
Tanpa merasa malu, Yudha dan Aira kini naik komidi putar bersama dengan pengunjung lainnya. Lagi pula, mereka juga diperbolehkan untuk naik, tidak ada yang melarang. Hanya memang kebanyakan yang naik itu anak-anak. Mereka berdua masa bodoh dengan itu, yang terpenting mereka senang.
Yudha dan Aira akhirnya turun saat komidi putar tadi berhenti sejenak. Keduanya masih tertawa-tawa. Antara Yudha maupun Aira, tidak ada yang merasa pusing sama sekali. Bahkan Yudha mengacungkan kedua jempolnya kepada Aira karena gadisnya itu sudah kuat dalam naik wahana ini dan itu.
"Aku mau gulali," ucap Aira sambil menunjuk pedagang yang menjual gulali tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Ya sudah, ayo kita ke sana," ajak Yudha sambil menarik tangan Aira.
Aira tersenyum, dia menurut saja. Yudha sudah memesan gulali yang warna merah muda. Aira juga tidak protes, dia mau diberi warna apa saja karena yang penting gulali.
Aira melihat langit, matahari sudah bergeser ke ufuk barat. Tak terasa ternyata mereka sudah seharian berada di taman bermain dan menghabiskan waktu bersama.
"Ini gulalinya." Yudha memberikan satu gulali untuk Aira.
Ucapan terima kasih Aira berikan kepada Yudha, gadis itu pun langsung memakannya. Saat Aira menawarkan gulali tadi kepada Yudha, lelaki itu menggeleng pelan. Aira juga berusaha menyuapi Yudha, tapi Yudha tetap menolak. Akhirnya Aira tidak memaksa.
"Kamu lapar nggak? Kita cari makan yuk," ajak Yudha sambil menoleh ke sekitar, mencari-cari tempat yang sekiranya nyaman untuk dijadikan tempat buat makan.
Aira ikut menoleh ke sana-sini, tapi tak lama Aira meminta Yudha untuk mendekatkan telinganya ke bibirnya. Yudha jadi penasaran, makanan apa yang ingin Aira makan sampai gadis itu harus berbisik-bisik segala.
"Jangan di sini makannya, kita makan di luar sana," kata Aira berbisik.
Yudha menatap ke arah Aira, "Kenapa?" tanyanya dengan nada berbisik pula karena takut ada orang lain yang mendengar.
"Nggak kenapa-napa sih, tapi di tempat wisata itu makanannya mahal-mahal," balas Aira seadanya, tapi kali ini sudah tidak berbisik-bisik lagi seperti tadi.
Yudha seketika tertawa mendengar perkataan Aira yang menurutnya lucu. Namun setelah dipikir-pikir, apa yang dikatakan oleh Aira itu juga tidak salah. Memang biasanya seperti itu.
"Kenapa memangnya? Aku ada uang untuk membayarnya." Yudha menepuk-nepuk sakunya, seolah mengatakan kalau Aira tidak perlu khawatir kalau menyangkut uang.
Aira menghentikan kakinya, dia menatap ke arah Yudha, "Nggak apa-apa, mending uangnya diirit-irit. Uang kamu udah banyak habis buat pengobatan Lani. Kita makan di luar saja," balas Aira masih bersikeras buat makan di luar tempat wisata.
__ADS_1
"Ya sudah, aku ikut kamu saja." Yudha mengangguk setuju. Lagi pula Yudha merasa kalau mereka sudah harus secepatnya pulang. Namun sebelum itu, Yudha ingin mengajak Aira makan dulu.
Sepasang kekasih itu keluar dari pintu khusus untuk pengunjung yang akan pulang. Kebetulan, jarak dari pintu keluar tadi lumayan jauh dari mobilnya Yudha yang diparkirkan. Aira tidak masalah. Gadis itu masih tetap mengikuti Yudha sambil menikmati gulalinya.
"Mobil aku di mana ya, Ra?" tanya Yudha sambil menggaruk-garuk kepalanya.
Aira ikut berhenti, "Lah? Tadi kamu 'kan yang parkir? Kok bisa lupa sih?" tanya Aira ikut bingung.
Yudha mengedarkan pandangannya sebentar, dia mencari-cari di mana dia memarkirkan mobilnya. Hingga akhirnya mobil yang dicari Yudha ketemu.
"Hehehe, aku lupa kalau ternyata tadi kita parkirnya di sebelah sana," cengir Yudha sambil menunjuk mobilnya yang ada di belakang Aira. Itu artinya, mobilnya Yudha sudah terlewat tapi Yudha tidak sadar.
Aira mendesah, dia cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia heran pada Yudha yang jadi lupa.
"Kayaknya efek kepalanya diputer-puter seharian, makanya jadi rada oleng," kekeh Aira membuat Yudha tertawa.
"Kayaknya kamu bener, Ra. Otak aku jadi rada-rada," sahut Yudha sembari menekan tombol lock pada kunci mobilnya.
"Kita berhenti di kafe itu saja, Yud," pinta Aira sambil menunjuk kafe yang tak jauh dari sana. Yudha mengiyakan dan segera memarkirkan mobilnya di sana.
Kafe yang Aira maksud tadi sedang tidak terlalu ramai. Ini kabar baik buat Aira maupun Yudha yang ingin makan cepat karena sudah lapar.
Aira memesan dua porsi nasi ayam bakar, sedangkan minumnya dia memesan es lemon tea. Aira mengeluarkan ponselnya dan melihat-lihat foto yang tadi diambil oleh Yudha saat di taman bermain. Aira juga menunjukkan foto-foto itu kepada Yudha supaya lelaki itu bisa melihat bersamanya.
"Bagusan yang ini atau yang ini?" tanya Aira kepada Yudha, dia meminta pendapat dari kekasihnya mengenai dua fotonya.
Yudha melihatnya, bagi Yudha foto itu terlihat sama saja dan tidak ada bedanya. Namun Aira tetap menanyakannya.
"Mau buat apa?" tanya Yudha.
"Mau aku pakai buat foto profil," jawab Aira.
__ADS_1
"Yang kanan saja, itu lebih bagus." Yudha memberikan pendapatnya dengan harapan kalau Aira akan menerimanya. Ternyata Aira benar-benar mendengar pendapatnya dan gadis itu langsung menggunakan foto tadi sebagai foto profilnya. Padahal tadi Yudha mengira kalau Aira akan protes apabila dia memilih yang kanan. Tanpa Aira tahu saja jika tadi Yudha hanya asal memilih.
"Yud, aku ke toilet dulu ya sebentar." Aira berdiri, dia menitipkan tas dan ponselnya kepada Yudha karena menurutnya ribet apabila ke toilet harus membawa tas segala.
"Oh, iya," angguk Yudha.
Ketika Aira berdiri, dia tidak sengaja menabrak orang. Aira pun sontak meminta maaf karena merasa tidak enak.
"Maaf sekali, Pak. Saya tidak lihat, saya kurang hati-hati," ucap Aira sopan dengan posisi kepala masih menunduk.
Yudha menoleh ke samping. Dia pun berniat untuk berdiri buat ikut meminta maaf karena kesalahan Aira.
"Loh, Om Jefri?" Aira langsung mengenali Jefri. Gadis itu menunjuk Jefri dan terlihat seperti bahagia sekali bertemu dengan Jefri.
Yudha kaget mendengar Aira mengucap nama papinya. Saat Yudha mendongakkan kepalanya, ternyata laki-laki itu benar-benar papinya.
"Aira? Kamu ngapain di sini? Mau makan juga?" Jefri ikut bertanya dengan nada ramah.
"Iya, Om. Aku berdua Yudha," jawab Aira.
Jefri melihat ke arah meja yang ditunjuk Aira. Mata Jefri dan Yudha bertemu. Namun, Yudha langsung membuang mukanya karena tidak ingin melihat wajah Papi-nya.
Aira yang menyadari perubahan wajah Yudha langsung mengerti jika kekasihnya itu tidak suka atas kehadiran Jefri.
"Maaf, Om. Aku pamit mau ke toilet." Aira mencoba mencairkan suasana.
"Baiklah, Om juga mau pamit. Salam buat Papa dan Mama. Besok malam Om ke rumah main."
"Baik, Om. Nanti aku sampaikan."
Jefri melangkah menjauh dari meja Yudha. Tampaknya pria itu telah selesai makan. Dia menuju mobilnya yang terparkir. Sedangkan Aira langsung menuju toilet. Aira jadi berpikir, apakah kemarahan Yudha masih berhubungan dengan Lani?
__ADS_1
...****************...