TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 77. Aku Tidak Salah Memilihmu!


__ADS_3

Yudha menjalani mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah kediaman orang tua Aira. Sudah dua hari pria itu tidak bertemu dengan kekasih hatinya. Sebelum sampai rumah Aira, Yudha mampir ke toko kue. Membeli kue brownies kesukaan Aira.


Tidak lupa juga Yudha membeli brownies es krim. Semua Yudha lakukan untuk menebus rasa bersalahnya karena telah dua hari tidak datang mengunjungi.


Sampai di rumah Aira, ternyata gadis itu sedang bermain dengan kucingnya di teras. Dia tidak menyadari kedatangan Yudha, karena pria itu memarkirkan mobil di luar pagar rumah Aira.


Yudha kaget saat Aira memanggil kucing dengan namanya. Gadis itu pasti sengaja memberi nama yang sama dengan namanya.


"Yudha, jangan nakal! Mau aku sentil! Pasti sekarang kamu mau tinggalin aku'kan? Karena aku cerewet, ya?" tanya gadis itu sambil memeluk kucingnya.


"Kalau kamu memang tidak suka denganku, terus terang aja. Jangan menghilang dan menggantung status kayak gini!" ucap Aira lagi.


Gadis itu belum juga menyadari kehadiran Yudha. Mendengar ucapan Aira, bukannya marah, Yudha bahkan merasa sangat bersalah. Yudha meletakan brownies yang dia bawa di lantai. Memeluk kekasihnya dari Belakang. Aira yang dipeluk sangat kaget dan langsung menoleh ke belakang.


"Yudha ...," ucap Aira kaget. Tidak menyangka jika pria yang dia pikirkan ada di sini. Aira teringat ucapannya dengan kucing tadi. Wajahnya memerah menahan malu.


"Sejak kapan kamu ada di sini?" tanya Aira menahan rasa malunya.


"Sejak kamu bicara dengan si meong yang bernama Yudha!"


"Haaa ...," ucap Aira kaget. Wajahnya memerah seperti tomat karena malu. Yudha mengacak rambutnya gemas melihat kekasihnya itu.


Yudha mengambil bingkisan yang di bawa tadi, dan memberikan pada Aira.


"Kamu mau menyogok aku?" tanya Aira.


"Aku nggak perlu menyogok kamu. Aku yakin kamu tidak akan pernah marah padaku. Kamu, gadis yang baik. Tante mana, nggak kelihatan?" tanya Yudha.


"Papa dan Mama lagi ke tempat saudara. Masuk, yuk! Nggak enak di luar. Aku juga nggak sabar makan es krim brownies ini."

__ADS_1



"Kamu masuk aja dulu. Aku mau masukan mobil. Tadi aku parkir di luar." Yudha berdiri dan berjalan menuju mobilnya yang terparkir.


Aira masuk dan membuatkan es sirup buat Yudha dan membawa piring serta pisau untuk memotong es krim brownies kesukaannya.


Aira meletakan semua di atas meja yang berada di ruang keluarga. Yudha menyusul setelah memarkirkan mobil di halaman rumah.


Yudha dan Aira menyantap es krim brownies sambil menonton webseries CINTA ALBIRRU di genflix dari laptop yang diletakkan di atas meja. Cinta Albirru webseries yang diadaptasi dari novel mama Reni yang berjudul NODA MERAH PERNIKAHAN .


Melihat pandangan Yudha yang tidak fokus ke film yang di putar, Aira merasa jika kekasihnya pasti sedang banyak pikiran. Aira menyandarkan kepalanya di bahu sang kekasih.


"Sayang, emang kamu sedang ada masalah apa? Kenapa kelihatannya capek dan suntuk banget?" tanya Aira dengan lirih. Suaranya masih sangat jelas ditangkap telinga Yudha.


Sekarang pandangan Yudha tertuju pada Aira yang sedang bersandar di bahu kirinya. Yudha mengecup dahi gadis yang sangat dia sayangi itu.


"Banyak yang terjadi dalam dua hari ini. Rasanya duniaku berputar 180 derajat. Semua seperti mimpi."


"Apa pun itu yang sedang kamu alami saat ini, aku harap semuanya dapat diatasi dengan baik."


Yudha menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa dan pandangan matanya menerawang entah kemana. Dia tidak tahu harus memulai dari mana kisah yang dialami kemarin.


Yudha ingin menceritakan semuanya pada Aira. Tidak ingin ada yang ditutup lagi. Bagi Yudha, gadis itu sudah seperti bagian dari dirinya.


"Aku ingin mengatakan padamu, tapi tidak tahu harus memulai dari mana."


Aira menggenggam tangan kekasihnya itu. Ingin mengatakan jika dia ada dan mendukungnya. Aira yakin jika kali ini masalah yang sedang dihadapi oleh Yudha tidaklah ringan. Terlihat dari raut wajah pria itu.


"Jika kamu belum siap untuk. mengatakan padaku, jangan dipaksa. Aku akan siap mendengar kapanpun kamu ingin cerita," ucap Aira sambil mengelus tangan pria itu.

__ADS_1


"Sayang, kamu pasti tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan." Yudha menjeda ucapannya dan menarik napas dalam dan panjang.


Aira hanya diam. Dia akan menjadi. pendengar yang baik saja. Jika Yudha membutuhkan pendapat, baru dirinya bersuara.


"Lani dan aku ternyata bersaudara. Kami terlahir dari ayah yang sama," ucap Yudha dengan lirih.


Aira yang mendengar ucapan Yudha menjadi kaget, hingga merubah duduknya. Aira memandangi Yudha, berharap apa yang dia dengar itu tidak benar.


"Kamu pasti tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Aku juga begitu. awalnya. Merasa semua mimpi. Bagaimana mungkin. aku dan Lani bersaudara. Namun, sekeras apa pun aku menolaknya, tetap saja tidak bisa merubah segalanya. Aku dan Lani memiliki darah yang sama."


"Yudha, aku nggak tahu harus berkata apa. Bagiku yang bukan siapa-siapa saja begitu kaget mendengarnya apa lagi kamu yang langsung mengalaminya."


Yudha kembali menarik napas. Entah sudah berapa kali dia menarik napasnya sejak mulai bercerita.


Tidak tahu lagi apa yang akan dia lakukan. Jika dia masih membantu Lani, apakah Mami Manda masih setuju. Namun, jika dia menghentikan pengobatan Lani, sama saja membunuh wanita itu.


"Aku nggak tahu harus melakukan apa saat ini. Aku dapat merasakan sakit hatinya Mami. Dua kali menikah, dan dua kali direbut dengan keluarga yang sama. Dan yang lebih menyakitkan bagi Mami, ternyata aku dan selingkuhan suaminya memiliki darah yang sama. Aku sayang Mami. Namun, aku tidak bisa juga mengabaikan pengobatannya Lani. Dia bisa langsung meninggal jika tidak meneruskan pengobatan itu. Aku harus bagaimana, Aira?" tanya Yudha.


Kekasih Aira itu menarik rambutnya frustrasi. Saat ini dirinya bagai makan buah simalakama. Serba salah.


"Kalau menurut pendapatku, sebaiknya kamu jujur dan bicara dari hati dengan Mami. Apa Mami setuju dengan keputusan kamu yang tetap ingin membantu Lani."


"Aira, apa kamu tidak cemburu jika aku masih membantu Lani?" tanya Yudha.


Aira tersenyum sebelum menjawab pertanyaan kekasihnya itu. Aira juga tampak menarik napasnya, mungkin buat menetralkan perasaan hatinya.


"Kenapa aku harus cemburu? Bukankah dia saudara kamu? Itu berarti saudara aku juga. Aku bahkan senang jika kamu dekat dengan adikmu. Asal rasa sayang kamu tetap nomor satu untukku. Aku akan mendukung apa pun yang kamu lakukan asal itu baik dan tidak merugikan kamu atau membuat hubungan kita terganggu.


"Sayang, aku tidak salah memilih kamu sebagai kekasihku."

__ADS_1


...****************...


__ADS_2