
Doni menarik rambutnya frustrasi. Semua memang salahnya karena tidak pernah peduli dengan kehamilan Manda hingga kelahiran putranya itu.
Doni merubah duduknya. Mencodongkan tubuhnya ke depan agar lebih dekat dengan Yudha. Ketika pria itu ingin meraih tangan Yudha, dia menjauhkan tangannya.
"Manda, anak kita ini siapa namanya?" tanya Doni dengan terbata.
"Maaf, Doni. Dia anakku. Bukan anak kita. Ditubuhnya memang mengalir darahmu, tapi kamu tidak ada hak apa pun atas dirinya. Sejak masih dalam kandungan tidak pernah sekali pun kau ingin tahu keadaannya."
"Maafkan aku, Manda. Maafkan Papa, Nak. Papa memang salah. Kau boleh melakukan apa saja pada Papa. Asal kau sudi memaafkan dan menerima aku sebagai papamu."
"Aku datang hanya untuk melihat keadaan pria yang telah menelantarkan Mami dan ingin melihat bagaimana rupa orang yang darahnya mengalir padaku. Untuk memaafkan kamu itu bukan wewenangku. Mami yang merasakan semua sakit yang kamu torehkan."
Mata Doni tampak berkaca melihat putranya sudah tumbuh dewasa. Doni tahu, tidak mudah mengobati luka hati yang dia tinggalkan.
"Jika kamu tidak bisa memaafkan kesalahan Papa, tidak apa-apa. Karena Papa sadar kesalahan Papa terlalu banyak dan besar. Tidak akan mudah memaafkan dan mengikhlaskannya. Namun, Papa senang melihat kamu telah tumbuh dewasa. Dengan didikan Mami, Papa yakin kamu akan menjadi pria yang hebat."
Manda memandangi Doni. Dulu sebelum menikah, pria itu banyak memberikan janji manis. Dengan kata-kata rayuannya, Manda terperdaya dan akhirnya memilih menikah dengan pria itu.
Manda yang bucin, tidak mendengar nasihat seluruh keluarga. Dia yakin Doni, pria yang tepat menjadi pendamping hidupnya. Satu tahun pernikahannya, Doni meninggalkan Manda dalam keadaan hamil.
Berbeda dengan Jefri, dengan Jefri, Manda merasakan kebahagiaan yang cukup lama. Dua puluh tahun menikah, mereka masih merasakan kebahagiaan. Hingga semuanya sirna saat Jefri mulai main wanita.
"Mi, aku rasa cukup. Aku telah melihat siapa Papaku. Sudah cukup bagiku. Sekarang kita kembali. Aku tidak mau lama-lama berada di sini. Dadaku terasa sesak. Membayangkan orang yang telah membuat aku lahir ke dunia ini ternyata tidak pernah memikirkan atau mengingat diriku sedikitpun."
__ADS_1
Yudha menjeda ucapannya. Dadanya terasa sesak. Tidak bisa melanjutkan ucapannya. Yudha menarik napas dalam. Setelah merasa agak tenang, barulah Yudha bicara kembali.
"Aku hanya berharap, Papa tidak pernah menyesal atas apa yang pernah Papa lakukan pada kami. Apa Papa tahu, karena perbuatan Papa ini, aku hampir berhubungan dengan saudara sendiri. Beruntung aku belum melakukan hubungan yang lebih jauh!" ucap Yudha dengan sedikit emosi.
Doni makin terkejut mendengar ucapan Yudha. Apa maksud dari perkataan Yudha? Apa Dira berpacaran dengan Yudha?
"Apa maksud kamu, Yudha? Apa kamu dan Dira anakku berpacaran?" tanya Doni lagi.
"Bukan, Dira. Tapi Lani. Yudha dan Lani menjalin hubungan sebagai kekasih. Beruntung Tuhan mencegah mereka untuk melangkah lebih jauh dengan menunjukkan hubungan Lani dan Jefri. Jika saja Yudha tidak melihat Lani dan Jefri bermesraan, mungkin hingga saat ini dia masih berhubungan dengan Lani. Ini akibat dari perbuatanmu." Mami Manda yang akhirnya menjelaskan.
"Mi, kita pulang saja. Aku nggak mau terbawa emosi dan akhirnya bicara kasar. Aku masih menghormati Papa, karena bagaimana pun aku menolak, darahku berasal dari Papa."
Yudha berdiri diikuti Mami Manda. Baru saja Yudha melangkah, tangannya di tahan Doni. Pria itu berlutut, memohon ampun.
"Berdirilah, Pa. Aku bukan Tuhan. Kenapa Papa berlutut dan memohon padaku. Memohon ampunlah atas semua kesalahan yang pernah Papa lakukan pada Tuhan. Semoga masih ada maaf dan karma tidak menimpa Papa lagi."
Yudha membantu Doni berdiri. Setelah itu dia kembali berjalan. Baru akan membuka pintu, kembali terdengar suara Doni.
"Kau boleh marah pada Papa. Kau boleh membenci Papa. Kau juga boleh menghukum Papa. Namun, jangan kau abaikan saudaramu yang lain. Lani dan Dira itu adikmu. Sebagai anak tertua dan pria satu-satunya, aku ingin dan memohon padamu, tolong jaga adik-adikmu. Jangan sampai mereka berdua melakukan kesalahan lagi seperti yang pernah Lani lakukan kemarin. Aku percaya kau adalah saudara yang bisa diandalkan!" ucap Doni.
Tanpa menjawab semua perkataan Doni, Yudha tetap berjalan keluar dari ruang itu. Saat Yudha dan Mami telah menghilang di balik pintu, Doni akhirnya terduduk ke lantai. Menyesali apa yang pernah dia lakukan pada anak-anaknya.
"Aku memang pria berengsek. Ayah tidak berguna. Karena kesalahanku, hampir saja kedua anakku menjalin hubungan. Jika itu terjadi, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri," ucap Doni pelan pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Doni merasa hidupnya hancur. Jika kemarin dia hanya sedih karena tidak bisa lagi berkumpul dengan keluarganya selama tiga tahun ini, kali ini dia merasa sedih karena merasa menjadi ayah yang paling gagal.
Bukan saja telah menelantarkan anaknya, dia hampir saja membuat kedua anaknya berhubungan. Pasti saat ini kedua anaknya itu terluka dan membencinya.
***
Yudha mengendarai mobil dengan pelan menuju rumah. Pikirannya masih kacau. Tidak tahu apa yang sebaiknya dia lakukan. Apakah akan tetap menolong pengobatan Lani atau menghentikan.
Jika dilanjutkan, hatinya masih sakit mendapati kenyataan jika ibunya Lani-lah penyebab Papa Doni meninggalkan Mami. Namun, jika dia menghentikan pengobatan Lani, sama saja dia membunuhnya. Bagaimana pun sakit hatinya, tidak bisa memungkiri jika dia dan Lani bersaudara.
Mami memperhatikan Yudha. Dia tahu bagaimana perasaan anaknya saat ini. Pastilah Yudha sangat kacau. Mami menggenggam tangan kiri Yudha. Ingin mengatakan jika dia ada untuk mendukung semua yang anaknya lakukan.
"Mami mengerti jika saat ini hatimu sedang kacau. Kecewa, marah dan benci bercampur dihati. Apa pun yang menjadi keputusan kamu, Mami akan mendukung."
Yudha membalas genggaman tangan Mami. Lalu mencium tangan wanita yang telah melahirkan dirinya itu.
"Mi, nanti setelah mengantar Mami aku langsung pergi. Aku mau ke rumah Aira. Sudah beberapa hari aku nggak ke sana. Kasihan, dia pasti cemas karena aku mengatakan jika ada urusan penting sehingga beberapa hari ini tidak ke rumahnya."
"Iya, Sayang. Jangan banyak pikiran saat menyetir. Mami yakin kamu pria yang kuat. Semua cobaan dan masalah yang kamu hadapi saat ini pasti ada jalan keluarnya. Percayalah jika Tuhan tidak akan menguji di luar batas kemampuan."
"Mami juga yang kuat. Aku akan selalu mendampingi Mami, apa pun yang terjadi. Mami wanita terhebat bagiku!"
Sampai di halaman rumah, Mami memeluk putranya sebelum turun dari mobil. Mengecup kedua pipi putranya yang telah mulai dewasa. Bersyukur memiliki anak seperti Yudha.
__ADS_1
...****************...