
Pagi ini cuaca yang sangat cerah, langit biru dihiasi awan putih. Saat ini mereka bertiga sudah berada di dalam mobil dengan posisi Grizella duduk di kursi bagian belakang sendirian.
Sesaat Edgar menoleh ke belakang. “Let’s go?” teriaknya.
“Go Daddy.” Teriak Grizella penuh semangat.
Aeri terkekeh kecil melihat tingkah mereka berdua. “Sudahlah, kalian ini jangan banyak drama.”
“Kami tidak banyak drama.” Bantah Edgar sambil tersenyum.
Edgar mulai menghidupkan mobilnya lalu jalan meninggalkan mansion mereka keluar dari gerbang besar. Sepanjang perjalanan suasana sangat hening Grizella sangat fokus dengan game yang ada ditangannya. Beberapa menit kemudian mobil mereka mulai memasuki gerbang sekolah Grizella.
Edgar membantu Grizella keluar dari dalam mobil lalu mengelus rambutnya dengan lembut. “Yang benar ya belajarnya.”
“Tidak boleh nakal dan juga cengeng, apa kamu mengerti?” ucap Aeri.
Grizella menganggu. “Iya Mommy, iya Daddy.” Tersenyum.
Seorang guru cantik berjalan menghampiri mereka dengan bibir tersenyum sambil merapikan rambutnya yang memang sudah rapi. Guru itu pun berdiri di samping Grizella.
“Grizella baru datang ya?” tanya wanita itu.
Edgar mengangguk. “Saya titip Grizella.”
“Tenang saja, saya pasti menjaganya dengan sepenuh hati.” Ucap Kayla.
Edgar semakin dibuat risih langsung mengalihkan pandangannya karena dari tadi Kayla menatapnya tanpa berkedip. Sementara Aeri hanya tersenyum, tahu betul bahwa suaminya pasti idaman para wanita. Walaupun begitu tetap saja pasti ada rasa cemburu dan khawatir, tapi Aeri percaya kepada Edgar bahwa Edgar bukan pria yang mudah tergoda.
“Jangan sampai dia kenapa-kenapa.” Ucap Aeri menambahkan agar tidak canggung.
Kayla mengamati Aeri dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Kamu siapa? Mommy Grizella?” dengan terbata-bata.
Aeri tersenyum. “Iya saya Mommy Grizella, salam kenal.” Sapa ramah.
Seketika Kayla tersedak. “Ouh hahaha tenang saja, Grizella pasti aman.”
Edgar menoleh Aeri sambil tersenyum lalu mengelus lengannya. “Apa kita pulang sekarang?”
“Grizella, Mommy dan Daddy pulang dulu ya.”
Aeri melambaikan tangan begitu juga dengan Edgar, terlihat jelas diwajah Edgar tidak rela meninggalkan Grizella dan Aeri tapi tidak bisa berbuat apa-apa.
“Bye Mommy, Daddy.” Grizella melambaikan tangan juga sambil nyengir.
Sesaat Kayla menelan salivanya. “Ku pikir Daddy Grizella seorang duda, ternyata bukan.” Batinnya sedikit kecewa dan sangat berharap bahwa Edgar adalah duda.
Edgar dan Aeri masuk lagi ke dalam mobil, mobil mereka mulai jalan meninggalkan sekolahan. Sementara Grizella masih berdiri di sana melihat kepergian mereka.
.
.
.
__ADS_1
Sepanjang jalan Edgar menggenggam tangan Aeri, sebelumnya Edgar belum pernah meninggalkan Aeri membuat hatinya menjadi tidak tenang. Tetapi Aeri meyakinkan kepada Edgar bahwa semuanya akan baik-baik saja, tidak lama kemudian mobil mereka memasuki gerbang besar.
“Kamu tenang saja, nanti kalau kamu kangen tinggal video call.” Aeri memberikan senyuman manis membuat Edgar yang melihatnya sedikit tenang.
Aeri menoleh. “Apa kamu berangkat sekarang?”
Edgar mengangguk sambil mengelus lembut rambut Aeri. “Jaga diri kamu, jaga Grizella.” Mencium kening Aeri. “Jika ada sesuatu langsung hubungi aku, biarkan kedua bodyguard menemani kamu kemana pun kamu pergi.”
“Tidak, aku merasa tidak bebas kalau kedua bodyguard ikut.” Tolak Aeri.
“Menurut lah denganku, apa kamu mengerti?”
Aeri mengangguk pelan. “Baiklah, jika memang itu mau kamu.” Sesaat mengecup bibir Edgar. “Apa kamu berangkat bertiga saja dengan Carlos dan Ernest?”
Edgar meraih kedua tangan Aeri lalu mengelusnya. “Iya sayang, secepatnya aku akan pulang.”
Perlahan Edgar menarik tengkuk leher Aeri lalu mel*mat bibir Aeri dengan lembut begitu juga dengan Aeri. Sejenak mereka c*uman untuk memuaskan nafsu mereka berdua, setelah itu Aeri pun keluar dari dalam mobil lalu berdiri di samping mobil menunggu kepergian Edgar.
Mobil Egdar pun melaju meninggalkan mansion, Aeri memutuskan masuk ke dalam mansion dengan perasaan yang sedikit gelisah dan tidak tenang. Aeri berpikiran buruk takut terjadi sesuatu kepada suaminya.
.
.
.
Siang ini Aeri sedang bersantai di ruang tamu untuk menunggu kepulangan Grizella sambil menonton drama dan juga makan beberapa cemilan yang ada di atas meja.
Terdengar Grizella berteriak memanggil Aeri, dari kejauhan Grizella berlari kencang menghampirinya dirinya. Aeri langsung beranjak dari sofa lalu berdiri dengan perasaan gembira setelah melihat Grizella sudah pulang.
Sesaat Aeri menyentuh hidung Grizella. “Kenapa kamu selalu berlari, nanti terjatuh.”
Grizella memeluk Aeri. “Sorry Mommy.”
Aeri menggendong Grizella lalu mencium pipinya. “Are you happy?”
“Happy Mommy.” Mencium pipi Aeri.
Supir berdiri di depan mereka lalu menyerahkan tas Grizella dan juga meletakkan sebuah kotak besar di bawah dekat Aeri, seketika Aeri dibuat bingung.
“Kotak apa itu?” tanya Aeri.
“Tadi waktu Nona mau masuk ke dalam mobil tiba-tiba pak satpam memberikan kotak ini kepada saya, katanya dari seseorang untuk Nona.” Jelas supir.
“Seseorang? Siapa?”
“Maaf saya juga tidak tahu.” Beranjak pergi.
“Tunggu dulu.” Ucap Aeri membuat supir menghentikan langkahnya lalu membalikkan badannya menghadap Aeri.
Aeri menatap Grizella. “Apa kamu ingin jalan-jalan dengan Mommy?”
Grizella mengangguk. “Iya Mommy.”
__ADS_1
“Baiklah anak manis.” Menatap supir. “Nanti sore saya dan Grizella ingin jalan-jalan, sepertinya saya menyetir sendiri.”
Supir menunduk hormat. “Baik Nyonya, saya permisi dulu.” Beranjak pergi.
Aeri berteriak memanggil bodyguard 1 lalu menyuruhnya mmebawa kotak yang ada di bawah ke dalam kamar Grizella. Awalnya bodyguard melarang Aeri membawa kotak besar itu takut ada sesuatu, tapi Aeri tidak merasa begitu. Aeri pun membawa Grizella menuju kamarnya diikuti bodyguard 1.
Sesampai di kamar, bodyguard 1 pun meletakkan kotak besar itu di atas meja belajar Grizella. Setelah itu beranjak pergi, sementara Aeri masih berada di sana untuk menemani Grizella hingga Grizella tertidur. Aeri beranjak dari ranjang lalu mendekati meja belajar, Aeri membuka kotak itu terlihat di dalam sana ada beberapa mainan untuk anak perempuan.
“Siapa yang membelikan ini untuk Grizella? Al? Ah tidak mungkin.” Menepis pikiran.
.
.
.
Saat ini Edgar, Carlos dan Ernest sedang berada di dalam pesawat di kursi bisnis class dengan posisi duduk Edgar dekat jendela. Dari tadi pandangan Edgar selalu ke arah jendela itu.
“Aku sudah merindukan istri ku dan anak ku, aku benar-benar tidak bisa jauh dari mereka.” Gumam Edgar.
“Kau di Kalimantan hanya sebentar.” Sahut Ernest yang mendengar gumaman Edgar.
“Kalau sudah di hotal, kau bisa langsung menghubungi mereka.” Ucap Carlos.
Tidak lama kemudian pesawat mereka pun mendarat di salah satu bandara yang ada di kalimantan. Mereka langsung turun pesawat tidak lupa mengambil koper lalu berjalan menuju pintu keluar.
.
.
.
Saat ini mereka sudah berada di hotel berbintang yang ada di dekat bandara, mereka memutuskan untuk menginap di hotel itu. Awalnya ingin di hotel lain tapi Edgar menolak.
Brukk…
Edgar menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dengan kasar begitu juga dengan Carlos, di kamar ini tersedia ada 3 ranjang. Fasilitas yang sangat lengkap membuat mereka tidak akan kekurangan apapun.
Ernest melihat ke arah jendela. “Pemandangan yang sangat indah.”
“Pertama kalinya aku ke Kalimantan, ternyata pemandangannya sangat bagus.” Sahut Carlos.
“Besok pagi kita akan bertemu dengan BLOODS.”
“Bertemu di mana?” tanya Ernest kepada Edgar.
“Apa di tempat mereka?”
“Ya.” Edgar beranjak dari ranjang lalu berjalan menuju balkon sambil mengeluarkan ponselnya.
Edgar menghidupkan layar ponsel lalu mencari pesan dari Aeri, Edgar bergegas untuk memberitahu bahwa dirinya sudah tiba di Kalimantan. Edgar mengirim beberapa pesan dan juga 1 foto selfie.
...Bersambung…....
__ADS_1