Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Jalan-jalan


__ADS_3

“Kita mau kemana lagi?” tanya Edgar.


Kini jam sudah menunjukkan pukul 2 siang.


Edgar benar-benar membatalkan kesibukannya hari ini hanya untuk menemani Aeri jalan-jalan.


Aeri berpikir sejenak. “Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke kuliner.”


“Kuliner? Memangnya siang-siang begini ada?” tanya Edgar.


“Kalau tidak salah di jalan kamboja di buka kuliner sampai akhir bulan.”


Menatap Aeri. “Apa kamu mau kesana?”


Aeri mengangguk sambil mengedipkan mata. "Ayo sayang."


Edgar menjalankan mobilnya menuju kuliner yang di maksud oleh Aeri hingga tiba di sebuah parkiran khusus mobil.


“Yakin mau kesini?” Edgar melihat banyaknya orang yang berjalan disana, membuatnya hampir menolak tapi karena Aeri yang mau, maka ia mengalah.


“Iya sayang.” Aeri membuka seat belt lalu keluar dari mobil, begitu juga dengan Edgar walau ia sebenarnya ragu untuk membawa Aeri di tempat seperti itu.


“Ayo.” Aeri menarik tangan Edgar dan berjalan masuk ke dalam kuliner.


Terlihat banyak sekali orang-orang yang berjualan disana, dari makanan yang berat hingga camilan biasa. Dengan harga yang terjangkau membuat orang yang di kalangan bawah bisa pergi kesana juga untuk menikmati makanan kuliner.



Aeri dan Edgar berjalan masuk ke dalam sambil melihat-lihat apa saja yang di jual orang disana.


“Sayang ayo kita makan ini.” Ajak Aeri.


Edgar dan Aeri berdiri di depan orang yang jualan rawon. Edgar tidak bisa berkata-kata ia hanya diam mengikuti semua kemauan Aeri walau sedikit tertekan.


Aeri mengajak masuk dan duduk di salah satu kursi yang ada disana, tempat yang kecil dan orang-orang yang berdesakan membuat Edgar tidak betah berada disana.


Mereka berdua duduk bersebelahan dan Aeri juga sudah memesan 2 porsi rawon, menunggu pesanan mereka datang. Aeri mengajak Edgar untuk selfie.


“Kenapa ponsel mu retak begitu?” Edgar merebut ponsel yang ada di tangan Aeri.


“Oh iya, ini sempat terjatuh.” Aeri merebut kembali ponselnya.


Tidak lama kemudian pesanan mereka datang, Aeri memasukkan ponsel ke dalam sakunya.


“Selamat makan.” Ucap Aeri kepada Edgar. Sementara Edgar hanya membalas dengan senyuman.


“Apa kamu tidak pernah ke tempat seperti ini?” tanya Aeri.

__ADS_1


Edgar mengangguk sambil meraih sendok dan garpu yang ada di depannya.


“Benarkah? Padahal di tempat seperti ini sangat enak untuk jalan-jalan. Apa kamu tahu karena apa?”


Edgar menggeleng.


“Karena harganya tidak mahal hahaha.” Aeri tertawa. “Makanya banyak orang yang datang kesini.”


Edgar juga ikut tertawa melihat Aeri bertingkah seperti itu.


Mereka berdua menikmati makanan yang ada di depan mereka sambil bersenda gurau melihat orang-orang yang berlalu lalang di depan sana.


“Akhirnya aku kenyang.” Gumam Aeri sambil mengusap bibirnya dengan tissue. “Setelah ini kita mau pergi kemana?” tanya Aeri kepada Edgar yang sedang memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya.


"Aku tidak tahu."


5 menit kemudian, Edgar berdiri lalu menggenggam tangan Aeri untuk keluar dari tempat itu. Kini mereka berdua kembali berjalan untuk melihat-lihat lagi makanan yang ada disana.


Sudah 20 menit mereka berada di tempat kuliner, daritadi Aeri pergi kesana kemari untuk membeli beberapa makanan yang ia mau dan juga untuk orang rumah, bahkan ia memikirkan teman Edgar yang ada di markas.


Setelah selesai berbelanja di kuliner itu, mereka kembali ke parkiran mobil untuk meletakkan makanan yang sudah di beli.


“Aku masih tidak ingin pulang.” Ucap Aeri membuat Edgar tidak jadi membuka pintu mobil lalu mendekati Aeri.


“Kenapa sayang? Lalu kamu mau kemana?” tanya Edgar mengelus rambut Aeri dengan lembut.


Edgar bingung. “Hah? Maksud mu?”


“Ya kita jalan kaki sayang, lihatlah banyak orang yang berjalan kaki untuk menikmati sisa hari mereka.” Tersenyum.


“Oke baiklah, kita akan jalan kaki.” Edgar menggenggam tangan Aeri.


Edgar benar-benar menepati janjinya bawah ia akan membahagiakan Aeri. perasaan Edgar saat ini benar-benar bahagia ketika melihat Aeri tersenyum bahagia karenanya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk membahagiakan Aeri apapun alasannya ia harus selalu menemani Aeri.


Yang pasti karena ada rasa cinta yang sudah tumbuh sangat besar di hati Edgar Dale Nichols.


Di pinggir jalan banyak toko-toko yang menjual berbagai macam barang, baju, bahkan ada tempat bermain untuk anak kecil dan juga yang dewasa.



Aeri dan Edgar masuk ke sebuah toko yang menjual barang-barang lucu. Di sambut hangat oleh kerayawan toko disana, sejenak Aeri membawa Edgar berkeliling.


Tiba-tiba Edgar menghentikan langkahnya tepat di depan bandu-bandu yang lucu.


Edgar meraih salah satu bandu kelinci lalu memasang bandu itu di kepala Aeri.


“Bukankah ini sangat lucu sayang? Sungguh kau begitu menggemaskan menggunakan bandu ini.” Puji Edgar.

__ADS_1


Aeri mencari kaca untuk bercermin sambil merapikan rambutnya. “Benarkah sayang?”


“Iya sayang.”


Aeri melepaskan bandu itu lalu menyerahkan kepada Edgar. Kini Aeri kembali melihat barang-barang yang lain, siapa tahu ada yang ia suka.


Hampir setengah jam mereka berada di toko itu akhirnya selesai juga. Kini mereka berdua keluar dari sana dengan bandu yang terpasang lagi di kepala Aeri.


Di sore harinya setelah mereka berdua selesai dari tempat Ice Cream. Mereka kembali berjalan kaki untuk menikmati udara yang sejuk dan matahari yang tidak terlalu panas.


“Kenapa kamu mau jalan kaki? Kan bisa keliling menggunakan mobil?” tanya Edgar.


“Karena aku mau jalan-jalan seperti ini bersama kamu, setiap momen bisa kita nikmati bersama.” Jelas Aeri sambil tersenyum manis.


Edgar meraih tangan Aeri lalu menggenggamnya.


Aeri menatap genggaman lalu mencoba untuk melepas.


“Jangan di lepas sayang!!” Edgar mempererat genggaman tangannya.


Edgar dan Aeri melanjutkan langkah kaki mereka yang entah kemana itu. Terlihat ada salah satu toko permainan mesin capit. Aeri melihat toko itu dan langsung menarik tangan Edgar masuk ke dalam sana.


Mereka berdua sudah berada di dalam toko mesin capit, terlihat berbagai macam alat capit tersedia disana.



“Apa kamu mau bermain ini?” tanya Edgar sambil melihat ke sekitar.


Aeri mengangguk. "Boleh ya?"


Edgar melepaskan genggaman tangannya lalu berjalan ke arah yang jual koin, lumayan banyak Edgar membeli koin agar Aeri bisa main sepuasnya. Setelah itu kembali berjalan mendekati Aeri.


“Ini sayang… Silahkan bermain sepuasnya.” Edgar meletakkan puluhan koin di telapak tangan Aeri.


“Kenapa kamu membeli koin banyak sekali?”


“Apa kamu bisa cuman satu kali capit untuk mendapatkan hadiah yang ada didalam mesin itu?” pandangan Edgar ke arah mesin capit yang ada di dekatnya.


Aeri memasang wajah kesal. “Apa kamu meremehkan aku sayang?”


“Hahaha tidak tidak sayang. Sungguh aku tidak bermaksud.” Edgar mengelus kepala Aeri. “Bermainlah, aku akan menemani mu.”


Aeri berjalan duluan menuju ke salah satu mesin capit boneka beruang yang berukuran sedang, diikuti Edgar dengan tangannya yang ia masukkan ke dalam saku celana.


...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung….....


__ADS_2