Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Aeri malu


__ADS_3

Matahari pagi yang mulai terbit dari arah timur, sinarnya yang mulai memasuki celah-celah gorden kamar yang masih tertutup. Saat ini sepasang suami istri masih tertidur dengan nyenyak di bawah selimut mereka, dalam keadaan yang masih saling memeluk satu sama lain.


Jam sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Perlahan Aeri membuka matanya lalu mendongakkan kepalanya, sejenak menatap wajah tampan sang suami yang masih tertidur, posisi kepala Aeri masih berada di lengan Edgar.


Aeri tersenyum dengan tangan kanannya yang mulai menyentuh wajah Edgar. “Dia begitu tampan.” Gumamnya sambil mengamati satu persatu bagian wajah Edgar.


“Terima kasih sudah bersikap lemah lembut kepada ku dan juga mulai menyayangi ku.” Menggerakkan sedikit badannya. “Apa kamu tahu? Saat ini aku benar-benar bahagia dan bersyukur memiliki suami seperti mu. Aku tidak tahu apa yang membuat mu berubah drastis seperti ini, apa karena kamu benar-benar sudah mencintai ku atau entah lah, tapi dengan begini aku sangat bahagia.” Matanya yang mulai berembun. “Selepas apapun waktu kamu menyakiti ku dulu, tidak ada alasan untuk tidak bersyukur bisa bersama kamu.”


Edgar tersenyum setelah mendengar apa yang di katakan oleh Aeri. Daritadi ia memang sudah bangun tetapi ketika Aeri mulai berbicara ia berpura-pura untuk masih tertidur.


Aeri yang melihat Edgar tersenyum dalam keadaan mata yang terpejam langsung menurunkan tangannya. “Apa kamu daritadi sudah bangun? Ah berarti kamu…..”


Edgar mengangguk sambil membuka matanya. “Hm?” tersenyum lalu mengelus kepala Aeri. “Coba ulangi lagi?” Godanya.


“Hah? Tidak tidak….” Aeri salah tingkah.


Chup….


Edgar mengecup bibir Aeri. “Apa aku salah jika bersikap seperti itu kepada mu?” Menaikkan satu alisnya. “Bukankah aku sudah berjanji untuk membahagiakan mu?”



“I…iya, tidak ada yang salah. Aku hanya…..”


“Suuutttt….” Ucap Edgar.


Aeri sangat malu karena di dengar oleh Edgar, ia berpikir Edgar masih tertidur.


“Aku mau mandi dulu.” Aeri bangun dan mulai beranjak dari ranjang.


“Sayang ini masih terlalu pagi.” Edgar menahan pinggang Aeri.


Aeri menoleh. “Ya ya…. Aku mau…."


“Kiss morning dulu.” Pinta Edgar sambil memajukan bibirnya.


“Nanti saja ya.” Tolak Aeri.


“Kenapa kamu tidak mau.” Tanya Edgar.


“Bu…..”


Edgar menarik tangan Aeri hingga terjatuh ke dalam pelukannya. “Aku masih ingin seperti ini.” Mempereratkan pelukan.


Aeri mendongakkan kepalanya menatap Edgar. “Apa yang….”


Chup…..


Lagi dan lagi bibir Edgar mendarat di bibir mungil Aeri. “Apa kamu tahu, bibir mu ini manis dan aku sangat menyukainya.”


Aeri tersenyum.

__ADS_1


“Ini.” Telunjuk Edgar menyentuh bibir Aeri. “Akan menjadi favorit ku.” Godanya.


“Udah ih, aku mau mandi.” Aeri langsung beranjak menuju kamar mandi.


“Hey….” Teriak Edgar. “Kenapa kamu tidak mengajak ku mandi?” tersenyum jahil sambil melihat Aeri masuk ke dalam kamar mandi.


Aeri masuk ke dalam kamar mandi lalu menghidupkan shower. “Huft…. Sungguh aku sangat malu.” Berdiri di bawah shower. “Ah berarti dia mendengar apa yang ku katakan tadi? Kenapa aku bodoh sekali.” Kesalnya.


Edgar saat ini sedang duduk di balkon kamar sambil menunggu Aeri selesai mandi.


Setengah jam kemudian, Aeri keluar dari kamar mandi lalu membuka semua gorden yang masih tertutup. Setelah selesai ia memutuskan untuk pergi ke dapur.


“Sayang aku membuat sarapan dulu ya.” Teriaknya lalu berjalan keluar kamar.


Edgar berjalan menuju kamar mandi.


**


Saat ini Aeri sedang berada di dapur bersama beberapa pelayan yang membantunya. Sarapan pagi ini Aeri memasak makanan yang spesial untuk Edgar.


Dipotongnya beberapa sayur lalu menghidupkan kompor dan menuangkan sedikit minyak di atas wajan. Ketika wajan mulai panas, di masukkannya sayuran yang sudah di potong tadi.


Tercium aroma yang enak di dapur, Aeri memang sangat pandai dalam memasak sehingga Edgar sangat betah makan di rumah.


Edgar sedang menuruni anak tangga dan berjalan menuju dapur sambil tersenyum bahagia, karena setelah mendengar yang di katakan Aeri tadi di kamar.


Aeri yang sedang asik memasak tiba-tiba merasakan ada sesuatu yang melingkar di tangannya.



“Memasak makanan kesukaan mu.” Aeri mengambil pisau dan mulai memotong daging menjadi beberapa potong. Sementara yang sayur tadi pelayan yang mengurusnya.


“Sayang lepas, aku malu di lihat mereka.” Aeri melihat ke arah pelayan yang ada disana.


Edgar menghela nafasnya membuat Aeri merinding. “Aku tidak mau.” Dengan jahilnya, ia menggigit ujung telinga Aeri.


“Aw…” Teriakan Aeri terdengar oleh beberapa pelayan disana tetapi pelayan tetap fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing.


Edgar tertawa kecil setelah menjahili Aeri. “Kamu hari ini mau pergi kemana?”


“Aku tidak tahu.” Jawab Aeri mulai meletakkan daging ke atas wajan.


“Hm…..”


“Aku lagi sibuk sayang, udah ih.” Aeri melepaskan kedua tangan Edgar yang masih betah memeluknya.


Edgar meraih wajah Aeri lalu memberikan kecupan di bibirnya. “Selamat pagi sayang.” Tersenyum lalu beranjak pergi ke ruang makan.


Aeri hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng melihat tingkah Edgar.


Tidak lama kemudian, beberapa makanan sudah masak. Aeri berjalan ke arah ruang makan sambil membawa satu gelas jus untuk Edgar dan meletakkan di depannya.

__ADS_1


Aeri dan Edgar sudah berada di ruang makan, posisi mereka duduk saling berhadapan.


Aeri meletakkan piring yang sudah terisi di depan Edgar. “Minum dulu jus nya.”


Edgar mengangguk. “Terima kasih sayang.” Mengambil sendok dan garpu.


Drettt….. Drettt….. Drett.....


Ponsel Edgar bergetar, ia segera mengangkat telpon dari seseorang.


“Ada apa?” tanya Edgar kepada orang yang ada di seberang telpon.


“Hari ini jadi tidak kita pergi ke pasar gelap?” tanya Ernest.


“Jam berapa?”


“Sebentar lagi, karena Bara sedang mencek gudang belakang.”


“Oh okay, aku akan segera ke markas.” Edgar mematikan telpon dan memasukan kembali ponsel ke dalam sakunya.


“Sayang?” panggil Aeri.


“Iya?"


“Sepertinya aku hari ini ingin jalan-jalan keluar, boleh ya?” pinta Aeri.


“Ayo perginya sama aku.”


“Aku maunya sendiri, kan kamu juga sudah membelikan aku mobil dan aku juga lumayan pandai menyetir mobilnya. Jadi, aku ingin jalan-jalan sendiri.”


Selama Edgar jarang ada di rumah ia menyempatkan untuk belajar menyetir mobil, tetapi ia tidak sendiri melainkan di temani oleh beberapa Bodyguard dan ahlinya.


Edgar meraih kedua tangan Aeri. “Tidak sayang, aku tidak mengizinkan mu pergi apalagi menyetir sendiri, itu akan membahayakan mu.” Mengelus tangannya.


“Bukankah tadi orang-orang yang ada di markas menelpon mu? Kamu hari ini ada kesibukan, kan?” tanya Aeri.


“Hm… Tidak jadi.” Ucap Edgar. “Karena kamu ingin pergi, aku akan membatalkan semua kesibukan ku hari ini.” Tersenyum.


Aeri melebarkan matanya. “Kenapa begitu? Aku bisa sendiri kok, tidak apa-apa kalau kamu sibuk.”


Edgar menggeleng. “Karena aku ingin menemani mu jalan-jalan.”


“Sungguh… Aku bisa sendiri.” Mencoba merayu Edgar.


Edgar mencium tangan Aeri. “Tidak sayang, kamu tidak boleh membantah seperti itu.” Berdiri lalu berjalan mendekati Aeri yang masih duduk lalu mengelus lengannya. “Bersiaplah, aku tunggu di ruang tamu.”


Aeri mengangguk dan tersenyum. Edgar berjalan keluar dari ruang makan menuju ruang tamu, sementara Aeri berjalan ke kamar untuk bersiap-siap.


...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. terimakasih...

__ADS_1


...Bersambung….....


__ADS_2