TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 39. Aku Harus Pergi.


__ADS_3

Yudha keluar dari restoran sebelum dia diusir pemiliknya. Lelaki itu tidak lagi menghiraukan Jefri dan Lani. Dia ingin pulang karena Yudha merasa kasihan kepada maminya yang sudah dikhianati oleh papinya dengan Lani, wanita muda yang pantas jadi anaknya.


Bagi Yudha putus dengan Lani ternyata adalah pilihan yang bagus. Kini dia tidak menyesal lagi karena sudah putus dengan gadis itu.


Untungnya mobil Yudha masih bisa sampai di pom bensin terdekat, jadi dia tidak akan kehabisan bahan bakar. Tanpa mampir-mampir terlebih dulu, Yudha akan secepatnya pulang.


Di restoran, Lani langsung keluar begitu saja karena dia malu dilihat orang banyak dan sudah ketahuan bahwa dia ternyata menjadi simpanan dari lelaki yang memiliki anak seusianya. Begitu pula Jefri, usai membayar, dia segera menyusul Lani ke mobil dan pergi dari sana.


Yudha memarkirkan mobilnya di garasi rumah. Dia masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Yudha tidak tahu harus bilang apa kepada maminya kalau barusan dia memergoki papinya sedang jalan berdua dengan Lani, perempuan yang kemarin menjadi kekasihnya dan yang pernah dia kenalkan kepada maminya.


"Loh, kamu sudah pulang? Memangnya, sudah selesai bikin tugasnya?" Suara Mami Manda terdengar dari arah lain, dan itu membuat Yudha seketika menoleh ke arah maminya.


Yudha berusaha mengembangkan senyumnya kepada maminya. Dia memeluk maminya hingga membuat Mami Manda sedikit heran pada tingkah putranya.


"Kamu kenapa?" tanya Mami Manda seraya memicingkan matanya.


"Aku cuma lagi ingin memeluk Mami saja." Yudha berusaha mencari alasan lain supaya maminya tidak langsung tahu. Meski rencananya Yudha juga akan memberi tahu Mami Manda mengenai kebejatan Jefri dan Lani di belakang mereka.


"Mi, aku bisa bicara sebentar sama Mami nggak?" tanya Yudha hati-hati.


Mami Manda memicingkan kedua matanya sebentar, "Mau bicara apa memangnya?" tanya Mami Manda.


"Penting, Mi. Sebentar doang." Yudha masih membujuk dan memaksa maminya supaya meluangkan waktunya untuk dirinya.


"Ya sudah, ayo mau ngomong apa?" Mami Manda meminta Yudha mengikutinya duduk di ruang keluarga.

__ADS_1


Yudha sudah merasa deg-degan, dia bingung untuk memulainya dari mana. Yudha takut salah bicara dan nanti malah semakin melukai perasaan Mami Manda.


"Mau bicara apa? Kok malah diam sih?" tanya Mami Manda seraya mengusap puncak kepala Yudha.


Yudha menarik napas dalam-dalam, dia menatap maminya lama dan Yudha berharap kalau dia tidak salah bicara. Yudha merasa kalau maminya memang wajib tahu mengenai hal ini.


"Sebenarnya tadi aku nggak ngerjain tugas, Mi." Yudha mengaku, tapi Mami Manda malah tertawa mendengarnya. "Kok Mami malah ketawa sih?" tanya Yudha.


"Bukan apa-apa, tapi padahal 'kan Mami juga tidak akan melarang kamu pergi main kalau kamu bilang jujur ke Mami. Lagi pula, ngapain pakai bohong segala?" Itulah tanggapan Mami Manda.


"Tadi itu sebenarnya aku mau mengintai Lani, Mi. Tapi ternyata aku malah ngelihat Lani jalan sama Papi," ucap Yudha.


Tubuh Mami Manda jadi berubah tegang. Dia tidak menyangka kalau Yudha akan mengatakan ini kepadanya mengenai mereka berdua. Yudha melihat ada perubahan di raut wajah maminya dan Yudha segera memeluk maminya.


Yudha pikir wajah Mami berubah karena kaget mendengar perselingkuhan Lani dan Jefri, padahal Mami Manda kaget karena Yudha yang telah mengetahui siapa Lani sebenarnya.


Sebenarnya hal yang membuat Mami Manda kaget itu karena Yudha mengetahui hubungan papinya dan Lani.


Namun Mami Manda masih berpura-pura kaget di depan Yudha karena Mami Manda tidak mau Yudha tahu bahwa ternyata dirinya sudah mengetahui hubungan mereka berdua.


Yudha melepaskan pelukannya dari tubuh Mami Manda. Dia mengusap air mata yang menetes di wajah wanita paruh baya itu. Bagi Yudha, melihat maminya menangis itu lebih sakit ketimbang mengetahui hubungan papinya dan Lani.


"Kamu tidak sedang mengada-ada 'kan, Yud? Siapa tahu itu bukan Papi kamu," ucap Mami Manda masih berpura-pura kaget.


Yudha menggelengkan kepalanya, "Aku tadi melihat dengan mata kepala aku sendiri, kalau mereka lagi makan di restoran dan mereka terlihat sangat mesra, Mi. Bahkan Papi menunggu Lani di apartemen yang Papi belikan untuk perempuan tidak tahu malu itu." Yudha kembali menjelaskan semuanya kepada maminya.

__ADS_1


Bagus deh kalau Yudha sudah tahu mengenai kebenarannya. Tentang siapa Lani sebenarnya, jadi Yudha tidak akan mengejar-ngejar Lani lagi. Batin Mami Manda.


Mami Manda menangis, "Padahal Mami sudah menerima Lani dengan sangat baik, tapi kenapa dia tega mengkhianati kita berdua?"


Yudha berusaha menenangkan maminya. Dia tahu kalau maminya pasti kaget bukan main mengetahui kenyataan ini. Terlebih lagi saat Yudha ingat bahwa tadi papinya mengatakan bahwa dia juga menjadi teman ranjangnya Lani. Hal itu membuat Yudha semakin jijik kepada Lani dan papinya.


Selama ini Yudha merasa bahwa maminya sudah sangat baik kepada papinya, tapi entah apa yang membuat papinya gelap mata sehingga memacari perempuan yang usianya sama dengannya.


"Mi, aku mau pindah kuliah ke luar negeri saja. Aku nggak sanggup berada di sini, Mi. Aku sudah muak lihat muka Papi, apalagi aku satu kampus sama Lani. Aku nggak mau ketemu sama dia di kampus." Yudha tiba-tiba meminta supaya dia pindah kuliah ke luar negeri saja. Selain karena Yudha juga merasa muak kepada Jefri dan Lani, dia juga ingin menyembuhkan luka hatinya yang dikhianati.


Sekarang Yudha merasa hatinya begitu sakit. Ada banyak kenyataan yang menggores hatinya sampai Yudha tidak tahu lagi bagaimana caranya dia mengobatinya.


Sementara Mami Manda, dia sedikit kaget saat mendengar permintaan Yudha untuk pindah kuliah ke luar negeri. Kalau Yudha pindah ke luar negeri, otomatis dirinya akan berada di rumah ini hanya seorang diri saja.


Mami Manda takut kalau dirinya akan kelelahan menghadapi Jefri sendirian. Namun Mami Manda juga tidak ingin mengguncang mental putranya apabila nanti di antara dirinya dan Jefri terjadi pertengkaran karena perselingkuhan Jefri dan Lani.


Mami Manda dilanda dilema. Dia berusaha meyakinkan dirinya untuk mengambil keputusan yang baik buat Yudha. Karena bagi Mami Manda, Yudha tetap yang utama.


"Mi, aku nggak mau ketemu Papi. Aku sudah terlanjur kecewa dan sakit hati sama Papi, Mi. Jadi aku mau kuliahku pindah ke luar negeri saja." Yudha kembali memaksa.


Sebenarnya, Yudha pun tidak tega kalau harus meninggalkan maminya sendirian di sini. Namun Yudha juga tidak bisa kalau suatu hari harus bertemu dengan papinya dan kalau nanti dia tidak sengaja bertemu dengan Lani di kampus. Karena pasti, Yudha dan Lani akan bertemu secara tidak sengaja.


"Pokoknya, aku nggak mau masuk ke kampus lagi, Mi."


"Iya, Yudha. Mami mikir dulu sebentar dong. 'Kan ini tetap harus dipikirkan, tidak bisa sembarangan langsung iya-iya saja." Mami Manda berusaha menenangkan putranya yang sedang digempur mental dan hatinya secara bersamaan.

__ADS_1


...****************...



__ADS_2