
Mama Susanti mengendarai mobilnya menuju suatu bangunan yang cukup besar bersama Aira. Bangunan tempat Jefri menjalankan usahanya.
Sebagai seorang adik yang lumayan dekat dengan Jefri, Susanti ingin bertemu dengan pria itu. Telah lama mereka berpisah. Dia juga ingin mendengar cerita dari Jefri langsung mengenai kandasnya rumah tangga sang abang.
Setelah menemui resepsionis dan mengatakan siapa dan ada perlu apa mereka, karyawan itu mempersilakan Susanti masuk. Dengan terlebih dahulu meminta izin Jefri.
Jefri langsung membuka pintu begitu terdengar ketukan dari luar. Dia begitu bahagia mendengar nama Susanti yang datang mengunjungi.
Begitu pintu terbuka dan melihat Susanti yang berdiri, Jefri langsung memeluknya dan membawa masuk ke ruangan.
"Abang rindu banget. Apa kabarmu?" tanya Jefri dengan masih memeluk Susanti.
Aira memilih duduk di sofa dan memandangi interaksi kedua adik abang itu. Tampak sekali kerinduan di antara mereka.
"Seperti yang Abang lihat, aku sehat."
"Duduklah dulu. Abang minta buatkan air minum dulu." Jefri berjalan menuju mejanya dan menghubungi sekretarisnya, minta dibuatkan minuman dan dibelikan makanan.
Setelah menghubungi sekretaris, Jefri duduk dan bergabung dengan Susanti dan Aira. Jefri tampak tersenyum terus. Bahagia karena dapat bertemu dengan adiknya lagi.
"Apa kabar Mbak Manda dan Yudha, Bang?" tanya Susanti.
__ADS_1
Jefri tersenyum simpul dan memandangi Aira. Tidak mungkin jika Aira belum mengatakan apa yang terjadi. Jefri yakin sebenarnya Susanti tahu apa yang terjadi. Hanya sekedar ingin tahu saja.
"Kamu pasti telah mendengar cerita dari Aira?" Jefri balik bertanya.
"Aku nggak yakin jika bukan Abang sendiri yang mengatakan semuanya. Aku ingin dengar cerita dari Abang!"
Jefri menarik napas dalam. Dia yakin, Susanti pasti akan marah jika tahu dia berpisah karena adanya orang ke tiga.
Jefri ingat betul, jika yang memberi semangat dia menikahi Manda adalah Susanti. Adiknya itu yakin jika Manda wanita baik yang pantas buat dicintai.
"Abang dan Mbak Manda telah pisah 6 bulan lalu."
"Karena tidak ada kecocokan!"
"Tidak ada kecocokan. Kenapa setelah puluhan tahun baru ada ketidak cocokan. Kenapa baru sekarang Abang sadari itu?"
Jefri menunduk. Susanti tidak akan bisa diam sebelum dapat jawaban yang memuaskan. Adiknya itu yang paling berani dengan dirinya.
"Abang baru tahu dia berbohong selama ini. Ternyata rahimnya telah diangkat dan sengaja merahasiakan itu semua."
"Astaga, Bang. Jadi ini penyebab Abang berpisah dan mengkhianati Mbak Manda?" tanya Susanti kaget.
__ADS_1
Melihat ekspresi wajah Susanti yang berubah setelah mendengar alasannya, Jefri jadi penasaran. Kenapa Susanti tampak kesal. Seharusnya dia marah dengan Manda, bukan dirinya.
"Jika itu yang menjadi alasan Abang meninggalkan Mbak Manda, aku merasa sangat bersalah. Aku harus menemui Mbak Manda dan meminta maaf."
Jefri tampak makin kaget dengan ucapan Susanti. Kenapa harus dia yang meminta maaf. Banyak tanda tanya di kepala Jefri.
"Kenapa kamu yang harus meminta maaf?" tanya Jefri dengan wajah keheranan.
"Karena yang meminta Manda buat bohong dengan Abang itu aku! Saat mau menikah Manda cerita denganku, jika dia takut Abang akan mundur dan membatalkan pernikahan setelah tahu kekurangannya. Aku lalu bertanya, memang kekurangan Mbak Manda apa?"
Susanti menjeda ucapannya. Dia melihat ke arah Jefri dan Aira bergantian, sebelum akhirnya melanjutkan.
"Manda mengatakan semua tentangnya, tentang rahim yang telah diangkat. Aku sarankan dia jangan jujur. Tutupi saja semua dari Abang. Aku menyarankan dia berbagai cara. Manda awalnya tidak setuju dan ingin jujur. Aku kembali melarangnya."
"Seharusnya dia jujur. Jika aku mau meneruskan atau tidak pernikahan, dia tetap harus mengatakan. Dalam pernikahan itu yang dibutuhkan kejujuran."
"Kejujuran? Dan apa Abang jujur saat berselingkuh dan diam-diam biayai semua kebutuhan selingkuhan Abang dengan uang perusahaan?" tanya Susanti dengan suara tinggi.
Susanti tidak habis pikir dengan apa yang telah Jefri lakukan. Jika memang Udah tidak menyukai lebih baik katakan saja. Walau itu sakit, tapi tidak sesakit di bohongi.
...****************...
__ADS_1