
Sudah 2 hari Aeri berada di ruangan ICU dengan kesetiaan seorang Edgar yang sudah mencintai istrinya. Edgar selalu menemani Aeri bahkan ia tidak tenang jika berjauhan.
**
Pagi ini di dalam ruangan yang hening, hanya ada Aeri dan Edgar. Selama Aeri belum sadarkan diri, Edgar selalu mengucapkan kata-kata yang begitu indah untuk Aeri sambil menggenggam tangannya, mencium-cium tangannya, mengelus kepalanya diiringi tetesan air mata yang selalu mengalir.
Rasa penyesalan di hati Edgar teramat dalam, ketika dia sudah mulai mencintai Aeri. Takdir berkata lain, Aeri harus mengalami seperti ini. Edgar begitu merindukan kebersamaannya dengan Aeri walaupun tidak terlalu banyak momen tetapi di hatinya sangat membekas.
“Aku sudah mencintai mu, tolong bangunlah….” Gumam Edgar yang saat ini sedang duduk di sampingnya. “Apa kau tahu? Aku disini menunggu mu untuk bangun, aku rindu tatapan manis yang ada di mata mu. Dan juga senyuman mu yang membuat ku candu.” Tersenyum. “Aku tidak ingin menyia-nyiakan mu, izinkan aku menebus rasa bersalah ku.”
Bagi Edgar dunianya saat ini sedang runtuh, karena melihat orang yang dicintai masih belum sadarkan diri, wajah yang penuh luka, memar di mana-mana. Tidak terbayang di pikirannya jika Aeri benar-benar pergi meninggalkannya. Kekhawatiran dan ketakutan yang teramat dalam membuatnya tidak bernafsu makan.
Disaat Edgar tengah asik bergumam kepada Aeri tentang isi hatinya, tiba-tiba ia melihat Aeri kesusahan untuk bernafas.
Edgar mendekati wajah Aeri. “Sayang? Apa yang terjadi?” gumamnya dengan wajah yang begitu panik. Ia langsung berlari keluar ruangan dan berteriak memanggil-manggil dokter. Suster yang baru keluar dari ruangan lain langsung berlari ke arah Edgar.
“Cepat panggilkan dokter, saya tidak tahu istri saya kenapa, tiba-tiba ia kesusahan untuk bernafas.” Edgar panik dengan tangannya yang sedikit bergetar.
“Baik, saya panggil dokter dulu.” Suster berlari dengan cepat memanggil dokter.
Edgar masuk kembali ke dalam ruangan.
“Bertahanlah sayang.” Gumam Edgar.
Tidak lama kemudian dokter dan suster datang lalu menyuruh Edgar untuk menunggu di luar ruangan. Bara dan Ernest baru tiba di depan ruangan ICU karena memang selama Edgar menunggu Aeri, mereka juga ikut tetapi menunggu di luar ruangan.
“Apa yang terjadi?” tanya Ernest yang baru saja datang dan berdiri di dekat Edgar.
“Apa yang terjadi di dalam sana? Kenapa kau di luar?” tanya Bara juga.
Edgar berusaha menarik nafas lalu membuang secara perlahan. “Tiba-tiba aku melihatnya kesusahan untuk bernafas.”
“Lalu bagaimana keadaannya?” tanya Ernest lagi.
“Aku belum tahu, karena dokter baru datang.” Jelas Edgar sambil mondar mandir karena tidak tenang, dokter dan suster belum juga keluar dari ruangan itu.
Beberapa menit kemudian, dokter dan suster keluar. Edgar langsung mendekati dokter untuk menanyakan kondisi Aeri saat ini diikuti Bara dan Ernest.
“Bagaimana keadaan istri saya dok?” tanya Edgar. “Dia tidak apa-apa kan?” memastikan bahwa Aeri masih bisa selamat dan sadarkan diri.
“Tidak apa-apa di untungkan kamu tidak telat memanggil saya.” Jelas dokter. “Secepatnya ia akan segera sadar.”
“Benarkah?” Edgar terkejut mendengar ucapan sang dokter.
__ADS_1
Dokter mengangguk lalu tersenyum. “Saya permisi dulu.”
“Terima kasih dok.” Ucap Bara.
Dokter dan suster pun pergi meninggalkan mereka bertiga.
“Kalian tunggu saja di luar.” Perintah Edgar.
Bara dan Ernest mengangguk lalu duduk di depan ruangan. Sementara Edgar masuk lagi ke dalam ruangan.
“Sayang? Aku disini.” Ucap Edgar. “Aku tidak akan membiarkan mu sendirian disini.”
**
Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, saat ini Edgar masih setia duduk di dekat Aeri untuk menunggunya bangun dengan pandangannya yang selalu menatap wajah cantinya Aeri.
Terlihat jari-jari Aeri mulai bergerak. Edgar yang melihat itu langsung mendekat, perasaannya saat ini masih cemas dan takut setelah kejadian tadi pagi yang hampir kehilangan Aeri.
“Sayang?” panggil Edgar.
Perlahan-lahan Aeri membuka matanya dan mencoba untuk menggerakkan badannya.
Edgar langsung menyentuh lengan Aeri. “Kamu sudah bangun?” tersenyum. “Sayang, kamu tidak usah banyak bergerak!!”
Aeri yang mendengar itu langsung diam, karena perkataan lembut dari mulut Edgar.
Ketika ia keluar ruangan tidak terlihat batang hidung Bara dan Ernest. Edgar berlari memanggil dokter lalu menyuruhnya untuk ke ruangan Aeri. Setelah itu ia kembali lagi ke dalam ruangan.
Beberapa menit kemudian, dokter dan suster datang untuk memeriksa keadaan Aeri saat ini.
“Syukurlah kau sudah sadar, memang ini adalah sebuah keajaiban.” Ucap dokter tersenyum. “Mungkin karena suami mu yang sangat mencintai mu, membuat mu masih bisa bertahan.” Sambungnya.
Edgar tersenyum menatap Aeri sambil mengelus lengannya.
“Sepertinya kondisi dia sudah mulai membaik, mungkin siang ini juga sudah bisa di pindahkan ke ruang Inap.” Jelas dokter.
“Baik dok, saya ingin ruangan VVIP agar istri saya istirahat dengan tenang.” Pinta Edgar.
Dokter mengangguk lalu pergi keluar ruangan. Setelah dokter itu pergi, Edgar duduk di dekat Aeri.
Edgar memegang tangan Aeri. “Apa kamu sudah membaik?” tanyanya.
Aeri mengangguk. “Tapi kepala ku terasa sakit.”
__ADS_1
Edgar mendekatkan wajahnya. “Tidak usah terlalu banyak gerak ya. Istirahatlah yang cukup sayang.” Pintanya. “Sebentar lagi kamu akan di pindahkan ke ruangan.”
“Aku takut.” Lirih Aeri ketika mengingat kejadian yang menimpanya waktu itu.
Edgar menggenggam tangan Aeri dengan kedua tangannya. “Aku ada disini, jadi kamu tidak perlu takut.” Mencoba menenangkan Aeri. “Percayalah aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi. Jadi tolonglah untuk segera sembuh.”
Aeri tersenyum, ia merasa sangat bahagia mendengarkan perkataan seperti itu dari mulut Edgar secara langsung. Ia selalu menunggu momen ini, akhirnya ia merasakan di cintai oleh suaminya sendiri.
“Aku bahagia melihatnya ada di sini. Akhirnya aku bisa melihat wajah tampannya lagi.” Batin Aeri.
Menunggu informasi dari dokter tentang ruangan VVIP yang di minta oleh Edgar, untuk sementara waktu Aeri masih di ruangan itu.
Edgar daritadi mencoba untuk menenangkan Aeri agar tidak ketakutan lagi, tiba-tiba Bara dan Ernest masuk ke dalam.
“Akhirnya kau sudah sadar.” Ucap Bara yang berjalan mendekati mereka.
“Apa kau tahu, selama kau belum sadar Edgar…..” Ucap Ernest terpotong, karena Edgar menatap tajam ke arahnya.
“Tidak, dia berbohong.” Edgar mengelak karena malu, ia selalu menangisi Aeri. Seorang Edgar yang gagah perkasa menangis karena Aeri.
“Memangnya dia kenapa?” tanya Aeri penasaran.
“Jadi gini….” Sahut Bara. Edgar hanya diam sambil menatap Aeri dengan tersenyum.
“Edgar begitu mencintai mu.” Ernest berdiri di dekat Edgar sambil menepuk bahu kanan Edgar.
“Benarkah?” Aeri tersenyum.
“Tentu saja, ia selalu menangis di ruangan ini.” Ucap Bara mendekati Ernest. “Bahkan dia tidak nafsu makan, makanya badan dia terlihat kurus.”
Edgar memukul kepala Bara dan Ernest.
“Benarkah?” tanya Aeri kepada Edgar.
Edgar memberikan anggukan, membuat Aeri tersenyum lebar karena ia begitu bahagia melihat pengakuan langsung dari Edgar.
“Lebih baik kalian pulang saja ke markas.” Edgar mengusir mereka berdua.
“Tidak boleh seperti itu.” Ucap Aeri.
Mereka melanjutkan obrolan, suster pun datang dan memberitahu ruangan VVIP yang akan di tempati oleh Aeri untuk memulihkan kondisinya. Setelah itu, Aeri langsung di bawa ke ruangan itu diikuti oleh Edgar, Bara, Ernest dan kedua Bodyguard Edgar yang baru tiba karena ia sendiri yang menyuruh mereka untuk datang ke rumah sakit.
...- Fisrt time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...
__ADS_1
...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini dengan cara like, vote, gift dan favorit. Terima kasih ...
...Bersambung……....