
Kenapa Om Jefri ada di dalam foto ini sama Yudha dan Tante Manda? Tanya Lani dalam hati.
"Ini Tante sama siapa, ya?" tanya Lani.
"Itu papinya Yudha, Lan," jawab Mami Manda.
Om Jefri itu papinya Yudha? Batin Lani. Dia berubah jadi gugup, kaget karena mengetahui kebenaran ini.
"Itu memang Papi aku, Lan." Yudha mengimbuhi yang dikatakan Mami Manda tadi.
Jadi Om Jefri beneran papinya Yudha. Batin Lani usai mendengar perkataan Yudha.
Lani benar-benar gugup, kepalanya seketika terasa sedikit pusing usai mendengar kenyataan barusan.
Lani tidak mengira kalau ternyata dunia akan sesempit ini. Selama ini Lani tidak pernah tahu siapa papinya Yudha. Begitu pula Yudha yang tidak pernah menyinggung mengenai nama papinya. Hanya cerita tentang perselingkuhan Papinya.
"Kamu kenapa, Lan? Kok jadi diam begini?" tanya Yudha yang tahu ada sedikit perubahan di raut wajah Lani.
Mami Manda ikut memerhatikan Lani, dia bahkan turut prihatin kalau seandainya terjadi sesuatu kepada Lani.
"Aku enggak kenapa-napa kok," jawab Lani seraya menggelengkan kepalanya. Sebisa mungkin Lani menepis segala rasa gugupnya setelah mengetahui kebenarannya.
"Yakin, kamu tidak kenapa-napa?" Mami Manda ikut memastikan.
"Iya, Tante," angguk Lani sembari memaksakan senyumnya.
Aku harus gimana di depan Tante Manda sama Yudha? Batin Lani sedikit merasa bersalah.
"Ya sudah, kita istirahat dulu yuk." Mami Manda mengajak Lani ke ruang keluarga karena dia khawatir akan kondisi Lani. Pasalnya, wajah gadis itu terlihat sedikit pucat.
Aku nggak boleh kelihatan gugup di depan mereka. Pokoknya apa pun alasannya, mereka nggak boleh tahu tentang kebenaran ini. Batin Lani lagi.
"Mending aku langsung ke dapur saja, Tante. Biar lebih cepat nanti matangnya." Lani lebih memilih ke dapur dan akan membuatkan kue untuk Mami Manda supaya dia tidak terus-menerus merasa gugup. Setidaknya kalau dia sibuk di dapur nanti, Lani akan sedikit lupa pada apa yang dia rasakan.
__ADS_1
"Oh begitu ya? Ya sudah kalau memang mau kamu begitu. Ayo Tante tunjukkan di mana dapurnya." Mami Manda mengajak Lani ke dapur, dan itu diikuti oleh Yudha di belakangnya.
Lani dan Mami Manda sudah berada di dapur. Seperti janji Lani, dia akan membuatkan kue. Kali ini, Lani akan membuat lava cake rasa strawberry sesuai permintaan Mami Manda.
Yudha lebih memilih memerhatikan kedekatan maminya dan Lani. Dia tersenyum ketika mengetahui dua perempuan yang dia sayang itu bisa akrab di dapur. Bahkan sesekali, Yudha juga memotret atau mengabadikan kebersamaan mereka dalam sebuah video untuk kenang-kenangan yang bisa dia lihat lagi kapan-kapan nanti.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Yudha mendekati Lani yang menurutnya terlihat kesulitan.
"Tidak ada, mending kamu duduk di sana saja." Lani mengusir Yudha supaya tidak dekat-dekat dengannya, tentunya itu dengan nada candaan yang membuat Mami Manda tertawa.
Mami Manda sedari tadi juga ada di dapur, tapi dia tidak membantu Lani. Melainkan Mami Manda sedang prepare untuk memasak buat makan malam mereka hari ini.
Jadi, kedua perempuan itu sibuk dengan masakan mereka masing-masing. Namun sesekali Mami Manda juga bertanya kepada Lani mengenai cara membuat lava cake.
"Kamu pinter banget bikin lave cake-nya, belajar di mana, Sayang?" tanya Mami Manda.
Lani yang dipanggil sayang oleh Mami Manda jadi merasa sedikit aneh karena mengetahui bahwa perempuan paruh baya itu adalah istri dari laki-laki yang selama ini sering bersamanya.
"Kalau begitu, nanti kapan-kapan kamu bisa ke sini lagi dong ya, buat ngajarin Tante bikin lava cake lagi?" Mami Manda mengusap rambut panjang Lani seraya tersenyum cantik.
"Hehehe, iya Tante." Lani nyengir bagai kuda, meski dia tidak yakin apakah masih bisa datang ke rumah ini atau tidak.
"Bukannya tadi Tante bilang opor ayam? Tante masak apa lagi?" Lani berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Tante mau bikin sambal goreng ati sama tumis labu siam dicampur tahu buat pelengkap." Mami Manda memperlihatkan bahan-bahan yang sudah dia siapkan.
Lani mengiyakan. Mereka kini lanjut menyelesaikan pekerjaan masing-masing. Bahkan Lani juga sesekali membantu Mami Manda saat dia sudah selesai membuat lava cake. Keduanya terlihat tertawa bersama dan Lani bisa merasakan ketulusan dari Mami Manda yang menerimanya di rumah ini.
"Yud, sini bantu Mami sama Lani buat membawa makanan ini ke meja makan." Mami Manda memanggil putranya yang sedari tadi sibuk bermain gim di ponselnya.
Yudha tidak bisa menolak, "Iya, Mi." Dia segera bangun dari duduknya dan membantu membawa apa saja yang akan dihidangkan di meja makan.
Sekarang, semua makanan sudah ada di atas meja makan. Termasuk lava cake buatan Lani tadi. Mereka lebih dulu makan makanan berat.
__ADS_1
"Makan yang banyak ya, Lan. Mumpung kamu di sini, makan saja semuanya. Kamu tidak perlu sungkan, anggap saja ini rumah sendiri." Mami Manda menambahkan setengah centong nasi dan mengambilkan satu potong dada ayam serta lauk pauk yang lainnya ke piring Lani, membuat Lani sedikit merasa tidak enak.
"Iya, kamu makan saja yang banyak. Masakan Mami itu masakan paling enak, kamu nggak akan nyesel pokoknya." Yudha ikut bicara membuat Lani cuma bisa tersenyum.
"Makasih ya, Tante," ucap Lani disertai rasa bersalahnya.
Lani mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Apa yang dikatakan oleh Yudha memang benar, bahwa masakan Mami Manda memang nikmat. Bahkan Lani yakin kalau dia akan bisa menghabiskan semua makanan yang ada di dalam piringnya.
"Masakan Tante memang enak-enak semua." Lani tulus memuji rasa dari masakan yang dibuat oleh Mami Manda.
"Tante sudah tidak heran mendengarnya, Yudha selalu mengatakannya setiap hari. Bahkan Papinya Yudha juga bilang, kalau masakan Tante itu selalu nikmat." Mami Manda dengan bangganya membanggakan masakannya kepada Lani. Tanpa Mami Manda ketahui kalau apa yang barusan dia ucapkan itu membuat Lani jadi semakin merasa bersalah.
"Tapi semenjak Papi ada simpanan dia berubah," ujar Yudha.
"Sudah, jangan membahas Papi lagi. Nanti kamu bawa pulang sebagian ya," ucap Mami Manda yang hanya bisa diangguki oleh Lani.
Acara makan sudah selesai, sekarang giliran mereka menikmati lava cake buatan Lani. Yudha mengacungkan kedua jempolnya kepada Lani, sebagai tanda bahwa lava cake itu memang enak.
"Seriusan, ini enak, Tante?" tanya Lani karena dia takut apa yang dikatakan oleh Yudha itu hanyalah kebohongan.
"Serius, Yudha nggak bohong kok. Tante suka, ini enak banget." Mami Manda juga turut memuji lava cake buatan Lani yang memang enak.
Lani merasa sedikit lega usai mendengar bahwa lava cake buatannya enak. Namun perasaan Lani tetap saja tidak keruan. Dia merasa sedih dan bersalah, rasanya bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
Ada rasa tidak enak setiap dia melihat wajah Yudha dan Mami Manda. Perasaan bersalah karena sudah menjadikan ayah dari kekasihnya itu sebagai sugar daddy-nya.
Tante Manda baik banget sama aku, bagaimana nanti kalau Tante Manda tahu bahwa aku ini selingkuh dengan suaminya?
Batin Lani.
Perasaan bersalah terus menyelimuti hati Lani, terlebih lagi Lani tahu bahwa Mami Manda sangat baik kepadanya.
...****************...
__ADS_1