Takdir Cinta Mafia

Takdir Cinta Mafia
Wanita penggoda


__ADS_3

Saat ini Edgar sedang berada di dalam pesawat, posisi duduk Edgar dekat dengan jendela.


Pandangan Edgar ke arah luar menatap awan putih. “Aku sudah merindukan istri ku.” Gumamnya. “Aku benar-benar tidak bisa jauh darinya.”


“Kau ke Malang hanya sebentar.” Ucap Ernest.


“Kalau kau sudah di hotel, kau bisa langsung menghubunginya.” Sahut Bara.


Tidak lama kemudian, pesawat mereka mendarat di bandar Udara Abdulrachman saleh. Mereka langsung pergi ke hotel yang sudah di pesan dengan jarak yang tidak jauh dari bandara.


Kini mereka sudah tiba di depan hotel yang terkenal mahal dan juga bagus. Mereka memesan 1 kamar hotel yang luas untuk di tempati 3 orang, mereka mengambil kunci dan berjalan menuju kamar yang sudah di pesan.


Ting…….


Lift terbuka, mereka bertiga keluar dan berjalan ke kamar no 20.


Klek….


Mereka bertiga masuk ke dalam kamar hotel, Edgar langsung menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. “Melelahkan.”


Ernest berjalan ke arah jendela dan menatap keluar. “Pemandangan yang indah.” Gumamnya.


“Pertama kalinya aku datang ke kota Malang.” Bara merebahkan tubuhnya ke ranjang dekat dengan Edgar.


“Sore ini kita akan bertemu dengan BLOODS.” Ucap Edgar.


Ernest berjalan ke arah ranjang Edgar dan duduk disana. “Bertemu dimana?”


“Apa di tempat mereka?” tanya Bara.


Edgar beranjak dari ranjangnya. “Ya!” berjalan ke arah balkon untuk bersantai.


Sejenak Edgar menikmati pemandangan lalu meraih ponsel dari dalam sakunya untuk menghubungi Aeri.


Edgar mencari nama “MY WIFE” di kontaknya lalu menelpon. Beberapa saat menunggu, akhirnya Aeri mengangkat telponnya.


“Hallo sayang.” Sapa Edgar kepada Aeri.


“Iya sayang?”


“Kamu lagi dimana?”


“Aku sedang bersantai menonton drama.”


“Aku baru tiba di hotel, mungkin sore ini aku akan bertemu dengan orang yang akan bekerjasama dengan ku.” Jelas Edgar.


“Baiklah sayang, aku selalu mendukung mu. Makanlah yang teratur jangan lupakan kesehatan mu.”


“Aku merindukan mu.” Ucap Edgar, membuat Aeri tersenyum bahagia mendengarnya.


“Aku juga merindukan mu sayang, sungguh malam ini aku tidur sendiri lagi.”


“Apa kamu menggoda ku?” Edgar tersenyum.


“Hah? Tidak sayang, kan benar aku tidur sendiri.”


“I love you sayang.” Edgar berdiri di dekat pagar balkon. “Maaf sayang aku tidak bisa terlalu lama menelpon kamu, karena ada yang ingin ku bicarakan lagi dengan Bara dan Ernest.”


“Iya sayang tidak apa-apa kok.”


“Jangan nakal ya kamu.” Edgar mendekatkan ponselnya ke mulut. “Kalau tidak aku hukum kamu.” Bisik Edgar.


Aeri di buat merinding mendengar perkataan Edgar tadi. “Nanti lagi ya, aku mau…”


“Mau apa?” tanya Edgar mencoba menggoda Aeri.

__ADS_1


“Mau ke dapur sayang.” Jawab Aeri.


Edgar terkekeh. “Dah sayang….” Mematikan telpon lalu memasukkan kembali ke dalam sakunya.


“Dia adalah wanita yang mampu membuat ku seperti ini.” Gumam Edgar sambil masuk kembali ke dalam kamar.


Jam menunjukkan pukul setengah 4 sore. Edgar, Bara dan Ernest sedang bersiap-siap untuk pergi ke markas BLOODS.


Mereka bertiga mengenakan jaket hitam. Setelah semuanya selesai, mereka keluar kamar dan menuju lobby untuk menunggu jemputan.


10 menit mereka menunggu, akhirnya jemputan mereka datang. Yang menjemput adalah bawahan dari BLOODS. Mereka masuk ke dalam mobil dan segera berangkat ke markas BLOODS.


Pukul 5 sore, akhirnya mereka tiba di markas yang sangat besar. Letak markasnya di tengah hutan jauh dari perkotaan.


Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam diiringi beberapa bawahan BLOODS. Ketika mereka sudah berada di dalam sana, terlihat ada puluhan orang yang sedang berdiri disana menatap ke arah mereka bertiga.


Edgar, Bara dan Ernest menghentikan langkah di tengah-tengah ruangan itu, sejenak menatap ke arah orang yang berdiri.


Tap…. Tap…. Tap……


Seseorang berpakaian jubah hitan berjalan ke arah mereka, yaitu Oscar bos dari BLOODS.


Oscar menyodorkan tangannya kepada Edgar. “Selamat datang di markas BLOODS.” Tersenyum.


Edgar mengangguk sejenak menjabat tangan Oscar lalu di lepasnya.


“Mari ikut dengan ku.” Oscar membalikkan badannya dan berjalan masuk ke dalam.


Edgar, Bara dan Ernest berjalan mengikuti Oscar. Mereka berjalan ke ruangan khusus untuk membicarakan kerjasama.


Sudah 1 jam mereka berada di tempat itu, mereka pun keluar dari ruangan khusus dan berjalan keluar.


“Semoga kita bisa bertemu kembali.” Ucap Ernest.


Bara memberikan senyuman kepada Oscar.


Oscar tersenyum sambil mengangguk.


Mereka bertiga pergi dari markas itu di antar lagi oleh bawahan BLOODS ke hotel penginapan.


**


Di Malang, jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi. Saat ini mereka bertiga sedang duduk di sofa.


“Sepertinya besok sore kita akan kembali ke Jakarta.” Ucap Edgar.


Bara dan Ernest melebarkan mata secara bersamaan lalu saling bertatap-tatapan.


“Apa kita hanya 1 hari disini?” tanya Bara.


Ernest geleng-geleng. “Kenapa sebentar sekali.” Kesalnya.


“Ya, aku kepikiran istriku. Kalau mau kalian saja yang berlama disini, aku ingin kembali ke Jakarta.” Jawab Edgar.


“Oke, bagaimana kalau kita pergi ke bar dulu sebelum kembali ke Jakarta?” ucap Ernest.


“Wah ide yang bagus.” Sahut Bara.


“Tenang saja disini ada Bar yang dekat dengan hotel, kita bisa jalan kaki kesana.” Jelas Ernest.


“Aku tidak ikut.” Edgar menolak.


“Kau sangat rugi jika tidak ikut.” Bara berusaha menggoda Edgar agar dia ikut.


Ernest menyentuh bahu Edgar. “Sekali-kali, kita disana hanya minum tidak macam-macam.”

__ADS_1


Beberapa kali Bara dan Ernest menghasut Edgar, Akhirnya terhasut juga.


20 menit kemudian, mereka keluar dari kamar dan berjalan kaki menuju bar itu. m


Bar yang cukup terkenal di kota Malang itu, mereka pun masuk dan duduk disana.


Beberapa saat kemudian, pesanan berbagai macam alkohol mereka pun datang. Kini mereka menikmati minuman yang ada di tangan masing-masing.


Edgar mengambil botol alkohol lalu menuangkan di gelasnya dan meminumnya. Sementara Ernest melihat-lihat wanita malam yang ada disana sambil geleng-geleng lalu meminum minumannya.


Bara yang melihat Ernest juga geleng-geleng. “Selalu saja dia seperti itu.”


“Sebentar lagi kita akan pulang.” Ucap Edgar setelah meletakkan gelasnya di atas meja.


“Ini terlalu singkat untuk berada di tempat seperti ini.” Sahut Ernest.


Edgar memukul kepala Ernest. Kau ini! Tujuan kita kesini hanya minum-minum.”


Bara menuangkan lagi alkohol ke dalam gelasnya.


“Tapi…” Ucap Ernest terpotong.


“Kalau kau ingin masih disini, kau saja sendiri! Aku pulang ke hotel.” Edgar berdiri,


Tiba-tiba ada seorang wanita yang berpakaian terbuka mendekati Edgar.



Edgar menatap dingin ke arah wanita itu. Ernest yang melihat wanita seperti itu langsung berdiri. Sementara Bara masih menikmati minumannya.


Wanita malam itu melingkarkan tangannya di lengan Edgar lalu mengelus dada bidang Edgar.


Edgar melepaskan tangan wanita itu lalu menjaga jaraknya.


“Hahahaha kenapa kau malah menjauh?” wanita itu heran dengan sikap Edgar. “Padahal banyak pria yang ingin berkenalan dengan ku.” Mendekati Edgar. “Kenapa kau malah…..”


“Jangan mendekati ku! Aku sudah mempunyai istri.” Tegas Edgar memundurkan badannya.


Wanita itu terkekeh mendengar perkataan Edgar, karena mau sudah beristri ataupun anak, ia tidak pernah di tolak pria tetapi dengan Edgar berbeda jauh.


“Wow….. Apakah dengan kamu mempunyai istri itu membuat kamu tidak bisa berkenalan dengan seorang wanita seperti ku?” godanya. “Aku cantik dan bisa memberikan kepuasan, kenapa kau…..”


“Ya! Aku tidak ada waktu untuk berkenalan dengan wanita seperti mu! Karena terlalu murahan.” Ucap Edgar. “Dan istriku lebih cantik dari mu, dia lebih memuaskan di banding dirimu.” Edgar melihat wanita itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Kau tidak ada apa-apanya di banding istriku.” Berjalan keluar dari bar.


Padahal Edgar belum pernah melakukan apapun dengan Aeri, tetapi ai mengatakan seperti itu kepada wanita lain.


Ketika seseorang benar-benar mencintai, mau di belahan bumi mana pun, ia akan tetap setia menjaga dirinya. Bahkan ia akan selalu memuji orang yang di cintainya kepada semua orang.


Ernest berjalan mendekati wanita malam yang sedang kesal karena di tolak Edgar. “Jika dia tidak mau, kau bisa bermain dengan ku malam ini.” Godanya.


Bara langsung menarik tangan Ernest dan membawanya pergi dari bar itu untuk menyusul Edgar.


“Kenapa kau malah menarik ku hah?” Teriak Ernest kepada Bara yang masih menarik tangannya.


“Di pikiran mu selalu wanita-wanita yang tidak seperti itu.” Ucap Bara.


“Hahaha kau tidak akan paham.” Ucap Ernest.


“Aku juga begitu, tapi tidak gila seperti mu.” Sahut Bara.


Kini mereka bertiga berjalan menuju hotel, setelah itu beristirahat.


...- First time saya membuat cerita seperti ini, maaf jika dalam penulisan masih banyak kekurangan...


...- Jika suka dengan ceritanya, jangan lupa dukung terus karya ini. Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung……....


__ADS_2