
Edgar mendekati mereka. “Ikut aku.” Berjalan keluar menuju ruang khusus.
“Kenapa?” tanya Bara kepada Ernest dengan wajah yang bingung.
Ernest mengangkat kedua bahunya lalu menyusul Edgar.
Klekkkk…
Edgar masuk ke dalam ruang khusus diikuti Bara dan Ernest lalu duduk di kursi mereka masing-masing.
“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Bara bingung.
Ernest mengambil botol Wine yang ada di depan Edgar lalu menuang di gelas kecilnya. “Sepertinya ada sesuatu yang serius.” Meminumnya sampai habis.
“Sebentar lagi istri ku akan melahirkan.”
Sesaat Ernest menoleh Bara. “Lalu apa yang ingin kau persiapkan?”
“Yang jelas istri mu tidak bisa melahirkan di rumah sakit karena takut akan membahayakannya.” Ernest meletakkan gelasnya.
Edgar mengangguk. “Istri ku akan melahirkan di mansion.”
“Ah iya di mansion kau ada ruangan yang kosong dekat ruang bawah tanah.” Ucap Bara.
“Apa kau ingin menyuruh istri ku melahirkan di sana hah?”
“Tidak tidak, maksud ku nanti kami yang mempersiapkan semuanya untuk persalinan istri mu.”
__ADS_1
“Di ruangan dekat kolam renang saja.” Saran Ernest.
“Ya disana, kalian persiapkan semuanya disana dan pilihkan dokter terbaik untuk istri ku.” Pinta Edgar lalu meneguk minumannya.
“Memangnya istri mu melahirkan secara normal atau caesar?” tanya Bara.
“Sepertinya caesar saja, aku tidak mau membuatnya menderita.”
“Bukankah caesar juga menderita?” Ernest di buat bingung oleh perkataan Edgar.
“Ku rasa keduanya sama-sama menyakitkan.” Sahut Bara.
“Ya mungkin, makanya aku menyuruh kalian untuk memilihkan dokter terbaik.” Jelas Edgar.
“Kapan istri mu akan melahirkan?” tanya Ernest.
Edgar berpikir sejenak. “Siapkan semuanya selama 1 minggu tidak lebih dan tidak kurang.” Berdiri.
“Jaga markas dengan baik, aku tidak bisa berlama-lama meninggalkan istriku.” Edgar beranjak pergi keluar dari ruangan khusus.
Saat ini Edgar mobil Edgar sudah berada di jalanan kota menuju mansion nya. Sesaat melihat ada toko manisan, Edgar langsung menyalakan sein kiri.
Edgar turun dari mobil dan masuk ke dalam toko manisan itu untuk membelikan Aeri.
Karyawan toko berdiri di depan Edgar. “Ada yang bisa saya bantu?”
“Bungkus semua manisan yang bagus.” Pinta Edgar.
__ADS_1
“Baik, tunggu sebentar.” Karyawan toko beranjak pergi untuk membungkus pesanan Edgar.
Setelah semua manisan sudah di masukkan ke dalam paper bag karyawan toko kembali mendatangi Edgar dan menyerahkan beberapa paper bag. “Sudah semua.” Tersenyum ramah. “Silahkan bayar di kasir.”
Edgar berjalan menuju kasir untuk membayar semua manisan itu lalu masuk ke dalam mobilnya.
Mobil Edgar melaju menuju mansion, tidak lama kemudian mobilnya berhenti di depan gerbang yang tertutup. Security melihat kedatangan mobil Edgar langsung membuka gerbang.
Cittt……….
Edgar turun dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam. Tiba-tiba matanya terfokus pada Aeri yang sedang duduk di ruang keluarga.
“Apa dia tidak mendengarkan ku?” berjalan mendekati Aeri. “Apa yang kamu lakukan disini? Bukankah aku meminta kamu untuk berdiam di kamar saja hm?”
Aeri menoleh. “Aku tadi membuatkan kue bolu kesukaan kamu sayang.” Nyengir.
Edgar duduk di samping Aeri. “Siapa yang menyuruh mu membuatkan kue bolu untuk ku?”
Aeri menggelengkan kepalanya dengan pelan. “Itu kemauan ku.”
“Kenapa kamu tidak mau mendengarkan ku?” memegang kedua pipi Aeri lalu menggigit bibir bawahnya.
“Aw.” Aeri meringis kesakitan.
“Itu hukuman mu karena tidak mau mendengarkan ku.”
“Aku bosan sayang jika harus berdiam di dalam kamar saja.” Jelas Aeri.
__ADS_1
“Itu hanya alasan mu.”
...Bersambung.......