TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 43. Pengorbanan Dira.


__ADS_3

Setelah ibunya keluar buat beli makanan, Dira duduk di tepi ranjang. Sambil memyuapi kakaknya Dira ingin mengutarakan niatnya.


"Kak Lani, apa kakak benar udah bosan dan ingin mengakhiri hubungan dengan Om Jefri?" tanya Dira pelan.


Dira tidak tahu apakah niatnya ingin menggantikan posisi kakaknya ini benar. Dia ingin mengatakan pada Lani.


"Kakak sadar, Dek. Jalan yang kakak ambil selama ini salah. Banyak hati yang terluka dan kakak sakiti hanya karena keegoisan. Hanya untuk mendapatkan kehidupan yang layak, Kakak telah mematikan kehidupan rumah tangga seseorang."


Lani menghentikan ucapannya. Terbayang wajah terluka dari Mami Manda. Rumah tangga mereka hancur karena kehadiran dirinya. Lebih baik dia mundur sebelum lebih banyak lagi yang terluka.


"Kak, apa benar jika semua uang yang ibu dan ayah minta sama Om Jefri dianggap hutang bukan hanya pemberian cuma-cuma."


Dira takut jika Lani kakaknya melepaskan diri dari Jefri, akan berdampak pada kedua orang tuanya. Dira tidak mau mereka di penjarakan.


"Benar, Dek. Om Jefri pernah menunjukan surat yang ditanda tangani Ayah dan tertulis semua uang yang ayah dan ibu minta. Dan dalam surat itu tertera jika ayah tidak bisa melunaskan hutang sesuai dengan yang diminta, mereka bersedia dimasukkan kepenjara."


Jika saja bukan karena surat perjanjian itu, mungkin Lani telah melepaskan diri dari Jefri sejak kemarin-kemarin. Sama seperti Dira, Lani juga takut jika kedua orang tuanya di penjara. Walau kedua orang tuanya salah, tapi sebagai anak manapun dia tega melihat mereka masuk bui.

__ADS_1


"Kalau begitu, biar aku yang menggantikan Kakak!" ucap Dira dengan penuh penekanan.


Lani yang belum mengerti apa maksud dari ucapan Dira memandangi wajah adiknya dengan dahi berkedut.


"Apa maksudnya?" tanya Lani.


Dira menarik napas dalam sebelum mengucapkan kata-kata selanjutnya. Dia tahu pasti nanti Lani kakaknya akan kaget mendengar ucapan darinya.


"Aku yang akan menggantikan posisi kakak sebagai teman ranjang Om Jefri. Kak Lani bisa pergi jauh kemanapun yang Kakak inginkan. Mungkin ini saatnya aku yang berkorban demi keluarga. Sudah cukup pengorbanan kak Lani selama ini buat keluarga."


Bagai mendengar suara petir di siang bolong Lani mendengar ucapan dari adiknya. Bagaimana bisa Lani berpikir untuk menggantikan posisi dirinya. Apa guna pengorbanan yang telah dia lakukan jika akhirnya Dira menjadi seperti dirinya.


Lani menjeda ucapannya. Dia saja menyesal karena terlanjur jatuh ke dalam lembah nista ini. Jika saja waktu dapat diulang kembali. Pastilah dia tidak ingin melalui hari di mana dia telah memberikan mahkotanya buat Jefri.


Penyesalan yang dia rasakan di hari ini, tidak dapat dia ubah. Semuanya telah terlanjur tejadi. Menyesalpun tiada guna. Tidak akan dapat mengembalikan semuanya.


"Dengar, Dek. Semua yang pernah kakak lakukan, cukup menjadi pelajaran. Sangsi sosialnya kita akan dijauhi semua orang yang mengetahui pekerjaan kita. Semua akan memandangi kita dengan tatapan jijik. Dan tidak bersahabat. Mereka takut kita dekati. Seolah kita ini kotoran."

__ADS_1


Kembali Lani menjeda ucapannya. Dia tidak akan membiarkan adiknya menjadi seperti dirinya.


"Apa lagi jika kamu menjadi pemuas napsu pria yang sama dengan kakak. Kamu belum mengenal siapa Om Jefri itu. Kak Lani saja menyesal pernah mengenal dirinya."


Air mata Lani tampak mulai turun membasahi pipinya. Mengutuk dirinya yang bodoh. Hanya demi uang dan kemewahan seperti temannya dia rela menyerahkan mahkotanya.


Lani tidak habis pikir, kenapa dulu dia begitu tergiur dengan kemewahan sehingga rela menjual harga dirinya. Padahal jika dia benar-benar ingin mencari uang bisa kerja di supermarket.


"Jangan pernah berpikir begitu lagi. Biar kakak yang akan mencari jalan keluar semua ini."


"Aku takut jika kakak pergi dari Om Jefri kedua orang tua kita langsung di penjara. Aku nggak mau itu terjadi."


"Percayakan saja semua pada Kakak. Jangan pernah berpikir untuk melakukan itu semua. Apa lagi sampai nekat melakukan semua itu. Hargai pengorbanan kakak selama ini. Semua akan sia-sia jika kamu juga melakukan hal yang sama."


Lani menggenggam tangan Dira."Buktikan pada semua orang jika kita bisa sukses. Kamu cukup belajar yang baik." Lani memberikan senyumannya.


Saat Lani akan bicara, terdengar suara orang melangkah masuk. Keduanya serempak memandang ke arah asal suara. Tampak seorang pria paruh baya mendekati.

__ADS_1


"Kalian bicara apa? Serius banget!" ucap Jefri begitu sampai dihadapan Lani.


...****************...


__ADS_2