
Hari pernikahan Yudha dan Aira akhirnya tiba juga. Semua pihak keluarga berbahagia mendengar kabar pernikahan mereka berdua, terutama keluarga besar Aira. Mereka turut berbahagia mendengar Aira mendapatkan calon suami seperti Yudha, yang kalau dilihat-lihat Yudha itu seperti laki-laki bertanggung jawab.
Acara pernikahan diadakan di salah satu hotel ternama, tentunya bintang lima. Mami Manda tidak akan membiarkan pernikahan putranya satu-satunya hanya digelar secara sederhana. Pasti Mami Manda ingin juga memamerkan betapa tampannya putranya saat memakai pakaian pernikahan bersama gadis pilihan hatinya. Tak lupa, Mami Manda juga sangat bangga memamerkan Aira sebagai menantu satu-satunya.
Sebelum proses pernikahan dimulai, Yudha dan Aira berada di kamar yang berbeda. Mereka tidak dirias secara bersama-sama. Bahkan Yudha dan Aira sama-sama tidak tahu di mana ruangan rias satu sama lain. Hal itu sengaja dilakukan oleh Mami Manda agar mereka tidak saling menyusul sebelum prosesi pernikahan berlangsung.
Aira berada di dalam kamarnya, banyak teman-temannya yang berdatangan untuk bertemu dengannya, memberikan selamat atau bahkan berfoto bersamanya. Aira tampak cantik mengenakan kebaya putih dan hiasan di kepalanya yang biasa dipakai oleh para pengantin.
Sedangkan di ruang rias Yudha, dia bersama teman-temannya yang juga menemaninya. Namun tak lama, teman-temannya Yudha itu sudah keluar kamar setelah Mami Manda datang barusan. Mereka paham, mungkin ada yang ingin dibicarakan berdua saja oleh Mami Manda bersama Yudha. Jadilah mereka semua pamit undur diri.
Yudha tersenyum melihat maminya, dia memeluk wanita yang sudah mengandung dan melahirkannya itu. Yudha melihat maminya sangat cantik mengenakan pakaian adat berwarna nude. Tanpa banyak kata, Yudha pun memeluk maminya guna mengekspresikan perasaan bahagianya di hari ini.
"Mami juga bahagia bisa melihat kamu menikah, Yud," kata Mami Manda tulus dari dalam hati.
Yudha ingin menangis tapi berusaha dia tahan sekuat mungkin. Yudha tidak ingin menghancurkan riasannya sendiri. Lelaki itu tetap ingin terlihat tampan di depan semua orang yang berdatangan.
__ADS_1
Mami Manda mengecup kening Yudha lama. Hingga akhirnya sekarang Mami Manda mengusap kedua bahu Yudha sambil tersenyum.
"Jadilah laki-laki yang bertanggung jawab, yang bisa dipegang janji dan kata-katanya, yang tidak mempermainkan perempuan dan tidak menganggap serta melihat perempuan rendah. Kamu harus ingat, yang membangun rumah tangga itu berdua, jadi harus dijalani berdua juga. Harus saling bahu-membahu, tolong-menolong dan saling mengingatkan jika salah satu di antara kalian ada yang keluar jalur dari kesepakatan. Jangan besarkan egomu, tapi lapangkan dadamu untuk menerima segala hal yang nantinya akan datang ke hadapanmu," kata Mami Manda, memberikan sedikit wejangan kepada putranya sebelum Yudha benar-benar melepas masa lajangnya.
"Jika suatu saat nanti, kamu tergoda dengan perempuan di luar rumah yang lebih cantik dari istrimu, maka ingatlah hari ini bahwa kamu menikahinya karena kamu menganggap perempuan itu istimewa bagimu. Ingat-ingatlah, bahwa kamu pernah sangat memperjuangkan perempuan itu untuk kamu jadikan istri. Jadi, setelah kamu bisa memperistri Aira, jangan kamu sia-siakan dia. Bagaimanapun juga, Aira tetaplah seorang putri di rumah mertua kamu nanti. Besan Mami tidak akan pernah rela melihat putrinya disakiti oleh laki-laki pilihannya. Jangan mengecewakan banyak orang hanya karena keegoisan dan hawa nafsumu sendiri."
Mami Manda masih lanjut memberikan nasihat kepada putranya dan berharap kalau Yudha bisa berkaca pada kasus yang terjadi di keluarga mereka.
Untuk ke sekian kalinya, Yudha menganggukkan kepalanya. Dia berterima kasih kepada maminya yang sudah sangat menyayanginya dan menerima Aira sebagai bagian dari hidupnya. Hingga tak lama, kebersamaan mereka harus terhenti di sana karena penata rias mengatakan bahwa acara akan segera dimulai.
Tak lama, Aira pun juga datang bersama ibunya. Perempuan itu menyusul di samping Yudha dan akhirnya Yudha langsung mengucap janjinya di depan Yang Maha Kuasa, di depan para orang tua dan juga penghulu yang menikahkan mereka. Selang sekian detik, mereka semua mengucapkan kata sah di antara Yudha dan Aira. Semua pihak keluarga pun turut berbahagia atas pernikahan mereka.
Acara masih terus berlanjut ke sesi berikutnya. Sampailah ke acara foto-foto bersama keluarga. Di sini Mami Manda dan Yudha benar-benar mengesampingkan ego mereka dengan memperbolehkan Jefri sebagai ayah sambungnya Yudha untuk ikut berfoto.
Yudha tidak ada rasa dendam lagi pada Papi-nya. Semua telah diikhlaskan. Selain itu, Yudha juga tidak mau kalau dia sampai menyesal di akhir nanti apabila dia menoleh kehadiran Jefri. Bagaimanapun juga, selama ini Jefri sudah bertanggung jawab kepadanya sebagai seorang ayah sambung kepada anak. Meski Jefri menyakiti hati Mami Manda.
__ADS_1
Aira dan Yudha tampak sangat bahagia. Senyuman tidak pernah luntur di wajah mereka. Bahkan ketika Lani datang mengucapkan selamat pun, Aira tidak bisa lagi cemburu karena ternyata kenyataan mengatakan bahwa Lani dan Yudha itu adalah saudara seayah. Lani bisa datang ke acara pernikahan Yudha dan Aira karena Yudha yang mengundangnya, tapi bukan sebagai mantan kekasih atau karena sebagai mantan selingkuhan papinya, melainkan karena Yudha menerima Lani sebagai saudaranya. Mereka benar-benar bersaudara.
"Aku datang ke sini untuk memenuhi undangan dan untuk memberi ucapan selamat atas pernikahan kalian," kata Lani sambil mengulurkan tangannya kepada Yudha dan Aira. "Aku turut berbahagia atas kebahagiaan kalian," lanjutnya lagi.
"Aku juga mau bilang makasih karena kamu sudah mau datang," balas Yudha. "Aku harap, kamu juga bisa menemukan kebahagiaanmu sendiri mulai sekarang," katanya lagi tulus dari dalam hati.
Aira pun ikut tersenyum ke arah Lani. Bagaimanapun juga, Aira semakin sadar kalau Yudha tidak akan pernah bisa kembali lagi dengan Lani, karena Yudha tahu bahwa Lani adalah saudara kandungnya.
Usai mengucapkan selamat kepada Yudha dan Aira, Lani pun turun. Dia berjalan ke arah stand makanan yang disediakan. Hingga tak sengaja, Lani bertemu dengan Jefri.
Perempuan itu tentu saja tampak canggung saat bertemu dengan laki-laki yang pernah menjadi kekasihnya tapi ternyata adalah ayah kekasihnya sendiri. Ada perasaan geli dalam hatinya setiap kali Lani mengingat kemesraan mereka dulu, terlebih ketika mereka sedang berada di atas ranjang dan ketika Lani menikmatinya.
Lani rasa, ini hukuman untuknya yang tidak akan bisa dia lupakan seumur hidupnya. Lani segera menjauh dari sana, dia lebih baik menghindar daripada terus teringat kenangan yang mengerikan.
Sementara Yudha dan Aira, mereka terlihat sangat bahagia. Ada tawa yang terus menghiasi wajah mereka. Bahkan kini, Yudha dan Aira tampak sibuk berfoto bersama.
__ADS_1
...****************...