
"Kalian bicara apa? Serius banget!" ucap Jefri begitu sampai dihadapan Lani.
Dira maupun Lani sangat kaget dengan kehadiran pria itu. Apakah Jefri mendengar semua yang mereka bicarakan. Terutama Dira. Gadis itu tampak sekali gugupnya.
"Aku hanya bicara mengenai kuliahku, Om. Aku pamit dulu," ucap Dira. Gadis itu turun dari ranjang dan bergegas keluar dari ruang inap itu.
Dia takut jika Jefri mendengar ucapannya. Apa Jefri akan bertanya tentang dirinya yang akan menggantikan Lani? Sebenarnya Dira takut dengan pria itu. Dia sering melihat Lani yang disiksa oleh Jefri.
Dira berjalan menuju taman dan duduk seorang diri. Ibu Yana yang baru kembali dari membeli makanan melihat anaknya dan duduk di samping Dira.
"Kenapa kamu di sini? Lani siapa yang menjaga?" tanya Ibu dengan beruntun.
"Bu, biarkan Kak Lani lepas dari Om Jefri. Sudah cukup dua tahun ini dia berkorban untuk kita. Apa Ibu tidak kasihan melihat Kak Lani tersiksa. Beruntung saat ini dia tidak sampai meninggal. Apakah semua berhenti saat nyawa Kak Lani melayang? Apa itu yang Ibu inginkan?" Suara Dira terdengar parau menahan tangisnya.
Gadis itu sadar semua yang dilakukan kakaknya berawal saat dia meminta belikan pakaian sekolah. Seminggu setelah itu Lani membelikan Dira seragam sekolah yang baru. Sejak saat itu ekonomi mereka berubah.
Namun, seperti yang Lani katakan jika uang yang mereka dapatkan diatas tangisan dan kesedihan istri sah pria lain. Tidak akan pernah kita mendapatkan kebahagiaan nyata karena semuanya dari hasil merampas milik orang lain. Yaitu istri sah pria itu.
Lani juga telah mengatakan pada Dira siapa istri sah Om Jefri. Wanita baik yang harus menerima semua ini hanya karena satu kekurangan pada dirinya. Jefri sampai melupakan semua kebaikan yang pernah dia lakukan.
Padahal awalnya wanita itu menerima saat Jefri menduakan, tapi sebagai wanita perubahan sikap dan sifat Jefri signifikan membuat dia juga tidak bisa tahan. Akhirnya menyerah.
Mungkin saja itu nanti akan terjadi padanya. Lani bukan wanita sabar. Jika suatu saat dia menikah dan tidak sabar menghadapi Jefri, otomatis mereka segera berpisah.
__ADS_1
"Kenapa kamu berkata begitu? Harus berapa kali Ibu katakan, semua bukan keinginan Ibu. Lani saja yang ingin melakukan semua itu!"
"Dan ibu memanfaatkan semua itu. Kenapa Ibu harus meminta uang dengan jumlah yang cukup banyak setiap bulannya pada Om Jefri. Padahal Ibu telah diberi uang yang cukup banyak dari Kak Lani!"
"Sudah! Jangan banyak bicara. Kamu tidak mengerti apa-apa!" ucap Ibu dengan nada tinggi. Ibu berdiri dari duduknya dan ingin berjalan tapi langkahnya terhenti mendengar ucapan Dira.
"Jika memang uang yang Ibu inginkan tanpa memikirkan perasaan anakmu, aku juga akan menjual diriku. Biar Ibu puas dan bisa menikmati uang dari tubuh anak-anaknya!" ucap Dira tidak kalah emosi.
Ibu Yana membalikkan badan dan menghadap ke arah Dira dengan tatapan membunuh. Bagaimana mungkin Dira bisa berpikir begitu? Apakah Lani yang telah memengaruhi adiknya?
"Apa yang kamu katakan? Apakah Lani yang meminta kamu berkata begitu?" tanya Ibu Yana.
"Kak Lani bahkan melarangku. Dia rela menjadi korban keserakahan dari orang tuanya. Apa Ibu tidak melihat jika dia telah lelah dan ingin berhenti? Namun, dia tidak bisa meninggalkan semua itu karena ayah dan Ibu yang telah terikat hutang sangat banyak dengan Om Jefri. Hentikanlah Bu. Kita bisa memulai hidup baru lagi. Dulu juga kita bisa hidup tanpa bantuan Jefri!"
"Apa kamu mau di hina karena berpakaian jelek? Apa kamu mau orang-orang memandang sebelah mata pada keluarga kita yang miskin?" tanya Ibu Yana dengan penuh emosi.
Ibu Yana terdiam tidak dapat bicara. Berpikir apakah yang dikatakan Yana benar? Namun, dia juga tidak bisa menutup matanya. Memang pernah mendengar temannya menyindir, jika ibu-ibu sekarang rela melakukan apa saja demi uang.
"Sadarlah, Bu. Sebelum semua makin berlarut. Tolong juga katakan pada Bapak, jangan minta uang lagi pada Om Jefri!"
Tanpa menjawab ucapan Dira, Ibu Yana melangkahkan kakinya kembali dan tidak menghiraukan Dira lagi.
Di dalam kamar Jefri tampak memandangi Lani dengan tatapan tajam. Tidak pernah dia menduga wanita itu akan nekat melakukan hal bodoh seperti kemarin. Jika saja dia telat, bisa saja nyawanya melayang.
__ADS_1
"Apa yang kau pikirkan saat melakukan itu semua?" tanya Jefri dengan suara sinis.
"Aku ingin lepas dan bebas. Aku sudah bosan dan muak menjadi budak nafsumu!" ucap Lani dengan beraninya.
"Apa kamu pikir dengan kematian kamu, kedua orang tuamu akan bebas? Aku akan tetap menagih dan penjarakan jika mereka tidak mampu membayar."
"Semua perbuatan licikmu ini suatu saat akan dapat balasnya. Aku tidak ada pernah meminjam uangmu. Jadi sekali lagi aku katakan, mulai saat ini aku berhenti menjadi budakmu. Kau bisa mencari wanita lain. Kenapa harus aku?" tanya Lani.
"Apa kau tidak takut kedua orang tuamu akan aku pidanakan?" tanya Jefri dengan wajah liciknya.
"Jika itu yang terbaik buat kedua orang tuaku. Mungkin dengan mereka dipenjarakan akan membuat mereka jera. Lagi pula, Om hanya bisa penjarajan ayahku. Ibu tidak pernah menandatangani surat apapun. Jika Om bisa perkarakan ayahku, aku juga bisa memperkarakan Om jika membawa ibuku juga."
"Apa kau lupa jika aku memiliki bukti transfer?"
"Itu tidak cukup kuat karena tidak memiliki surat perjanjian. Apa pun yang akan Om lakukan, aku tetap pada pendirianku, aku ingin lepas dari kamu! Jika Om memaksa, aku akan nekat bunuh diri biar Om dan kedua orang tuaku puas setelah melihat jasadku!"
"Kau mengancamku!"
"Aku tidak mengancam. Saat ini juga aku mau mati, aku tidak akan mau berbuat dosa lagi. Aku ingin hidup layak dan sewajarnya."
Tanpa di duga Lani mencabut paksa tali infus-nya sehingga darah segar mengalir dari tangannya bekas suntikan untuk infus. Ibu yang melihat dari balik pintu langsung berlari dan menghampiri anaknya.
"Apa yang kau lakukan? Apa kau sudah gila?" Ibu melihat darah mengucur dari tangan Lani menjadi sangat kuatir.
__ADS_1
Jefri langsung menekan bel memanggil bidan atau perawat. Pria itu tidak pernah menduga jika Lani begitu nekatnya. Dia tidak bisa keras dan memaksa wanita itu saat ini. Jefri akan menekan Yana dan Doni ayahnya Lani, agar bisa menikah dengan wanita itu.
...****************...