TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 17. Kemarahan Jefri.


__ADS_3

Jefri tampak gelisah menunggu kepulangan Melani. Telah hampir dua jam dia menunggu. Bukan hanya Jefri yang tampak gelisah tapi Ibu Yana juga merasakan.


Dari tadi Jefri telah mengeluarkan berbagai umpatan dan ancaman keluar dari mulut Jefri membuat Yana takut kehilangan tambang emasnya itu.


"Sebagai Ibu, kenapa kamu bisa tak tahu kemana anakmu pergi?"


"Lani tidak mengatakan apa-apa, Jef. Biasanya juga dia tepat waktu. Mungkin ini ada tugas."


"Sudah kedua kalinya dia melakukan seperti saat ini. Selalu saja ponselnya.dimatikan."


"Aku rasa agar tidak terganggu saat belajar atau habis baterai-nya," ucap Yana masih berusaha membela Lani agar Jefri tidak marah.


"Itu bukan alasan yang tepat. Pasti ada yang dia sembunyikan. Atau kamu juga sebenarnya mengetahui sesuatu?" tanya Jefri dengan suara tinggi.


Yana kaget mendengar tuduhan dari Jefri. Bagaimana mungkin dia menyembunyikan sesuatu dari pria itu sedangkan kehidupan ekonomi dia bergantung sepenuhnya dengan Jefri.


"Aku curiga jika Lani menjual dirinya pada pria lain. Saat masih perawan saja dia rela menjualnya untuk mendapatkan uang. Apa lagi saat ini, dia telah merasakan enaknya mencari uang hanya dengan mengangkangkan kakinya!"


Yana terkejut mendengar ucapan Jefri yang sangat merendahkan putrinya Lani. Namun, dia tidak bisa melakukan apapun. Mau marah, tapi dia masih mengharapkan uang dari pria itu.


"Jika aku tahu ternyata Lani berkencan dengan pria lain, aku tidak akan pernah memaafkan dirinya!"

__ADS_1


Saat kata terakhir terucap, Lani masuk ke apartemen itu. Pandangan mata Jefri dan Lani beradu. Matanya merah menahan amarah.


Lani yang baru masuk merasakan atmosfer yang kurang mengenakan menjadi terdiam. Dia mencoba mendekati Jefri untuk merayu pria paruh baya itu.


Lani makin dekat dan saat dia kan memeluk tubuh Jefri untuk meredakan amarah pria itu. Namun, di luar dugaan Lani, pria itu mendorong kuat tubuhnya hingga tersungkur.


"Aduh ...," ucap Lani merasakan sakit.


Belum sempat Lani berdiri, tangannya ditarik dan di seret masuk ke kamar. Yana menutup mulutnya kaget atas perlakuan Jefri pada putrinya itu. Rasanya Yana ingin marah dan mencaci maki Jefri tapi mulutnya terasa kelu tidak bisa berkata apa-apa.


Lani yang diseret hingga masuk kamar dan tubuhnya dihempaskan ke lantai. Lani merasakan pergelangan tangannya hampir copot karena tarikan yang kuat dari Jefri.


"Apa yang kau lakukan di luar sana sehingga baru pulang kuliah di jam segini?!" Jefri bertanya dengan suara keras dan lantang.


Dyra yang mendengar itu menjadi kasihan dengan kakak-nya. Dia sadar jika semua yang Lani lakukan agar dirinya dan ibu bisa hidup layak. Namun, Dyra menyayangkan sikap bodoh Lani kakaknya yang mau dijadikan simpanan tanpa kejelasan.


Jika dirinya menjadi Lani, pasti akan minta dinikahkan walaupun hanya siri. Jika kita dinikahi siri itu jauh lebih baik dari pada selamanya menjadi simpanan.


"Apakah semua yang aku lakukan harus dibawah pengawasan Om?" Tanya Lani memperjelas ucapannya.


"Apa kamu lupa jika kamu itu hanyalah seorang budak bagiku. Aku telah membeli dirimu."

__ADS_1


"Baru aku tau arti aku bagi diri Om. Ternyata selama ini aku terlalu terbuai dengan perasaan sendiri. Aku pikir diriku berarti bagi, Om. Ternyata hanya dianggap budak dan sampah!"


"Sekarang kau sudah paham kedudukanmu. Aku telah membeli tubuhmu, jadi jangan coba-coba bermain denganku!"


Air mata Lani tidak bisa dibendung lagi. Dengan kasar dihapusnya air mata itu. Wanita simpanan pasti akan dipandang hina bagi siapapun. Seperti kata Yudha sangat menjijikkan.


"Kenapa kau mematikan ponselmu?!" Kembali Jefri bertanya dengan nada tinggi.


"Habis baterai," jawab Lani pelan diantara isak tangisnya.


Jefri yang masih terbawa emosi tidak percaya dengan ucapan Lani. Meminta ponsel Lani untuk melihat kebenaran ucapan Lani.


"Sini ponselmu!" pinta Jefri. Lani hanya diam tanpa niat memberi karena sesungguhnya ponsel itu masih memiliki banyak baterai. Jika Lani memberikan itu sama saja mengungkapkan kebohongannya.


"Mana ponselmu! Apa kamu memiliki banyak rahasia sehingga takut aku memeriksa dan mengetahui kebohonganmu?" tanya Jefri lagi dengan suara tinggi.


Dengan berat hati Lani mengambil ponsel dari dalam tasnya. Masih ragu dia memberikan pada Jefri. Pria itu menghidupkan kembali ponsel Lani. Wanita itu pasrah. Pastilah Jefri akan mengetahui kebohongannya.


Lani dikagetkan dari lamunannya saat mendengar benturan benda keras ke dinding. Saat mencari tahu asal suara, Lani melihat ponselnya telah menjadi serpihan. Jefri melempar ponsel itu dengan sangat keras ke dinding.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2