Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Kerjasama


__ADS_3

Brak…….


Edgar baru saja keluar dari mobil dan menutup pintu dengan keras. Ia berjalan masuk ke dalam markas, terlihat tidak ada batang hidung Bara dan Ernest.


Klek…….


Edgar masuk ke dalam ruang khusus, benar saja mereka sudah menunggunya di ruangan itu. Ia duduk di kursi bagian tengah lalu mengangkat satu kakinya sambil menggoyangkan kursi.


“Kenapa dengan pengiriman barang kita? Apa ada masalah lagi?” tanya Edgar.


“Tidak, hanya ada sedikit hambatan.” Ucap Ernest.


“Tapi tenang saja, berang itu akan segera tiba disana.” Sahut Bara.


“Kita hari ini akan berangkat ke suatu tempat untuk melihat barang-barang yang akan kita kirim dengan jumlahnya yang lumayan besar.” Jelas Ernest.


“Setelah itu kita ke jalan Anggrek untuk melihat tanah kosong.” Ucap Edgar, membuat mereka berdua melebarkan mata secara bersamaan ke arahnya.


Bara dan Ernest tidak tahu bahwa Edgar ingin membeli tanah untuk di jadikan gudang mereka. Edgar di rekomendasikan oleh Bodyguard 1 ada tanah yang luas dengan harga yang tidak terlalu mahal, membuatnya tertarik untuk melihat lokasi tanah itu.


“Apa kau mau membeli tanah disana?” tanya Edgar.


Edgar mengangguk.


“Kenapa kau tidak ada membicarakan ini?” tanya Bara.


“Aku juga mendadak dan aku belum pernah datang ke lokasi itu. Jadi hari ini kita pergi kesana.” Jelas Edgar sambil meraih botol Wine yang ada di atas meja lalu menuangkan ke gelasnya.


“Kenapa kau lama sekali datang kesini?” tanya Bara.


“Kau tidak sakitkan?” tanya Bara sambil meminum wine yang ada di gelasnya.


“Tidak, justru aku sedang bahagia….”


Bara dan Ernest saling bertatapan dan tersenyum. Sepertinya mereka tahu apa yang di maksud oleh Edgar, benar-benar terkoneksi secara bersamaan.


Edgar berdiri dari kursinya lalu berjalan keluar ruangan diikuti oleh Bara dan Erenet. Kini mereka sudah sudah berada di dalam mobil dan siap menuju tempat yang akan mereka datangi.


Satu jam kemudian, mereka baru saja selesai melihat barang yang akan dikirim ke kota L. Mereka kembali menjalankan mobil menuju lokasi tanah yang di maksud oleh Edgar tadi.


Mereka membutuhkan waktu sekitar 15 menit baru tiba di jalan Anggrek itu. sesampai disana, mereka turun untuk melihat lokasi tanah bersama orang yang menjual tanah itu.


Sejenak mereka berbincang-bincang untuk masalah harga, setengah jam kemudian selesai.


Mobil mereka sudah dalam perjalanan menuju markas, waktu sudah menunjukkan pukul 12:00.


**


Keesokan harinya, Edgar baru saja tiba di markas. Ia berjalan menuju ruang khusus dan duduk di sana untuk menunggu kedatangan Bara dan Ernest yang masih dalam perjalanan setelah memeriksa gudang peyimpanan baran


Klek……


Bara dan Ernest masuk ke dalam ruang khusus lalu duduk di kursi mereka masing-masing.


“Siapa yang ingin mengajak kita untuk bekerjasama?” tanya Bara.


“Samuel, dia dari Singapura.” Jawab Edgar.


Jadi tadi malam Edgar mendapatkan telpon dari seseorang bahwa ada yang ingin berkerjasama dengan mereka yaitu Samuel. Ia berasal dari Singapura dan ingin berbicara secara langsung kepada Edgar, dengan cara datang ke markas HEREWOLF untuk membicarakan hal tersebut. Awalnya Edgar ragu, tetapi ia sudah tahu bagaimana bisnis yang di jalani oleh Samuel itu, sehingga iya mengiyakan Samuel untuk datang ke markasnya.


“Apa kau sudah tahu tentang Samuel itu?” tanya Ernest memecahkan keheningan.


Edgar mengangguk. “Aku sudah mencari tahu tentangnya dan juga bisnis yang ia jalani saat ini.” Jawabnya sambil memainkan Ipad yang ada di tangannya.


“Berarti dia datang kesini langsung dari Singapura?” tanya Bara.


“Iya.” Edgar melihat jam. “Tidak lama lagi orang itu datang bersama rombongannya.”

__ADS_1


Tok…. Tok… Tok…..


Seseorang mengetuk pintu membuat mereka bertiga menoleh ke arah pintu itu, satu bawahan masuk ke dalam lalu berjalan mendekati Edgar.


“Tuan Samuel sudah memasuki kawasan markas.” Ucap bawahan 2 yang mendapat informasi dari pos keamanan bahwa rombongan Samuel sudah memasuki kawasan markas HEREWOLF.


Edgar berdiri sambil merapikan pakaiannya. “Sediakan beberapa jenis alkohol di ruangan ini.” Perintahnya lalu berjalan keluar.


Ernest dan Bara berdiri dan menyusul Edgar keluar.


Kini mereka bertiga sedang berdiri di teras markas untuk menunggu kedatangn rombongan Samuel yang dari Singapura itu.


2 menit kemudian, beberapa mobil rombongan dari Singapura itu memasuki halaman markas dan memarkir tepat di teras.


Beberapa orang turun dari mobil lalu membuka pintu mobil yang saat ini terpakir tepat di depan mereka berdiri.


Seseorang yang bertubuh tinggi, berkulit coklat, dan juga alis tebal menuruni mobil dan berjalan mendekati mereka.


“Apa kau bisa berbahasa inggris?” Bisik Bara kepada Edgar.


“Ku rasa Edgar bisa walau tidak pandai.” Sahut Ernest yang mendengar bisikan Bara.


“Welcome to our headquarters (Selamat datang di markas kami).” Ucap Edgar kepada Samuel yang sudah berdiri di depan mereka sambil menyodorkan tangan kananya untuk mengajak berjabat.


Samuel tersenyum dan mengangguk. “Your headquarters is so wide (Markas mu begitu luas).” Membalas jabatan Edgar lalu melepasnya.


Edgar berjalan masuk duluan diikuti Samuel. Bara dan Ernest berjalan bersama anak buah Samuel, mereka sekitar 10 orang.


“Come follow me (Mari ikuti saya).” Edgar berjalan duluan menuju ruang khusus.


Edgar dan Samuel berjalan menuju ruang khusus, sementara yang lainnya menunggu di ruang tengah.


Bawahan 1 dan bawahan 2 yang sedang berdiri di depan ruangan khusus langsung membukakan pintu untuk mereka sambil memberikan senyuman kepada Samuel.


Kini mereka berdua sudah berada di ruang khusus bersama beberapa jenis alkohol yang sudah tersedia di atas meja untuk menemani perbincangan mereka 1 jam ke depan.


“Alright, let’s just talk about cooperation (Baiklah, langsung saja kita membicarakan tentang kerjasama).” Edgar meletakkan kembali gelasnya di atas meja.


“Yes, I came here just to talk about this. I’m very interested in working with you (Ya, aku datang kesini hanya untuk membicarakan itu. Aku sangat tertarik untuk bekerjasama dengan mu).” Jawab Samuel dengan santai.


Edgar tersenyum. “Thanks, let’s get started (Terimakasih, mati kita mulai).” Ucap Edgar.


Mereka pun mulai membicarakan itu hingga selesai. Saat ini keadaan di ruang tengah, mereka sedang berkumpul membahas hal-hal mengenai bisnis itu seperti apa sambil menunggu Edgar dan Samuel keluar dari ruang khusus itu.


Saat ini Aeri sedang berada di dapur membuat kue di temani beberapa pelayan. Sudah setengah jam Aeri berada di dapur, kepala pelayan bolak balik ke supermarket untuk membeli bahan yang kurang.


“Bi enak tidak ya kue nya?” Tanya Aeri sambil melihat ke arah kue yang mulai matang.


“Pasti enak non.” Ucap Pelayan 2 yang saat ini sedang berdiri di sampingnya.


“Duh, bibi cobain dulu deh.” Pinta Aeri.


Pelayan 2 menggelengkan kepalanya. “Nona saja. Bibi tidak mau mendahului kamu.”


“Tidak apa-apa bi, sungguh.” Aeri tersenyum. “Cobain ya.” Meraih kue yang sudah matang lalu mencobanya dan meletakkan di piring.


“Benaran non?” Tanya pelayan 2.


Aeri mengangguk. “Nanti aku mau menyuruh kepala pelayan untuk mengantar ke markas HEREWOLF.”


“Baik non saya coba ya.” Meraih kue yang sudah di potong lalu memakannya.


“Emmm… gimana bi?”


“Enak non, sumpah sangat enak.” Ucap pelayan 2.


Pelayan 1 berdiri di samping pelayan 2. “Wah pada ngapain nih?” Tanyanya penasaran dan melihat kue yang sudah matang.

__ADS_1


“Apa bibi mau juga?” Tawar Aeri kepada pelayan 1.


“Hah? Memang boleh non? Bukannya bukan Tuan Edgar ya?”


“Iya memang buat dia, tapi aku membuat 2 kue. Dan yang masih berada di dalam oven itu punya dia.” Jelas Aeri sambil memotong lagi kue yang ada di depannya dan meletakkan di piring tadi.


“Terimakasih ya non.” Pelayan 1 meraih kue itu dan memakannya. “Sangat enak non.” Menikmati rasa kue yang ada di dalam mulutnya.


Pelayan 2 melihat kue yang ada berada di dalam oven sudah matang, ia segera mengambilnya. “Sudah matang non.” Meletakkan di depan Aeri.


“Tolong panggilkan kepala pelayan.” Perintah Aeri.


“Baik non.” Pelayan 2 berjalan keluar untuk mencarai kepala pelayan.


“Non saya permisi dulu.” Pelayan 1 berjalan menuju gudang belakang.


Aeri memotong kue yang baru matang itu menjadi beberapa bagian lalu memasukkan ke salah satu tempat.


“Maaf, apa nona memanggil saya?” Kepala pelayan berdiri di sampingnya.


Aeri mengangguk sambil menutup tempat kue itu. “Tolong antarkan kue ini ke markas HEREWOLF.” Menyerahkan kepada kepala pelayan.


Kepala pelayan meraihnya. “Baik non, saya permisi dulu.” Berjalan keluar meninggalkan dapur dan mendatangi supir untuk menemaninya ke markas HEREWOLF.


Aeri mulai membersihkan bekas ia membuat kue tadi, pelayan 2 yang melihat itu langsung mendekatinya.


“Nona pergi saja ke kamar, biar bibi yang membersihkannya.” Merebut piring yang ada di tangan Aeri.


“Tidak usah bi, aku bisa kok.”


“Beristirahatlah nona, nanti Tuan Edgar akan marah kepada kami.” Sahut pelayan 3.


Aeri tersenyum. “Baiklah, terimakasih bi.” Berjalan keluar dan menuju kamarnya.


**


Edgar dan Samuel baru saja keluar dari ruang khusus lalu berjalan menuju ruang tengah, mereka yang tadinya tengah asik berbicara langsung berdiri untuk menyambut kedatangan Edgar dan Samuel.


“Did you guys go straight back to Amstredam (Apa kalian langsung ke Amsterdam?)” Tanya Edgar.


“Yes, thanks for your time (iya, terimakasih untun waktunya).” Ucap Samuel sambil membungkukkan setengah badannya.


Edgar mengangguk lalu membungkukkan setengah badannya. “Nice to meet you (Senang bisa bertemu dengan mu).”


“Nice to meet you too (Senang bisa bertemu dengan mu juga).”


Samuel berjalan duluan menuju teras diikuti semua bawahannya. Edgar, Bara, dan Ernest mengikuti mereka berjalan keluar.


“We go first, see you again (Kami pergi dulu, sampai berjumpa lagi).” Ucap Samuel lalu masuk ke dalam mobil.


Bawahan Samuel masuk ke dalam mobil mereka masing-masing dan mulai meninggalkan halaman markas HEREWOLF.


“Wah kau sangat pandai berbicara bahasa inggris.” Puji Bara.


“Kami tadi mengobrol dengan mereka sangat kesusahan.” Sahut Ernest sambil tertawa.


Ketika Edgar ingin melangkahkan kakinya, tiba-tiba mobil berhenti tepat di depan mereka. Kepala pelayan keluar dari mobil lalu berjalan menyerahkan kue yang di buat oleh Aeri tadi.


“Ini dari nona, tadi nona sendiri yang membuat di dapur.” Ucap kepala pelayan sambil menyerahkan tempat kue itu kepada Edgar.


Edgar meraihnya dan mengangguk. “Jagalah istriku, jangan sampai dia kelelahan di dapur.” Perintahnya lalu berjalan masuk ke dalam diikuti Bara dan Ernest.


Kepala pelayan masuk ke dalam mobil dan kembali ke rumah utama.


...- Maaf jika dalam penulisan masih banayk kekurangan...


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. terimakasih...

__ADS_1


...Bersambung….....


__ADS_2