TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 18. Permintaan Lani.


__ADS_3

Lani dikagetkan dari lamunannya saat mendengar benturan benda keras di dinding. Saat mencari tahu asal suara, Lani melihat ponselnya telah menjadi serpihan. Jefri melempar ponsel itu dengan sangat keras ke dinding.


"Kamu pikir bisa membodohi aku!" teriak Jefri. Kemarahan Jefri dengan Lani juga dikarenakan pria itu baru menerima surat gugatan cerai dari Manda.


Setelah menerima surat itu, Jefri mencoba menghubungi istrinya itu. Namun, Manda tidak mau mengangkatnya. Jafri yang sedang kesal melajukan mobilnya menuju kediaman Lani beeharap mendapat penghiburan dari wanita simpanannya itu, tapi Lani tidak berada di rumah dan Jefri harus menunggu hingga malam baru Lani pulang.


Lani menatap ponselnya dengan hati yang sedih. Bukan karena ponsel itu yang hancur, tapi dia takut Yudha tidak bisa menghubungi dirinya lagi.


Jefri mendekati Lani, dan menarik kuat kerah baju Lani, dan memaksa wanita itu berdiri. Lani memandangi wajah Jefri tanpa rasa takut. Dia sudah bosan dan muak menghadapi sifat kekanakan pria itu.


"Ponselmu masih banyak baterai-nya. Kamu sengaja mematikan agar tidak ada yang mengganggu. Sebenarnya apa yang kamu lakukan di luar sana! Apa kamu juga menjual dirimu atau jangan-jangan kamu memang menjajakan tubuhmu pada semua pria, bukan hanya aku saja!" Jefri makin emosi mengingat jika Lani berhubungan badan dengan pria lain.


"Jika aku memang berhubungan dengan pria lain, Om mau melakukan apa? Tidak terima? Jika Om memang tidak bisa menerimanya, sebaiknya kita akhiri semua ini. Om bisa ambil semuanya yang aku miliki saat ini,"

__ADS_1


Kemarahan Jefri makin memuncak mendengar ucapan Zaara. Tangannya langsung mengudara dan menampar pipi Lani keras hingga dia terhuyung.


"Dasar ja*lang kau pikir setelah menikmati semua uang yang aku berikan kau bisa seenaknya saja pergi dan melepaskan semua!" Teriak Jefri keras.


Yana yang mendengarnya menjadi takut. Pertama dia takut jika anaknya Lani disakiti.Namun, yang paling Yana takutkan dari kemarahan Jefri adalah berhentinya dana dari sahabatnya itu.


Lani merasa pipinya memanas dan perih. Namun, tidak membuat wanita itu takut dan tetap berdiri tegak dihadapan Jefri. Dengan menahan sakit yang dirasakan dia menantang Jefri.


"Hubungan ini sudah tidak sehat. Aku sudah tidak nyaman berada di samping, Om. Bukankah dengan uang yang Om miliki bisa mencari wanita lain."


Jefri menghempaskan tubuh Lani ke kasur dan menarik baju Lani kuat hingga sobek. Dia juga melecuti seluruh pakaian Lani. Wanita itu berusaha menahan dengan kedua tangannya.


"Kenapa kau menahannya? Apa sekarang kau mulai merasa punya malu? Dulu saja saat masih perawan kau dengan suka rela mengangkangkan kakimu untuk mendapatkan uang. Kau pikir ada gunanya malu-mu saat ini. Kau itu sama saja dengan pe*la*cur yang menjual tubuhnya demi uang!"

__ADS_1


"Aku memang salah. Mau menjual diriku untuk kesenangan sesaat. Namun, saat ini aku telah sadar jika uang bukan segalanya. Aku akan mengganti uang yang Om berikan dengan mengangsurnya tiap bulan dari hasil kerjaku. Aku akan segera mencari kerja," ucap Lani tanpa rasa takut.


"Pekerjaan yang pas untukmu cuma ini," ucap Jefri kembali berusaha membuka semua kain yang melekat di tubuh Lani hingga gadis itu polos. Jefri menarik tangan Lani dan membawanya ke depan cermin.


"Lihatlah, setiap jengkal kulit di tubuhmu telah aku jelajahi. Kenapa sekarang kau berpura-pura malu? Kau pikir masih ada pria baik yang mau menerima tubuhmu yang bekasku pakai setiap saat ini," ucap Jefri.


Lani tidak mau memandangi tubuhnya. Baru saat ini dia merasa kotor. Dia sadar jika seluruh tubuhnya telah menjadi milik pria tua itu.


Jefri kembali menarik tangan Lani dan melemparnya ke kasur hingga tubuhnya terlentang. Jefri membuka seluruh pakaian yang melekat ditubuhnya.


Setelah polos, dia naik ke ranjang dan menaiki tubuh Lani. Jefri melakukan penyatuan tanpa pemanasan. Kali ini air mata Lani tidak bisa di bendung lagi. Mengalir deras membasahi pipinya.


Dia merasa dirinya wanita hina. Apakah pantas dia mendampingi Yudha? Lani menangis menyesali apa yang pernah dia lakukan.

__ADS_1


"Ini pekerjaanmu dari dulu. Hanya memuaskan aku. Jangan sok suci," ucap Jefri sambil terus melakukan penyatuan.


...****************...


__ADS_2