
Setiap dua insan yang sudah bersatu karena pernikahan, pasti menginginkan seorang anak untuk melengkapi kehidupan atau kebahagiaan mereka. Tetapi berbalik lagi dengan yang namanya takdir, setiap takdir seseorang itu pasti berbeda-beda. Ada yang baru menikah 2 atau 3 bulan tapi sudah hamil, ada juga yang menikah sudah puluhan tahun tapi belum juga diberikan anak, dan yang lebih parahnya lagi orang yang sudah menikah puluhan tahun juga mempunyai anak yang banyak tapi bercerai karena adanya perselingkuhan yang membuat retaknya rumah tangga, adanya kekerasan dan yang lainnya. Begitulah hidup, apapun yang di alami tidak ada alasan untuk tidak bersyukur.
Sama halnya dengan sepasang suami istri ini, sudah hampir setengah tahun pernikahan Edgar dan Aeri belum juga di karunia seorang anak, tetapi sikap Edgar terhadap Aeri tidak berubah sama sekali. Edgar tetap memberikan perhatian yang lebih untuk Aeri, walaupun ia sangat menginginkan seorang anak dari Aeri.
**
Siang ini, Aeri dan Edgar sedang berenang di kolam renang yang ada di dalam kamar mereka.
“Sayang?” panggil Edgar sambil beranjak dari kolam renang. “Nanti lagi berenangnya, hujan sudah mau turun.”
Rintikan hujan perlahan mulai turun dan Aeri masih betah untuk berenang. Daritadi Edgar menyuruhnya untuk segera naik, tetapi tidak di hiraukan Aeri.
Edgar melingkarkan handuk ke pinggangnya lalu mendekat Aeri yang sedang bersandar di pinggir kolam renang.
“Ayo naik.” Edgar mengulurkan tangannya.
Aeri menoleh lalu meraih tangan Edgar. “Padahal aku masih betah sayang.”
Edgar meletakkan handuk di bahu Aeri. “Aku tidak melarang mu untuk berenang, tapi hujan sudah turun, nanti kamu sakit sayang.”
Aeri hanya mengangguk.
Edgar dan Aeri berenang di kolam renang pribadi yang terletak di samping kamar. Mereka berdua berjalan masuk dan menuju kamar mandi.
Aeri menghentikan langkahnya. “Sayang kamu mandi duluan ya.”
Edgar mendekati wajah Aeri. “Aku mau mandi berdua sayang.”
“Aku tidak mau, kamu saja yang duluan.”
Edgar langsung mengangkat tubuh Aeri dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.
“Aku tidak mau.” Teriak Aeri yang mulai memasuki kamar mandi.
Ketika mereka mandi berdua, Edgar selalu saja meminta lebih kepada Aeri dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menuruti keinginan Edgar di dalam kamar mandi. Itu yang membuat Aeri tidak mau mandi berdua dengan Edgar.
Sudah hampir setengah jam mereka berdua belum juga keluar dari kamar mandi, sesekali terdengar suara ******* dari Aeri dari dalam kamar mandi. Beberapa menit kemudian pintu kamar mandi terbuka, mereka berdua berjalan keluar dan menuju lemari pakaian.
**
Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, Edgar dan Aeri baru saja selesai makan dan berjalan menuju kamar mereka untuk beristirahat.
Klekkkk……
Aeri membuka pintu kamar dan masuk duluan, diikuti Edgar sambil menutup kembali pintunya.
Drettt…. Drettt… Drettt….
Tiba-tiba ponsel Edgar bergetar.
“Sayang aku mengangkat telpon dulu.” Berjalan menuju balkon. Sementara Aeri duduk bersandar di ujung ranjang sambil memainkan ponselnya.
Edgar berdiri di dekat pagar balkon lalu mengambil ponselnya dan segera mengangkat telpon.
“Ada apa?” tanya Edgar kepada orang yang berada di seberang telpon.
“Kerjasama dengan Samuel sangat sangat sukses. Baru saja asisten Samuel menghubungi kita dan memberi laporan tentang ini.” Jelas Bara yang saat ini sedang duduk di ruang khusus seorang diri.
“Baguslah, sementara waktu kalian urus saja dulu.” Jawab Edgar.
“Baik, eh bagaimana dengan istri mu? Apa dia sudah hamil?” tanya Bara tiba-tiba.
__ADS_1
Edgar menghela nafasnya. “Apa tidak ada pertanyaan yang lain selain itu?” Kesalnya.
“Oke oke, baiklah.”
Edgar langsung mematikan telpon karena kesal jika ada yang bertanya tentang istrinya. Ia berjalan masuk ke kamar dan menutup pintu balkon lalu meletakkan ponsel di atas nakas dan duduk di samping Aeri.
“Apa yang sedang kamu lakukan sayang?” memeluk Aeri.
“Tidak ada sayang.” Meletakkan ponsel di sampingnya lalu menoleh Edgar.
Edgar meraih kepala Aeri lalu meletakkan di dadanya. “Aku mencintai mu sayang.” Mengelus lembut rambut Aeri.
“Aku juga mencintai mu sayang.” Jawab Aeri. “Maaf kalau aku belum bisa kasih kamu seorang anak dari rahim ku.”
Edgar yang mendengar itu langsung bersedih karena ia tidak mau memaksa jika Aeri belum juga bisa hamil, yang terpenting istrinya itu masih sehat dan bahagia jika bersamanya.
“Aku tidak bisa memaksa jika memang belum bisa.” Sahut Edgar. “Bagaimana pun kamu, aku tetap mencintai kamu.”
“Apa kita ikut program hamil saja?” Aeri mendongakkan kepalanya.
“Tidak usah di paksa sayang, sungguh.”
“Ini memang keinginan aku sayang.” Aeri tersenyum.
“Benarkah?” Edgar memastikan bahwa itu memang keinginan Aeri.
Aeri mengangguk sambil tersenyum.
“Baiklah, nanti besok siang kita pergi ke rumah sakit ya.”
“Apa kamu tidak ada kesibukan?” Tanya Aeri. “Kalau kamu sibuk, aku nanti pergi sendiri saja atau dengan pak Eri (supir).”
Edgar menggeleng menandakan iya menolak keinginan Aeri. “Tidak sayang, akhir-akhir ini yang mengurus semuanya memang Bara dan Ernest. Jadi aku bisa menemani kamu besok untuk pergi ke dokter.”
“Itu memang sudah tugas ku untuk selalu menemani kamu, menjaga kamu, dan yang pasti membuat kamu nyaman ketika berada di dekat ku.” Membalas pelukan Aeri.
Pelukan mereka bertahan beberapa detik, sehingga Edgar merubah posisi mereka menjadi berbaring.
“Sayang?” Panggil Edgar.
“Iya?”
Edgar mendekati Aeri. “Malam ini aku ingin bertukar kasih sayang dengan mu.” Bisiknya. “Boleh ya?” tanyanya.
Aeri tersenyum. “Semoga kebahagiaan ku tetap bertahan hingga akhir, sungguh aku tidak bisa jauh darinya.” Batinnya.
“Boleh tidak?” goda Edgar.
Aeri menganggukkan kepalanya, Edgar langsung mematikan lampu tidur yang ada di atas nakas lalu membuka baju kaosnya dan menarik selimut hingga dada mereka.
“Aku selalu merindukan ******* mu.” Goda Edgar.
“Apa sih kamu ini.” Aeri memukul dada Edgar.
Chup…..
Edgar memberikan kecupan di bibir Aeri. “Mari kita melakukannya hingga pagi.”
Aeri melebarkan matanya. “Jangan menyiksa ku seperti itu sayang.”
“Hahaha tidak sayang.”
Tangan Edgar mulai menyentuh leher Aeri lalu mendaratkan bibirnya di bibir mungil Aeri. Beberapa kali Edgar memberikan kecupan, perlahan ia ******* bibir itu dan memperdalam lumatannya, begitu juga dengan Aeri.
__ADS_1
Edgar melepaskan ciumannya, perlahan kepalanya turun melewati leher hingga di d*da Aeri. Setelah selesai bermain di bagian dada, perlahan tangannya mulai memasuki celana Aeri.
Lumayan lama Edgar bermain disana dengan tangannya hingga Aeri sampai. Karena Edgar sudah tidak kuat lagi menahannya, ia langsung melepaskan semua pakaian yang masih menempel di tubuh Aeri.
“Malam ini aku akan memberikan kepuasan untuk mu.” Goda Edgar.
Edgar pun memulai aksi panas itu, suara des*han Aeri mulai keluar membuat Edgar semakin di buat gila mendengarnya.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 pagi, mereka baru saja selesai melakukannya. Aeri benar-benar merasa sangat lelah, sementara Edgar hanya bisa tersenyum melihat Aeri yang sudah tidak berdaya karena ulahnya.
**
Pagi ini Edgar sedang bersantai di balkon kamar di temani segelas kopi yang ada di tangannya. Sementara Aeri masih tertidur di atas ranjang padahal waktu sudah menunjukkan 9 pagi, karena Edgar tidak tega membangunkan sang istri.
Di siang harinya, Aeri baru saja selesai mandi. Saat ini, ia sedang duduk di atas ranjang sambil mengeringkan rambutnya.
Klek……
Edgar membuka pintu kamar sambil membawakan makan siang dan juga susu hangat untuk Aeri.
“Aku yang membuat ini untuk mu.” Edgar meletakkannya di atas meja dekat dengan balkon.
“Benarkah?” Aeri ragu bahwa Edgar yang membuat itu.
Edgar duduk di samping Aeri. “Tentu saja, makanlah dulu. Aku akan menunggu di bawah.” Edgar berdiri, sebelum keluar kamar ia memberikan ciuman terlebih dahulu di pipi Aeri lalu berjalan keluar.
Siang harinya mereka pergi ke rumah sakit untuk memeriksa kesehatan mereka dan juga ingin melakukan program hamil, karena keinginan Aeri sendiri.
Setengah jam lebih, Aeri baru saja selesai. Ia segera berjalan keluar kamar dan mendatangi Edgar yang sudah menunggunya.
Mereka berdua sudah berada di dalam mobil. Hari ini Edgar tidak membutuhkan supir, ia yang akan menyetir untuk Aeri.
Kini mobil Edgar sudah berjalan meninggalkan teras rumah dan segera keluar dari gerbang. Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tidak ada obrolan sama sekali di antara mereka, hanya ada lagu yang menemani keheningan itu.
Beberapa menit kemudian, mobil Edgar memasuki parkiran rumah sakit.
Brak......
Edgar dan Aeri keluar dari mobil lalu berjalan masuk ke dalam dengan tangan mereka yang saling menggenggam sambil tersenyum, berharap program hamil itu berhasil. Karena Aeri tidak mau mengecewakan Edgar, ia takut jika tidak hamil, Edgar akan meninggalkannya.
Saat ini mereka berdua sudah berada di salah satu ruangan, lumayan lama mereka berada di dalam sana membicarakan tentang program hamil itu.
“Terimakasih dok.” Ucap Aeri.
Dokter mengangguk sambil tersenyum.
“Kami permisi dulu.”
Edgar dan Aeri berjalan keluar dari ruangan dan segera menuju parkiran mobil untuk pulang ke rumah. Sebelum pulang mereka ingin mampir ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli makanan yang sehat.
“Pilihlah yang kamu suka, tapi ingat apa yang di katakan oleh dokter tadi.” Ucap Edgar sambil mendorong troli belanja.
“Iya sayang.” Aeri berjalan duluan.
Aeri memilih beberapa buah-buahan yang di sarankan oleh dokter. Mereka pun berkeliling supermarket untuk membeli bahan yang lainnya, cukup lama mereka disana. Kini mereka menuju kasir untuk membayar semuanya.
Tiba di parkiran, karyawan supermarket yang membawa belanjaan pun langsung meletakkan di bagasi mobil. Setelah itu mereka kembali lagi masuk ke dalam supermarket.
Mobil Edgar dan Aeri sudah keluar dari halaman supermarket, mereka pun kembali ke rumah.
...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...
...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. terimakasih...
__ADS_1
...Bersambung….....