
"Jangan pernah mengabaikan orang yang peduli padamu. Karena suatu saat kamu akan menyadari bahwa kamu telah kehilangan berlian, saat kamu sibuk mengumpulkan batu."
***
Jefri duduk di meja makan dengan Manda. Dia ingin menebus kesalahannya yang lupa makan malam untuk merayakan anniversary pernikahan mereka.
"Maaf aku lupa janjiku untuk makan malam. Kerjaan di kantor lagi menumpuk," ucap Jefri berbohong, sambil menyantap sarapan mie goreng seafood yang dibuatkan Manda tadi pagi.
"Aku sudah terbiasa jika kamu melupakan semuanya. Jika awal-awal dulu, mungkin aku akan marah dan sedih. Tiga tahun seperti ini, hatiku telah kebal. Jadi kamu tidak perlu minta maaf. Hatiku ini buatan Tuhan, pasti kuat menerima apa pun yang kamu lakukan."
Manda bicara dengan pelan, namun semua jelas di dengar Jefri. Dia tahu, kali ini sudah keterlaluan. Hari pernikahan saja dia lupa. Padahal sampai detik ini Manda masih menjalankan peran sebagai istri yang baik. Namun, pesona Melani jauh lebih mengikatnya.
__ADS_1
"Kamu tahu Jef, yang lebih buruk dari dibenci adalah diabaikan karena aku seperti tidak ada sama sekali, dan kehadiranku bukanlah apa-apa bagimu. Kenapa aku masih diabaikan setelah semua yang kulakukan untukmu, aku memberikan hatiku padamu karena aku sayang dan cinta. Sungguh menyakitkan menjadi orang yang selalu berusaha menjadi apa yang dibutuhkan orang lain, tetapi tidak pernah dihargai. Aku berharap aku bisa mengabaikanmu seperti kamu mengabaikanku."
Jefri terdiam mendengar ucapan istrinya itu. Terkadang Jefri merasa dirinya memang sangat keterlaluan. Hingga detik ini, Manda masih terus menjaga nama baiknya baik di depan rekan kerja maupun keluarga.
Tidak pernah Jefri mendengar Manda mengeluh atas sikapnya. Padahal Jefri yakin, Manda tahu dirinya ada simpanan karena telah dua tahun mereka tidak melakukan hubungan badan.
"Maafkan aku, memang diakui kali ini aku keterlaluan. Tapi aku betul-betul lupa, bukan aku sengaja. Aku tahu kamu kecewa," ucap Jefri dengan raut wajah menyesal.
"Bagaimana aku bisa tenang, jika setiap kali kau pulang bukan lagi aku yang kau cari, saat kau terbangun bukan lagi namaku yang kau sebut. Bagaimana aku akan menjadi tenang jika tidak ada lagi cinta untukku di matamu." Manda tersenyum dengan terpaksa.
"Aku lembur, tapi akan aku usahakan nanti malam kita bisa makan bareng berdua merayakannya." Jefri berjanji kali ini akan mengusahakan waktu untuk Manda. Tidak ada salahnya dia tetap peduli seperti Manda yang selalu tetap peduli walau tahu diabaikan.
__ADS_1
"Semoga ini menjadi kebohongan terakhirmu untukku, aku mungkin memaafkan tapi aku tidak akan lupa apalagi menghapus kecewa. Kau mungkin beranggapan bahwa aku adalah orang yang sabar. Aku memberi banyak kesempatan kedua. Tapi aku bukan orang suci. Aku memiliki batas kemampuan dan kesabaran. Ingatlah Jefri, suatu saat semua akan berbalik. Yang menyakiti akan disakiti. Yang mengkhianati akan dikhianati. Yang melukai akan dilukai. Yang meninggalkan akan ditinggalkan."
Setelah mengucapkan itu Manda berdiri dari duduknya dan meninggalkan Jefri seorang diri. Sepertinya kali ini Manda tidak bisa menyimpan rasa kecewanya. Yudha yang melihat semua itu dari lantai atas mengepalkan tangannya menahan amarah.
Jika saja Mami Manda tidak pernah memohon pada Yudha untuk tetap menghargai Papi, mungkin saat ini Yudha sudah baku hantam dengan pria itu
Yudha berjalan turun dengan sedikit berlari. Saat sampai di lantai bawah, Yudha berpapasan dengan Papi-nya itu.
"Mau kemana kamu, Yudha? Nggak sarapan dulu?" tanya Jefri.
Dengan mata menyala Yudha menatap Jefri dan berucap "Jangan pura-pura perhatian. Jika matiku saja mungkin tak Papi pedulikan!" Setelah mengucapkan itu Yudha berjalan meninggalkan Jefri seorang diri.
__ADS_1
Jefri menarik napas dalam. Dia tidak marah dengan sikap Yudha yang kurang sopan begitu dengannya. Jefri tahu, semua itu pelampiasan dari rasa kecewanya Yudha pada dirinya.
...****************...