
"Kesuksesan seorang pria tak pernah terlepas dari istri di belakangnya. Namun sebaliknya, keterpurukan seorang pria dapat datang dari doa seorang istri yang teraniaya."
Dengan penuh kemarahan, Jefri melajukan mobilnya menuju jalan pulang ke rumah kediamannya. Ingin kembali ke kantor sudah tanggung karena sebentar lagi waktunya karyawan pulang.
Mami manda sedang menonton televisi saat Jefri pulang. Dengan wajah penuh keheranan Mami memandangi Papi. Pria itu mendekati Manda dan duduk disampingnya. Masih tampak kekesalan dari raut wajahnya yang cemberut.
"Ada angin apa yang membuat Papi pulang cepat hari ini?" tanya Mami. Wanita itu heran karena sejak hubungan mereka renggang tiga tahun lalu, Jefri tidak pernah pulang cepat. Bahkan satu tahun pertama dulu, dia selalu pulang dalam keadaan mabuk.
Mendengar pertanyaan dari istrinya Manda, Jefri jadi kurang senang. Dipandanginya wanita itu dengan wajah tegang menahan kemarahan. Kekesalannya pada Melani di lampiaskan pada Manda.
"Apa sebenarnya maumu? Aku pulang cepat kau pertanyakan, jika aku tidak pulang kau marah!"
"Aku cuma heran. Sudah suatu kelangkaan melihat kamu di rumah jam segini. Apa wanita simpanan kamu mulai mengacuhkanmu?" tanya Manda lagi.
Pertanyaan Manda seperti api yang disiram bensin, membuat hati Jefri yang marah makin berkobar. Dia berdiri mendekati Manda, dengan berkacak pinggang Jefri berkata. "Bagaimana aku bisa betah di rumah. Sesekali aku pulang kau suguhkan dengan pertanyaan yang menyakitkan seperti ini!"
__ADS_1
Mandi bukannya takut melihat kemarahan Jefri, wanita itu bahkan tersenyum menanggapinya. Dia balas menatap pria itu.
"Sebagai seorang istri, aku tahu alasan kenapa kamu sudah mulai tidak betah diam di rumah, biasanya ada orang lain di sana yang sudah menarik hatimu. Aku tidak mengerti dengan cara berpikirmu. Diamnya istri itu bukan berarti membiarkanmu berbuat sesuka hati dan menyakitiku. Jangan pernah menekan orang yang setia ke titik di mana dia tidak lagi peduli."
"Bagaimana aku tidak mencari wanita lain jika sikapmu begini. Wanita itu selalu menyambutku dengan senyuman bukan seperti kamu ini!"
Manda makin tersenyum mendengar ucapan Jefri. Walau hatinya remuk, dadanya terasa sesak mendengar perkataan pria yang masih sah sebagai suaminya itu namun, Manda tidak akan mau memperlihatkan kelemahannya.
"Jangan samakan aku dengan wanita simpananmu. Wanita itu hanya menginginkan uangmu, pantas kalau dia selalu tersenyum menyambutmu. Sesekali aku ingin kau bercermin dan melihat seseorang yang pantas mendampingimu. Apakah aku, orang yang bersedia hidup bersamamu, ataukah dia, orang yang kau anggap menarik meski sebenarnya pengganggu.”
"Siapa yang mengatakan jika dia hanya menginginkan uangku? Dia juga melayaniku dengan baik, menyambutku dengan senyuman dan berkata dengan lembut!"
Hati Manda makin remuk mendengar Jefri dengan terang-terangan memuji wanita simpanannya. Apa lagi kurangnya dirinya? Kurang pelayanan bagaimana yang dimaksud suaminya itu? Padahal, walau Manda mengetahui suaminya selingkuh dia tetap melayani dengan baik dan tetap berusaha menjalani kewajiban sebagai istri walau tidak pernah dihargai.
"Dengar Jefri, jangan pernah meninggalkan seseorang yang baik untuk orang yang kini kau anggap terbaik. Pada saatnya nanti, jika kau akhirnya memilih pergi. Kau mungkin akan sadar bahwa yang terbaik sebenarnya sudah ada padamu sejak lama. Pergilah dan lakukan semua apa yang kamu inginkan, jika keberadaanku sudah membuatmu tidak nyaman lagi bagimu."
__ADS_1
Manda berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan suaminya seorang diri. Dia tidak ingin berdiri di sana lebih lama karena takut tangisannya bobol.
Jefri menarik napas dalam melihat kepergian Manda. Dia menarik rambutnya frustrasi. Baru menyadari ucapannya yang menyakitkan tadi. Ucapannya tadi telah menegaskan jika dia memiliki simpanan.
Tangisan Manda pecah di kamar Mandi. Dia menghidupkan shower dan mandi dibawah guyuran air itu dengan tangisan. Manda ingin mengakhiri semua ini. Namun, entah mengapa hatinya masih berat untuk melepaskan semua.
Manda berjanji mulai hari ini dia tidak akan pedulikan apapun yang akan Jefri lakukan. Namun, untuk berpisah dia tidak akan lakukan dalam waktu dekat ini. Dia ingin pindahkan dulu semua hartanya atas nama dirinya. Manda tidak sudi membagi hartanya buat wanita lain. Jika saat ini dia berpisah, itu artinya harta akan dibagi dua.
Setiap orang butuh untuk dihargai perjuangannya. Pilihannya adalah ia menjadi senang karena telah dihargai atau menjadi luka batin karena tidak pernah merasa dihargai. Akan ada waktu ketika orang yang sabar menjadi muak, orang yang peduli menjadi masa bodoh, orang yang setia menjadi angkat kaki. Itu adalah ketika sifat sabar, peduli, dan setianya tidak dihargai.
...****************...
Visual Jefri dan Manda.
__ADS_1