TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 57. Ke Rumah Aira.


__ADS_3

Aira menarik napasnya dalam. Ada rasa bahagia karena bertemu dengan saudara ibu-nya. Namun, ada rasa sedih mengingat orang itulah yang menorehkan luka untuk ibu dari kekasihnya.


Aira memandangi wajah Yudha yang tampak sangat datar. Tidak tahu apa yang sedang Yudha pikirkan saat ini. Apa dia akan berubah pikiran setelah tahu Aira ponakan dari Papi yang dibencinya.


"Sudah berapa tahun kamu dan ibu pindah ke Jakarta?" tanya Jefri lagi.


"Sejak dua tahun lalu."


"Kenapa tidak ada kabar dari keluarga lain?" tanya Jefri.


"Aku rasa mama pernah ngomong di grup Wa keluarga. Apa mungkin Om yang tidak ada gabung di grup keluarga?" tanya Aira.


Gadis itu bertanya karena tidak pernah ada nama Jefri disebut dalam grup keluarga. Jika ada dalam grup tidak mungkin Aira tidak mengenalnya.


Jefri mencoba tersenyum. Sejak dia menikah dengan Manda, dan orang tua Aira pindah tidak pernah Jefri bertemu dengan saudaranya. Jefri hanya dekat dengan Ibunya Aira.


"Sejak kamu dan keluarga pindah, Om emang tidak pernah datang ke acara keluarga ataupun gabung di grup keluarga."


"Pantas Om tidak tahu. Om, aku pamit dulu. Aku janji pulang sore ini. Takut mama dan papa kuatir jika aku belum sampai juga."


"Baiklah. Om minta nomor Ponselmu dan alamat rumah. Om mau main ke rumah kamu!"


Aira menyebutkan sederet angka nomor ponselnya. Dia juga menyebutkan alamat rumahnya. Setelah itu Aira dan Yudha pamit.


Dalam perjalanan menuju rumah orang tua Aira, Yudha hanya diam. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Dia hanya fokus menyetir.

__ADS_1


Aira mengerti, pastilah saat ini Yudha sedang memikirkan hubungannya dengan Om Jefri. Apakah Yudha tidak bisa menerima jika dirinya ponakan dari Jefri. Pria yang memberi luka untuknya dan mami Manda.


Aira menyentuh lengan kekasihnya dengan pelan, takut mengagetkan Yudha yang sedang fokus menyetir.


"Apa kamu marah dan tidak bisa menerima jika aku ternyata ponakan dari Om Jefri? Kamu akan meninggalkan aku?" tanya Aira pelan.


Aira takut jika itu memang yang akan Yudha lakukan. Siapa tahu pria itu tidak mau berhubungan dengan Jefri dan orang terdekatnya.


"Apa aku berhak marah denganmu?" tanya Yudha.


Aira menarik napas dalam. Berharap jika Yudha tidak marah dan menyangkutkan dirinya dengan perbuatan yang dilakukan Jefri.


"Mungkin saja? Karena aku ponakan dari Om Jefri."


"Aku tidak sepicik itu, Aira."


"Aku tidak habis pikir dengan Papi. Kenapa dia tidak ada hati. Tidak ada keinginan untuk membantu Lani padahal mereka telah lama berhubungan. Aku dan Lani hanya berhubungan selama 5 bulan. Apa lagi hubungan Papi dan Lani bukan hanya sekadar kenalan atau pacaran. Mereka sudah seperti suami istri," ucap Yudha pelan.


Aira kembali menarik napasnya. Mengerti akan sakit yang Yudha rasakan. Dia tidak akan menyalahkan Yudha atau Mami jika suatu saat dia memutuskan hubungan.


Satu jam perjalanan, sampailah Aira di depan rumahnya. Sudah enam bulan dia tidak pulang. Aira rindu dengan suasana kamarnya.


"Maaf, Ra. Aku langsung pulang," ucap Yudha.


Aira yang ingin membuka pintu mobil jadi mengurungkan niatnya mendengar ucapan dari Yudha. Dia memandangi Yudha dengan wajah sendu.

__ADS_1


"Kamu pasti kecewa karena aku ada hubungan dengan Om Jefri. Jika tahu akan jadi begini lebih baik tadi aku tidak mengenal Om Jefri," ucap Aira dengan tersedu.


"Bukan begitu Aira. Aku hanya capek. Dari ati kita pergi dari rumah. Dan ini sudah mau magrib."


"Seharusnya kamu itu istirahat sebentar di rumahku kalau memang capek. Bukannya langsung pulang. Aku takut nanti terjadi sesuatu denganmu."


Yudha tidak tega melihat Aira yang menangis. Dari tadi dia sudah banyak menyakiti hati gadisnya itu. Yudha memeluk Aira dan membawa ke dalam dekapan dadanya.


"Aku nggak marah denganmu. Hanya masih kaget, mengetahui kamu ternyata ada hubungan dengan Papi. Aku butuh waktu buat istirahat."


"Jika kamu tidak marah, masuklah sebentar. Aku sudah terlanjur ngomong sama mama jika aku di antar kamu dan mama ingin kenalan."


Yudha menarik napas dalam. Dia tidak tahu harus bagaimana. Sebenarnya dia butuh waktu buat berpikir mengenai yang terjadi saat ini.


"Baiklah aku mampir sebentar," ucap Yudha akhirnya.


"Terima kasih, Yudha."


"Terima kasih untuk apa?"


"Karena masih mau menerima aku. Sungguh aku juga malu atas perbuatan yang pernah om Jefri lakukan. Tapi aku tidak bisa memilih dari mana aku dilahirkan. Kebetulan ada darah yang sama dengan Om Jefri. Namun, harus kamu ingat, darah bisa saja sama tapi sifat dan kelakuan tergantung dari pribadi kita masing-masing."


Yudha tersenyum. "Katanya mau mengajak aku mampir, tapi masih saja betah di mobil. Tunggu aku cium dan peluk dulu ya?" tanya Yudha menggoda Aira.


"Siapa bilang?"

__ADS_1


"Aku yang ngomong!" Aira mencubit lengan Yudha yang selalu saja menggodanya. Aira dan Yudha keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah itu


...****************...


__ADS_2