
Dira menarik napas lega mendengar jawaban dari Aira. Dia takut mengatakan tentang Lani jika wanita yang duduk di samping Yudha itu ternyata istri atau kekasihnya Yudha.
Dira merasa tidak sia-sia dia datang jauh-jauh untuk mencari keberadaan Yudha. Semoga kali ini Yudha bisa membantu penyembuhan penyakit Lani.
Dua hari yang lalu Lani tanpa sengaja menemukan surat keterangan dokter yang menyatakan dirinya mengidap penyakit kanker otak. Membaca itu, Lani menjadi syok dan tegang. Dia kembali pingsan.
Itulah alasan kenapa Dira mencari keberadaan Yudha. Dira ingin meminta bantuan pria itu membujuk agar Lani mau melakukan operasi.
"Aku Dira adiknya Kak Lani. Pasti Kak Yudha masih ingat dengan Kakakku Lani."
Yudha langsung memandangi wajah Aira. Namun, wanita itu hanya tersenyum dan menganggukkan kepala meminta Yudha tetap tenang dan mendengarkan Dira bicara.
Akan tetapi tidak ada yang tahu jika saat ini dada Aira terasa sesak. Baru saja dia bahagia dengan kekasihnya Yudha, masa lalunya datang lagi.
Namun, Aira menahan semuanya. Dia ingin tahu, apa maksud kedatangan adik mantan kekasih Yudha ini. Dia tidak boleh langsung cemburu. Siapa tahu kedatangannya cuma untuk siraturahmi.
"Ya ... aku selalu ingat dengan orang yang banyak memberikan luka padaku. Apa lagi orang yang mengecewakan Mami-ku. Sudah aku katakan, bagiku ibu adalah segalanya. Jadi tidak akan aku maafkan siapapun yang menyakiti hatinya."
Aira hanya mendengarnya tanpa ingin ikut campur. Dia juga belum tahu pasti penyebab Yudha berpisah dari Lani. Yang Aira tahu jika mantan Yudha bernama Lani dan mereka berpisah karena Lani berselingkuh.
"Aku datang bukan atas permintaan kak Lani. Aku datang hanya inisiatif sendiri karena aku kasihan melihat keadaan kak Lani saat ini ... aku." Ucapan Dira terputus karena Yudha memotongnya.
"Aku tidak peduli. Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Lani. Jadi aku tidak mengerti apa maksud kamu datang kasini."
__ADS_1
Aira mencolek lengan Yudha, sehingga pria itu menoleh ke arah Aira. Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Jangan menyela ucapan Dira. Dengarkan dulu apa yang akan dia katakan. Siapa tahu ada hal penting yang akan dikatakan. Kamu bisa teruskan apa yang ingin kamu katakan, Dira," ujar Aira.
Dira tersenyum dengan Aira. Gadis itu tampak sangat tulus dan baik. Ceri khas-nya adalah senyum yang selalu mengembang dari sudut bibirnya. Dira kembali berpikir, ada hubungan apa antara Aira dan Yudha? Kenapa mereka berdua tampak sangat akrab? Apa mungkin karena Aira tinggal berdekatan sehingga mereka begitu akrab.
"Terima kasih, Mbak Aira," ucap Dira dengan tersenyum.
"Aku datang hanya untuk mengabarkan jika saat ini Kak Lani sedang sakit," ucap Dira dengan gugup. Dia teringat dengan nasib Kakaknya yang begitu malang. Diusia muda harus menafkahi seluruh keluarga dan saat ini harus menderita penyakit yang mematikan.
"Apa hubungannya Lani sakit denganku? Jika sakit tinggal bawa ke rumah sakit dan berobat. Kenapa datang ke sini? Aku bukan dokter."
Ucapan Yudha itu sedikit menohok hati Dira. Dia tahu Kakaknya Lani telah menorehkan luka yang dalam. Namun, apa salahnya mendengarkan dulu dia bicara.
Aira yang mendengar Yudha bicara sedikit lantang begitu, menyikut lengan pria itu. Aira kembali menggelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan sikap Yudha.
Dira kembali kagum dengan wanita itu. Dia sangat lembut dan perhatian. Beruntung pria yang menjadi kekasihnya. Kembali terlintas dipikiran Dira jika Aira mungkin saja kekasihnya Yudha.
Namun, melihat sikapnya yang ramah dan perhatian Dira tidak akan canggung mengatakan semuanya. Bahkan Dira berharap jika Aira dapat membujuk Yudha.
"Saat ini Kak Lani sedang mengidap sakit kanker otak stadium akhir," ucap Dira terbata.
Yudha dan Aira yang mendengar ucapan Dira menjadi kaget. Bagai mendengar petir di siang bolong. Bagaimana bisa Lani mengidap penyakit berbahaya itu? Tanya Yudha dalam hati.
__ADS_1
Aira memandangi wajah Yudha, ingin tahu reaksi dari kekasihnya itu. Aira juga ingin tahu posisi Lani di hati pria itu. Apakah masih sama atau telah berubah dan digantikan dengan dirinya?
Yudha menarik napas dalam. Pria itu tidak yakin jika Lani menderita penyakit yang mematikan itu. "Apa maksud semua ini? Apa kau diperintahkan Lani menemui aku dengan mengarang cerita jika dia sedang sakit? Hebat sekali wanita itu, rela mengaku sakit hanya untuk bertemu denganku. Katakan dengan Lani. Aku tidak akan percaya dengan apa yang kamu katakan.dan rencanakan!"
"Kak Yudha picik sekali. Bagaimana mungkin aku ataupun Kak Lani berbohong dengan mengaku memiliki suatu penyakit?" ucap Dira sedikit emosi.
Aira dapat melihat jika Dira saat ini sedang emosi. Jika Yudha masih keras kepala tidak mau mendengarkan apa yang wanita itu sampaikan, pastilah akan berakhir dengan adu mulut.
"Yudha, Dira benar. Tidak mungkin dia berbohong hanya untuk membuat kamu mau menemui Lani." Yudha terdiam mendengar ucapan Aira. Benar juga apa yang dikatakan. Aira. Mana mungkin dia berbohong dengan membawa penyakit yang mematikan.
"Aku turut prlihatin. Boleh aku tahu, apa maksud kedatangan kamu? Apa yang kamu harapkan dengan mengatakan semua ini?" tanya Aira.
"Aku hanya ingin Kak Yudha menemui Kak Lani dan memberikan semangat. Sejak Kak Lani tahu dia mengidap kanker otak semangat hidupnya berkurang. Tidak mau berobat lagi."
Yudha tampak menarik napasnya. Dia tidak tahu harus berkata apa. Dari hati paling dalamnya Yudha sangat kuatir dan prihatin atas apa yang Lani alami saat ini.
Bohong jika Yudha mengatakan dirinya tidak peduli. Cuma dia menepis semuanya. Pria itu tidak mau hatinya kembali terikat dengan nama dan kehadiran Lani. Baru saja dia bisa bangkit dan mengubur nama wanita itu. Haruskah dia menemui Lani kembali?
"Kak Lani tidak mau melakukan operasi dan kemo. Padahal itu cara untuk menghalangi agar sel kanker otak tidak cepat berkembang. Jika Kak Lani masih juga tidak mau melakukan semua itu, bisa saja nyawanya akan segera melayang, " ujar Dira dengan terisak.
Yudha memandangi wajah Aira. Dia tidak ingin kekasihnya itu merasa sakit hati jika dia menerima tawaran Dira. Bukankah dia yang telah memilih Aira, bukan paksaan dari siapapun.
Aira juga hanya bisa menarik napas dalam. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Jika dia mendukung Yudha untuk menemui Lani, itu berarti dia harus siap kehilangan Yudha. Namun, jika dia melarangnya itu juga tidak mungkin. Nanti dia akan dikatakan tidak ada rasa empati.
__ADS_1
...****************...