Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Lahiran


__ADS_3

Tiba hari ini adalah lahiran anak dari seorang mafia. Saat ini Aeri dan Edgar sudah berada di sebuah ruangan khusus persalinan yang di sediakan Edgar untuk sang istri.


Ada beberapa dokter dan beberapa suster yang akan menangani sang istri tercinta untuk melahirkan, terlihat puluhan para bawahan yang berjaga di depan, belakang, samping kanan dan kiri mansion.


“Sayang aku ingin melahirkan cara normal.”


“Tidak, aku tidak ingin kamu kesakitan.” Mengelus lembut perut Aeri.


“Tapi operasi juga sakit.”


“Aku akan menyuruh dokter melakukan sesuatu agar kamu tidak merasa kesakitan.”


“Hm…. Bukankah melahirkan secara normal itu menjadi ibu yang sesungguhnya?”


“Jangan berbicara omong kosong, kamu tetap menjadi ibu yang luar biasa untuk anak ku sekaligus istri yang sangat istimewa untuk ku.” Edgar menenangkan Aeri. “Jadi tidak usah berpikiran yang tidak-tidak.”


“Apa kamu lapar?” tanya Edgar.


Aeri mengangguk.


“Nanti ya setelah operasi, saat ini kamu tidak boleh makan dulu, jadi dengan ini saja ya.” Edgar beberapa kali mengecup bibir Aeri.


Aeri tersenyum malu.


Edgar melihat ke arah jam dinding. “Sebentar lagi kamu akan operasi.”


“Iya sayang.” Mengelus pipi Edgar. “Apa kamu akan menemani ku disini?”


“Tentu saja sayang, aku tidak akan meninggalkan kamu.” Tersenyum.


Tok… Tok…. Tok….


Beberapa dokter dan suster berjalan masuk ke dalam dengan semua alat yang sudah siap.


“Sebentar lagi operasi akan segera dilaksanakan.” Ucap Neon sebagai dokter 1.


Edgar mengangguk. “Pastikan semuanya berjalan dengan lancar, lakukan sesuatu agar istri ku tidak merasa kesakitan.”


Neon mengangguk sambil tersenyum.

__ADS_1


15 menit kemudian operasi pun di mulai……….


Kondisi Aeri di bius setengah, awalnya ingin seluruh tubuh tapi Edgar melarangnya.


Di dalam ruangan itu hati Edgar sangat gelisah, kini detak jantungnya berdegup kencang. Sepanjang proses operasi, Edgar selalu mengucapkan kalimat yang sangat indah di telinga Aeri. Mengelus lembut tangan Aeri dan juga menciuminya.


Hingga terdengar suara tangisan baby mereka dengan nyariing membuat air mata Edgar turun begitu saja membasahi pipinya karena bahagia.


Edgar melihat ke arah baby yang sedang di angkat lau mencium kening Aeri. “Aku mencintai mu sayang, sungguh aku sangat tidak sabar melihat anak kita.” Tersenyum.


Satu jam kemudian Aeri dan Edgar sudah berada di sebuah ruangan dekat tempat bersalin tadi untuk menunggu kedatangan anak mereka.


Beberapa menit kemudian beberapa suster masuk ke dalam sambil membawa box bayi.


“Letakkan saja anakku di dekat istriku.”


“Baik.” Suster 2 meletakkan box baby di samping kiri Aeri.


“Anak mommy cantik sekali.” Terlihat jelas aura kebahagia dari Aeri melihat sang anak yang sudah lahir.


“Angkat anak ku dan letakkan di dada istri ku.” Titah Edgar.


“Kalian boleh pergi, tapi tinggal 2 suster disini!”


Beberapa suster beranjak pergi, sementara 2 suster yang di minta Edgar duduk di atas sofa khusus.


Edgar berjalan mendekati Aeri lalu memberikan ciuman hangan di pipi Aeri dan juga kepala sang baby.



“Anak Daddy sangat menggemaskan.” Edgar duduk di samping Aeri. “Lihatlah baby girl sangat cantik.”


Aeri tersenyum. “Sangat cantik.”


“Seperti kamu sayang.” Mencium kening Aeri.


“Sayang lihatlah….” Ucap Aeri.


Edgar mendekatkan wajahnya. “Kenapa sayang?”

__ADS_1


“Hidungnya sangat mancung, kulitnya merah.” Puji Aeri lalu mencium kepala baby girl.


“Aku mencintai kalian berdua.”


Beberapa menit kemudian Edgar memanggil suster yang ada di ruangan itu untuk meletakkan kembali baby girl ke dalam box.


Aeri menoleh Edgar. “Sayang?”


“Iya sayang?”


“Apa kamu sudah mempunyai nama untuk baby girl?”


Sejenak Edgar berpikir. “Grizella Dale Nichols, menurut kamu gimana?”


“Nama yang cantik.”


2 Jam berlalu.....


“Apa kamu kamu mau makan sekarang sayang?” tanya Edgar.


Aeri mengangguk.


Edgar langsung meraih ponselnya lalu menelpon ke nomor dapur untuk membawakan makanan.


Tidak lama kemudian kepala pelayan datang dan meletakkan semua makanan yang di minta Edgar di atas meja dekat ranjang Aeri. Setelah itu kepala pelayan kembali ke dapur.


“Kamu mau makan yang mana?” tanya Edgar.


“Aku bingung sayang.”


Edgar mengambil salah satu makanan. “Ya sudah ini saja, buka mulut kamu.” Menyodorkan sendok ke dalam mulut Aeri.


Aeri membuka mulut lalu mengunyahnya.


“Terima kasih sayang, kamu sudah berjuang sampai hari ini, aku mencinta mu.”


Aeri tersenyum. “Iya sayang"


...Bersambung.........

__ADS_1


__ADS_2