Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Hadiah?


__ADS_3


Aeri dan Edgar sudah berdiri di depan salah satu mecin capit yang berukuran besar. Terlihat banyak sekali berbagai macam boneka yang ada di dalamnya, beberapa orang mulai masuk ke dalam toko itu untuk bermain mesin capit.


Tap…….



Mesin capit mulai turun ketika Aeri menekan tombol yang ada di depannya. Terlihat mereka berdua sedang fokus dan Aeri mulai mengarahkan mesin itu ke kiri dan juga ke kanan, keduanya sudah mulai tegang.


“Sayang coba geser ke kiri sedikit.” Titah Edgar kepada Aeri yang sedang fokus.


Aeri mencoba untuk menggeser sesuai dengan arahan Edgar.


“Itu kamunya terlalu ke kiri.”


Aeri menggeser lagi sedikit ke kanan.


“Itu kamu juga terlalu ke kanan.”


Aeri menoleh Edgar sambil menyipitkan matanya. “Ish kamu ini.”Sayang lebih baik diam saja ya! Tidak usah mengganggu ku.” Kesalnya karena daritadi Edgar tidak berhenti berbicara membuatnya tidak fokus.


Edgar mendekatkan wajahnya. “Kok kamu berbicara seperti itu? Kamu yang tidak bisa bermain dengan benar.” Ejeknya.


“Huft….. Kenapa kamu malah ngatain aku?” Aeri melotot. “Kamu juga belum tentu bisa, jadi diam saja. OK?”


“Aku hanya berkata jujur say….”


“Sayang, jika kamu berbicara hanya untuk mengejekku lebih baik diam saja ya.” Aeri menepuk bahu Edgar sambil tersenyum tipis.


Ketika Aeri ingi menekan tombol lagi, tiba-tiba sudah tidak bisa. Membuat Aeri sangat kesal kepada Edgar, karena ia penyebab dari semuanya.


Aeri menatap Edgar dengan tajam dan wajahnya sudah sangat kesal. “Lihat sayang…….” Menunjuk mesin capit.


“Semuanya gara-gara kamu.” Cemberut.


“Hahaha kok kamu jadi menyalahkan aku? Kan yang bermain itu ka….” Ucapan Edgar terpotong ketika melihat Aeri melotot ke arahnya. “Iya iya sayang, aku yang salah.” Meraih tangan Aeri lalu menciumnya. “Sudah ya jangan marah lagi.” Tersenyum.


Aeri hanya diam dengan wajah yang masih kesal.


“Ayo mainkan lagi….” Menyentuh Hidung Aeri dengan telunjuknya.


Aeri langsung tersenyum dan salah tingkah. “Jangan berbicara lagi, kamu cukup melihat saja.” Mulai memainkan lagi mesin capit itu.


“Sayang ka……”


Aeri yang mendengar suara Edgar, ia langsung menutup mulut Edgar dengan tangannya. “Diamlah sayang!! Jangan membuat ku marah.” Pintanya dengan tatapan yang masih ke arah mesin capit itu.


Edgar hanya mengangguk dan ikut fokus kearah alat capit tersebut.


Tap……


Aeri menekan tombolnya dan alat capit itu pun turun. Tetapi 2 menit kemudian alat capit itu kembali naik, namun tidak mengangkat satu pun boneka yang ada di dalam sana.

__ADS_1


“Bbrrrrrffhhh….” Edgar tertawa dan langsung menutup mulutnya agar tidak terdengar Aeri.


Aeri menatap Edgar dengan sinis. “Kok kamu ketawa? Kamu menertawakan ku ya?” Mendekati wajah Edgar.


Chup….


Edgar memberikan kecupan di bibir Aeri sambil tersenyum.


“Sayang…. Ini tempat umum.” Aeri melihat ke arah sekitar, terlihat mereka tengah asik bermain masin capit yang ada di depan mereka.


“Aku tidak menertawakan mu sayang, kamunya saja yang beranggapan seperti itu.” Edgar mencari alasan.


“Jangan berbohong, aku tahu kamu menertawakan ku.” Aeri kembali ke mesin capit dan memasukkan lagi koin itu kepada lubang. “Lihat saja! Aku pasti bisa mendapatkan bonekanya.” Ucapnya penuh dengan keyakinan.


Edgar hanya tersenyum dan mengangguk. “Berjuanglah sayang sekuat tenaga, sebelum titik darah penghabisan.” Ledeknya. “Aku pasti mendukung mu disini.”


Aeri menghiraukan ucapan Edgar dan menekan tombolnya lagi. Alat capit itu turun dan berhasil mengangkat satu boneka yang ada di dalam sana.


“Woaahhhhh apakah berhasil?” seru Aeri saat melihat mesin capit itu semakin naik dan berjalan ke arah lubangnya.


Edgar hanya diam, ia juga ikut tegang melihat alat mesin capit itu. “Sepertinya akan berhasil."


Ketika sudah hampir masuk tetapi boneka itu terjatuh, lagi dan lagi Aeri gagal mendapatkan boneka itu.


Aeri langsung memukul dada Edgar. “Semua ini gara-gara kamu sayang!!” Kesalnya.


“Aku? Sayang apakah kamu tidak melihat bahwa aku daritadi diam saja.” Edgar menahan tangan Aeri.


“Iya… Karena kamu tidak percaya padaku dan juga meremehkan ku.”


Aeri menggelengkan kepalanya. “Aku sudah malas.”


“Coba berikan koinnya sini.” Edgar membuka telapak tangannya. “Aku yang akan memainkannya untuk mu.”


“Apa kamu bisa?”


Edgar menarik hidung Aeri. “Jangan meremehkan ku seperti itu sayang, lihat saja aku pasti mendapatkan boneka itu untuk mu.”


“Sakit sayang.” Aeri mengelus hidungnya yang sedikit memerah.


“Hahahaha maaf sayang.” Edgar memasukkan koin ke dalam lubang mesin.


“Kalau misalkan dapat, aku ingin kamu kasih aku hadiah." Pinta Edgar.


“Hadiah?”


Edgar mengangguk.


“Baiklah." Sahut Aeri.


keduanya mulai fokus ke arah mesin capit itu dan Aeri ingin melihat apakah Edgar memang bisa mendapatkan boneka itu untuknya atau hanya omong kosong.


__ADS_1


Sejenak Edgar mengamati mesin capit itu, ia berpindah-pindah tempat untuk memastikan apakah sudah pas atau belum. Seperti sedang melakukan ritual hahahaha….


Taaaapppppp…..


Edgar dengan penuh keyakinan menekan tombol itu. Dan alat capit mulai turun, kini keduanya benar-benar terlihat sangat fokus juga penuh ketegangan.


Terlihat satu boneka terangkat yang berukuran sedang, membuat rona wajah kebahagiaan di wajah mereka berdua, hingga boneka itu pun akhirnya masuk ke lubang.


“Yey.” Teriak Aeri heboh. “Terima kasih sayang.” Sejenak Aeri memeluk Edgar lalu melepaskan pelukannya.


Aeri memberikan ciuman di pipi kanan Edgar dengan hati yang begitu senang, karena Edgar berhasil mendapatkan boneka dari mesin capit itu.


Edgar menatap Aeri. “Apa hanya di pipi?”


“Hah?” seketika Aeri terdiam mendengar perkataan Edgar.


Sesaat Edgar berjongkok untuk mengambil boneka dari mesin capit itu lalu memberikannya kepada Aeri.


“Okay, tinggal hadiahnya yang aku tunggu ya sayang.” Edgar menyerahkan boneka itu.


Aeri meraihnya. “Hadiah? Memangnya kamu mau hadiah apa?”


Sejenak Edgar berpikir. “Nanti aku coba pikirkan, mungkin tidak disini."


"Maksud mu?"


"Aku akan meminta hadiahnya di rumah." Bisik Edgar lalu meraih tangan Aeri dan menggenggamnya. Tiba-tiba Aeri melepaskan genggaman tangannya.


“Yang benar sayang, kenapa tidak disini saja?” tanya Aeri penasaran dengan hadiah yang di minta oleh Edgar.


Edgar mendekatkan wajahnya. “Tidak bisa di berikan disini sayang.” Tersenyum jahil. “Tidak usah di pikirkan sayang, nanti kamu juga akan tahu hadiah yang aku inginkan.” Tersenyum dan kembali menggenggam tangan Aeri. “Ayo kita jalan.”


Aeri mengangguk dan mulai melangkahkan kakinya, mereka berdua pun keluar dari toko mesin capit itu dan berjalan menuju parkiran mobil yang dekat dengan kuliner, jarak mereka dari sana menuju mobil lumayan jauh.


“Hadiah apa di rumah? Memangnya dia mau hadiah apa? Ish…” Aeri bergumam dalam hati karena ia begitu penasaran.


“Mau langsung pulang atau makan dulu?” tanya Edgar.


Aeri diam tidak menjawab pertanyaan Edgar karena masih bergelut dengan batinnya.


Edgar menghentikan langkahnya lalu menatap Aeri. “Sayang?” panggilnya.


“Hah? Iya iya.” Aeri tersadar dari lamunannya.


“Apa yang sedang kamu pikirkan sayang? Apa jangan-jangan kamu memikirkan hadiah yang aku inginkan?”


“Tidak….”


“Benarkan hahaha.” Ledek Edgar.


Mereka berdua kembali berjalan, terlihat awan yang semakin mendung bertanda hujan akan segera turun. Terlihat masih banyak orang-orang yang berjalan kaki untuk menikmati sisa hari mereka.


- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan

__ADS_1


- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. terimakasih


Bersambung…….


__ADS_2