
"Kamu mau ke mana rapi banget? Hari minggu loh ini, Yud." Mami Manda sedikit heran saat melihat Yudha sudah berpakaian rapi seperti mau pergi, padahal sekarang hari minggu dan Mami Manda sudah tahu kalau Yudha baru saja putus dari Lani karena Yudha sendiri yang kemarin bilang ke Mami Manda tentang hubungannya yang kandas.
Mami Manda mendekati putranya, dia usap kepala Yudha sayang. Wanita paruh baya itu takut kalau anaknya terlalu sakit hati atas putusnya hubungan dengan Lani lalu mencari pelampiasan ke hal lainnya.
Namun, untuk membiarkan anaknya tetap berhubungan dengan Lani itu juga tidak mungkin karena wanita bukan yang terbaik untuk putranya.
"Aku ada tugas, Mi. Mau ngerjain tugas di luar, di rumah suntuk soalnya." Yudha mencari alasan dan Mami Manda juga tidak lanjut bertanya-tanya.
"Oh ya, Mi, Papi sekarang tinggal dimana? Apa di apartemen di dekat kantor itu?" tanya Yudha, wajar memang bagi seorang anak menanyakan orang tuanya meski mungkin dia tidak memerlukan apa-apa dan hanya ingin mengetahui keberadaan orang tuanya saja.
Entah mengapa dari kemarin Yudha kepikiran terus tentang Papi-nya. Sejak Papi keluar dari rumah dia tidak pernah bertemu pria itu lagi.
Mami Manda menganggukkan kepalanya mengiyakan pertanyaan putranya, "Ya sudah, katanya kamu mau cari udara segar. Mumpung masih pagi, jalanan juga belum terlalu banyak polusi." Mami Manda sengaja mengalihkan pembicaraan supaya Yudha tidak bertanya lebih lanjut lagi.
Yudha pamitan, dia segera menuju ke apartemen Lani memakai mobil yang biasa dia kendarai ke mana-mana. Lelaki itu sudah memutuskan kalau hari ini dirinya akan mengintai Lani. Setelah kemarin dia berhasil menemukan tempat tinggal Lani, Yudha bukannya merasa lega tapi malah semakin penasaran. Rasa keingintahuan mengenai siapa yang dekat dengan Lani jadi semakin menggebu-gebu.
"Aku harus lihat sendiri, siapa orang yang lagi dekat sama Lani." Yudha masih berfokus pada jalanan supaya tidak terjadi apa-apa.
Sampailah Yudha di area sekitar gedung apartemen Lani. Dia berhasil memarkirkan mobilnya di tempat yang strategis. Yudha bisa melihat ke bagian dalam gedung tapi orang yang keluar dari apartemen itu belum tentu akan melihat ke arahnya.
Sesekali Yudha mengecek ponselnya karena dia juga lama-lama bosan terus melihat ke arah gedung apartemen. Namun saat Yudha sedang mengedarkan pandangannya, dia tidak sengaja melihat ada mobil yang sangat dia kenal sedang parkir di bagain pelataran gedung apartemen tempat Lani tinggal.
"Itu kayak mobilnya Papi," gumam Yudha seraya mengingat-ingat plat nomor mobil papinya. "Eh, bener loh itu mobilnya Papi," ucap Yudha lagi.
Yudha kembali melihat ke sekitar dari dalam mobil karena dia tidak mungkin keluar karena Yudha takut ketahuan oleh Lani.
__ADS_1
Namun Yudha tidak melihat keberadaan papinya di sekitar sana. Dia jadi teringat pada apa yang dikatakan oleh maminya tadi, kalau Papi tinggal di apartemen dekat kantor. Lalu kenapa mobilnya bisa ada di tempat parkir gedung apartemen itu?
"Ah, mungkin Papi memang lagi ada urusan sama rekan kerjanya yang kebetulan tinggal di apartemen ini. Aku tidak boleh berpikir yang aneh-aneh." Yudha berusaha menampik pikiran negatifnya mengenai papinya.
Yudha merasa bosan, hingga akhirnya dia putuskan untuk menunggu Lani sambil mendengarkan musik melalui headphone yang selalu dia bawa-bawa ke mana-mana.
Menurutnya lumayan untuk membunuh rasa jenuhnya. Lagi pula Yudha juga tidak tahu dia akan berada di sana sampai kapan.
Di lain tempat, Lani masih sibuk memakai lipstik berwarna pink soft yang membuat bibirnya jadi semakin cantik. Hari ini dia ada janji dengan Jefri untuk makan di luar.
Walaupun sebenarnya rasa hatinya sedang tidak keruan tapi Lani juga tidak bisa mundur.
Ketika Lani sedang menyemprot parfum ke tubuhnya, dia melihat ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari Jefri, Lani segera menerimanya, "Hallo, Om," sapa Lani.
"Kamu sudah siap?" tanya Jefri dari seberang telepon.
"Ya sudah, Om tunggu ya, Sayang."
Sambungan telepon terputus, Lani pun segera berjalan ke arah pintu seraya membawa tas dan ponselnya. Dia berhenti dulu di sana buat memakai sepatu.
Gadis itu keluar dari apartemennya dan memasuki lift. Dia sudah berdandan cantik seperti kalau dia akan pergi bersama Jefri. Lani tidak tahu sama sekali kalau dia sedang diintai oleh Yudha dari kejauhan. Makanya dia tenang-tenang saja.
Lani berjalan menuju mobil milik Jefri yang biasa dia naiki saat pergi dengan lelaki itu. Dia masuk tanpa dibukakan pintu oleh Jefri.
Setibanya di dalam mobil, Lani langsung mendapat ciuman manja di pipinya. Gadis itu tersenyum lalu membalas ciuman Jefri.
__ADS_1
Di dalam mobil lain, Yudha tampak begitu senang saat dia melihat Lani keluar dari gedung apartemen, tapi Yudha heran karena melihat Lani yang memakai riasan begitu cantik seperti akan pergi.
"Eh, Lani mau ke mana?" tanya Yudha seraya mengikuti langkah kaki Lani.
Yudha kaget saat dia melihat Lani memasuki mobil papinya. Sayangnya Yudha tidak bisa melihat apa yang dilakukan Lani di dalam sana. Yudha tak hentinya bertanya-tanya mengenai alasan Lani yang masuk ke mobil papinya yang sedari tadi terparkir di sana.
Bahkan sebelum Yudha sampai, mobil papinya sudah ada di sana terlebih dulu.
"Lani ngapain masuk mobilnya Papi?" tanya Yudha pada dirinya sendiri.
Ada perasaan tak keruan dalam hati Yudha, dia takut kalau kecurigaannya yang datang tiba-tiba malah menjadi kenyataan. Setahu Yudha, dia belum pernah memperkenalkan Lani kepada papinya, tapi kenapa Lani bisa mengenal Jefri?
Mobil Jefri mulai melaju, Yudha yang belum siap pun cepat-cepat mematikan musiknya dan mulai menyalakan mobilnya. Dia akan mengikuti ke mana perginya Jefri dan Lani.
Yudha merasa di dalam dadanya sudah campur aduk. Yudha tentu saja takut kalau ternyata Lani ada main di belakang dengan papinya.
Yudha berusaha menjaga jarak supaya tidak ketahuan oleh Jefri maupun Lani. Meskipun Lani tidak terlalu sadar kalau diikuti, tapi papinya pasti akan tahu. Namanya juga mereka lama tinggal satu rumah dan mereka setiap hari melihat kendaraan masing-masing, jadi sudah pasti Jefri akan mengenali mobilnya.
"Mereka mau ke mana sih?" tanya Yudha seraya menatap mobil Jefri.
"Apa jangan-jangan selingkuhan Papi temannya Lani, atau ... Ya tuhan jangan sampai apa yang aku pikirkan ini benar terjadi?" Yudha terus saja bertanya tentang ini dan itu, tentang hal yang belum dia ketahui bagaimana kebenarannya.
Mobil Jefri masih melaju, jaraknya pun semakin jauh dari apartemen tempat Lani tinggal. Yudha sampai takut kalau dia kehabisan bahan bakar di tengah jalan karena Yudha lupa mengisinya. Yudha berharap, Jefri tidak akan melajukan mobilnya lebih jauh lagi.
"Please, dong. Jangan sampai kehabisan bahan bakar," pinta Yudha seraya berharap Jefri akan segera menghentikan mobilnya.
__ADS_1
...****************...