” gumamnya.
Tok…. Tok…. Tok…..
Klekkkk…..
Aeri masuk ke dalam berjalan mendekati Edgar, terlihat senyuman manis di bibir Edgar menyambut kedatangan Aeri.
“Ayo sarapan dulu.” Ajak Aeri.
Edgar mengangguk lalu berdiri dan mereka pun keluar dari ruang kerja berjalan menuju dapur.
Kepala pelayan yang daritadi berdiri di dekat meja makan melihat Edgar dan Aeri berjalan ke arah ruang makan, ia langsung menarik kursi untuk mereka.
Kepala pelayan menuangkan air putih ke gelas mereka masing-masing setelah itu berdiri di samping kursi Edgar.
“Ekhem…” Edgar berdehem.
Kepala pelayan mendekati Edgar. “Iya Tuan?”
“Segera siapkan mobil, karena aku dan istri ku ingin pergi.” Perintahnya.
“Baik Tuan.” Kepala pelayan beranjak pergi dari ruang makan.
“Memangnya mau kemana?” tanya Aeri sambil meletakkan piring yang berisi sayuran juga nasi di depan Edgar.
“Benarkah?” Aeri mengambil gelas lalu meminumnya.
Edgar mengangguk.
Mereka berdua pun menikmati sarapan pagi hingga selesai.
“Segera bersiaplah, aku tunggu di ruang tamu.” Perintah Edgar lalu beranjak pergi.
Aeri segera pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap. Hampir 1 jam Aeri baru saja selesai, ia langsung berjalan keluar dan mendatangi Edgar ke ruang tamu.
Edgar berdiri setelah melihat Aeri berjalan ke arahnya. “Kenapa kamu lama sekali sayang?”
“Iya maaf sayang.”
Edgar meraih tangan Aeri dan berjalan ke teras rumah. Terlihat sudah ada mobil mewah terparkir disana.
Bodyguard langsung membukakan pintu untuk mereka berdua. Kini mereka sudah berada di dalam mobil.
Edgar menurunkan kaca mobil membuat Bodyguard mendekatinya. “Ikuti aku!!” Perintah Edgar. Ia kembali menaikkan kaca mobil setelah Bodyguard memberikan anggukan.
Mobil mewah berwarna coklat tua itu mulai berjalan meninggalkan halaman rumah, diikuti 1 mobil Bodyguard dari belakang.
Sesampai di Mall mereka berempat langsung masuk dan mulai berbelanja, dari toko ke toko. 1 jam mereka keliling-keliling dan hampir penuh belanjaan yang ada di tangan kedua Bodyguard itu.
“Apa kamu ingin ke salon?” tanya Edgar.
“Hah? Tidak tidak, kalau salon pasti lama.” Tolak Aeri, karena tidak mau membuat Edgar menunggunya.
“Tidak apa-apa sayang. Aku akan menunggu mu di dalam.” Edgar tersenyum.
__ADS_1
Bodyguard 1 membuka pintu salon, Edgar segera menarik tangan Aeri untuk masuk ke dalam. Setelah itu, ia langsung membayar perawatan salon Aeri dengan harga yang tidak murah. Selesai pembayaran Edgar dan kedua Bodyguard duduk di dalam menunggu Aeri selesai.
Lumayan lama mereka bertiga menunggu, akhirnya Aeri pun selesai.
“Ayo kita pulang.” Ajak Aeri.
Edgar tersenyum lalu merangkul Aeri. “Apa kamu menyukainya?”
Aeri mengangguk tersenyum. “Kepala ku terasa ringan.” Tertawa. Edgar juga ikut tertawa.
Mereka berjalan keluar dari salon menuju parkiran mobil.
Kini mobil Edgar sudah berada di jalanan kota, terlihat banyaknya mobil-mobil mewah berlalu-lalang melewati mereka.
“Aku ingin membeli mobil lagi.” Ucap Edgar.
Aeri menoleh. “Untuk apa? Bukankah mobil kamu sudah banyak.”
“Tapi ada keluaran terbaru sayang.”
“Tidak, lebih baik kamu membeli yang lain.” Jawab Aeri.
Edgar berpikir sejenak. “Apa aku membeli vespa saja? Jadi kita bisa keliling sore dengan vespa.” Tersenyum.
Aeri menghela nafasnya. "Apa tidak ada yang lain?"
"Sepertinya tidak ada." Edgar tersenyum jahil.
"Kalau begitu terserah kamu saja.” Aeri pasrah.
Edgar menyentuh dagu Aeri sekilas. “Apa kamu marah kepada ku?"
Aeri menggelengkan kepalanya. "Tidak sayang."
Tangan kiri Edgar meraih tangan Aeri lalu menggenggamnya. “Aku ingin membahagiakan mu setiap saat.”
Kata-kata itu membuat Aeri tidak bisa menahan wajah bahagianya, karena menurutnya Edgar benar-benar sudah berubah. Tidak seperti Edgar yang pertama kali ia temui.
“Akhirnya aku bisa merasakan kehangatan cinta darinya.” Batin Aeri.
Tidak terasa mobil Edgar sudah di depan gerbang rumahnya. Security dengan sigap membuka gerbang, setelah itu menutup kembali gerbang itu. Bodyguard membuka pintu mereka, Edgar dan Aeri berjalan masuk ke dalam.
Edgar menghentikan langkahnya. “Sayang?”
“Iya?”
“Aku ingin ke markas dulu ya, kamu jangan kemana-mana.” Pintanya.
Aeri mengangguk. “Iya sayang, kapan kamu akan pulang?”
“Mungkin sore sayang.” Edgar memberikan kecupan di kening Aeri.
Edgar masuk kembali ke dalam mobilnya, sesaat mobil Edgar pun mulai keluar dari gerbang.
Kedua Bodyguard masuk dan mendekati Aeri yang sedang duduk di sofa karena ia merasa lelah.
“Letakkan saja disini, aku yang akan membawa semua itu ke dalam kamar.” Perintah Aeri.
“Baik.” Bodyguard 1 dan Bodyguard 2 meletakkan semua paper bag di atas meja lalu beranjak pergi.
...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...
...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung……...