
Telah seminggu berlalu, hari ini Yudha dan Aira kembali dari bulan madunya. Lani dari pagi telah berada di rumah kediaman Manda untuk membantu wanita itu masak buat menyambut anak dan menantunya.
"Lani, kamu tidak ada niat buat menikah?" tanya Manda sambil memasak.
"Siapa yang mau denganku, Tante. Umurku saja entah tinggal berapa tahun lagi," jawab Lani pelan.
"Umur itu tidak bisa kita tahu. Karena ajal adalah rahasia Tuhan. Bisa saja Tante yang duluan meninggal."
"Lagi pula aku menikah dengan siapa, Tante?" tanya Lani.
Sebenarnya ada rasa canggung Manda menerima Lani, tapi dia membuang semua rasa itu dengan berpikir jika Lani ini hanyalah saudara tirinya Yudha.
Manda juga berpikir jika Lani selama ini bersikap baik, tidak ada salahnya menerima dirinya. Semua juga bukan kesalahan Jefri.
"Dengan Jefri. Bukankah kamu hanya berhubungan dengannya. Kenapa tidak menikah saja dengan Jefri?"
Lani hanya tersenyum menanggapi ucapan Manda. Tidak pernah dia berpikir akan menikah dengan pria itu, baik dulu hingga saat ini.
__ADS_1
Kalau memang niatnya ingin menikah, kenapa tidak dari dulu saja. Dia dan Jefri hanyalah teman ranjang. TEMAN RANJANG DARI SAHABAT IBUNYA.
Lani tidak mau menikah dengan pria itu karena dihatinya memang tidak ada perasaan apa-apa selain hubungan ranjang.
"Aku tidak pernah ada niat menikah dengan Om Jefri, walau pun dulu aku belum tahu dia itu suami Tante," ucap Lani dengan menunduk.
Manda tersenyum. Didekatinya Lani dan memeluk bahu wanita itu. Diakuinya Lani ini berbeda dari ibunya. Dia lembut dan baik. Itulah mungkin sebabnya Manda bisa memaafkan wanita itu.
"Dengar Lani, jika aku mengatakan kamu bisa menikah dengan Jefri, itu emang benar dari hatiku. Agar hidup kamu teratur dan ada yang menjaga jika sakit nanti. Aku sudah mengikhaskan kamu dengan Jefri. Dan menurutku, pria yang terbaik untukmu adalah Jefri. Kenapa begitu? Karena dia yang pernah tidur denganmu. Nanti setelah menikah, kamu bisa pergi berobat ke luar negeri ditemani Jefri."
"Aku tidak bisa, Tante. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku seorang diri. Aku hanya ingin mendekatkan diri pada Tuhan hingga aku harus pergi selamanya."
"Terima kasih doanya, Tante."
Lani dan Mami Manda kembali melanjutkan memasak lauk dan kue. Dua jam lagi Yudha dan Aira kembali.
Setelah selesai semua lauk dan kue yang dibuat, Lani segera pamit. Dia sengaja menghindari Yudha. Bohong jika dia sepenuhnya telah melupakan pria itu.
__ADS_1
Walau saat ini rasa cintanya telah berusaha dirubah menjadi rasa sayang terhadap saudara, tapi tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Rasa itu masih ada meskipun hanya sedikit.
"Aku pamit, Tante. Semua lauk dan kue telah aku tata di meja makan."
"Kenapa pulang? Yudha dan Aira telah di jalan dan hampir sampai," ucap Tante Manda."
"Nggak apa, Tante. Sampaikan salamku buat keduanya."
Manda tidak berusaha menahan, semua terserah Lani saja. Wanita itu paham dan mengerti apa yang ada dipikiran Lani saat ini. Pasti dia masih canggung dengan Yudha.
"Baiklah. Diantar sama supir aja, ya? Bawa sebagian kue itu."
Manda membawa Lani ke dapur kembali dan membungkus kue serta lauk. Setelah itu memberi uang buat jajannya. Jika buat berobat itu menjadi tanggung jawab Yudha.
Manda mengantar Lani hingga ke mobil. Baru saja wanita itu mau masuk ke mobil, terdengar suara memanggil namanya. Lani menoleh ke asal suara. Tampak Aira yang melambaikan tangannya.
"Lani ... tunggu?" panggil Aira. Wanita itu keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Lani. Dia menarik napas dalam. Bagaimana mungkin dia pulang sekarang. Nanti Aira bisa mengira dia sombong.
__ADS_1
...****************...