
Yudha mencari Aira kesana kemari, bahkan hingga memutari satu rumah sakit tetapi tak menemukan wanita itu. Yudha ketakutan, dan panik. Bagaimana tidak, Aira pergi tanpa pamit atau meninggalkan pesan untuknya.
Lelaki itu mengumpat dalam hatinya. Ini gara-gara Lani, semuanya karen wanita itu. Dari awal seharusnya, Yudha tak perlu mengiyakan permintaan Aira dan keluarga Lani. Kalau dia tak ke rumah sakit, pasti sekarang Aira masih berada di sampingnya. Tanpa ada permasalah begini.
Yudha kembali lagi ke kamar Lani, dengan nafas ngos-ngosan serta tubuh berkeningat. Lani yang melihatnya pun heran, dia sampai mengira jika Yudha habis olah raga.
"Dari mana Yudha?" tanya Lani penasaran.
"Cari Aira," jawab Yudha tanpa basa-basi lagi.
Lani merasa tertohok dengar perkataan Yudha. Pada akhirnya Aira-lah juaranya di hati Yudha.
"Udah malam gini, mungkin dia pulang ke rumah," tanggap Lani santai. Tetapi hal itu tak dianggap oleh Yudha. Lelaki itu tetap mau mencari hingga Aira ketemu dan mereka berbicara 4 mata.
"Bukan urusan kamu," jawab Yudha ketika Lani terus mengutarakan pendapatnynya.
"Apa yang dikatakan Kak Lani itu benar, Kak. Pasti Mbak Aira pulang ke rumah. Bosan dengan suasana rumah sakit," ucap Dira.
"Kamu pasti tau alasannya. Aku dan Aira telah mengatakan denganmu tentang hubunganku ...."
"Iya, Kak. Aku mengerti," ucap Dira memotong ucapan Yudha. Dia takut Yudha keceplosan ngomong tentang hubungannya dengan Aira.
Yudha tidak mau mendengar omongan Dira lagi. Tanpa berpamitan dengan manis kepada Lani maupun Dira, Yudha pergi dari rumah sakit. Tetapi tetap, dia yang bertanggung jawab terhadap Lani. Dia melunasi dulu pengobatan Lani.
Apakah Yudha bodoh karena membayar pengobatan Lani? Entahlah. Yang pasti Yudha melakukan semua atas dasar kemanusiaan dan juga pertemanan.
Yudha meninggalkan Lani dan dengn kondisi tak baik, karena cemas akan keadaan Aira sebenranya.
Dalam perjalanan mencari Aira sesekali ia menelpol Aira, tetapi hasilnya tetap sama yaitu nomor sedang diluar jangkauan. Yudha tak pernah sekhawatir ini dalam hidupnya. Hanya Aira yang bisa membuatnya segila ini.
Di sisi lain, Aira tiba di rumahnya. Tanpa menyapa siapapun di rumah, ia langsung memasuki kamarnya. Aira merasa hari ini emosinya tak stabil. Hatinya di bakar api cemburu, yang menyebabkan Aira bertindak tanpa pikir panjang. Tidak seperti biasanya.
Aira menjatuhkan tubuhnya pada kasur. Teredam bantalnya, Aira menangis tersedu. Walaupun awalnya Aira yang memaksa Yudha menemani Lani operasi karena kasihan melihat wanita itu. Tapi sebagai kekasih hatinya tetap cemburu melihat perhatian Yudha pada Lani.
Kenapa Aira dengan ikhlas mengurus Lani sebelumnya, ya karena dia tak ingin Yudha yang mengurus Lani. Lebih baik Aira saja, daripada Lani mengambil kesempatan dalam kesempitan. Aira tidak rela jika Yudha di rebut begitu saja.
Aira melihat interaksi Yudha dan Lani tadi, chemistry keduanya sangat kuat sebagai pasangan. Mungkin dikarenakan mereka pernah menjalin hubungan dulunya. Tetapi, kekasih Yudha sekarang Aira. Lani tak memiliki ruang di antara mereka lagi.
__ADS_1
Mau bagaimanapun Aira menguatkan diri, tetap saja sakit hatinya tak terobati. Dia bingung sekali, apa yang harus dilakukannya sebagai kekasih Yudha sekarang. Lani mendapat simpati banyak, sedangkan Aira biasa saja. Bahkan banyak yang tak mengenalinya.
Kembali lagi pada Yudha, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Aira. Itu satu-satunya tempat yang terpikirkan oleh Yudha sekarang.
Yudha jadi semakin menyalahkan dirinya sendri. Seharusnya dari awal, Yudha membiarkan Aira mengambil alih dalan mengurus Lani. Agar dia terhindar dari rayuan Lani, agar dia tak membuat Aira pergi saat ini.
Hingga tibalah Yudha di rumah orang tua Aira. Yudha segera mengetuk puntu rumah itu. Pria itu menungguh sampai ada orang yang membukanya.
"Yudha?" suara wanita paruh baya menyapa pendengaran Yudha.
"Mama, Aira sudah pulang?" tanya Yudha tanpa basa-basi. Yudha memanggil Mama atas permintaan Mama Susanti.
Mama Aira tak menjawb dulu, malah membawa Yudha masuk ke rumah .
Tadi dia juga sempat melihat Aira yang masuk ke kamar dengan wajah cemberut.
"Ada apa cari Aira?" tanya Mama Susanti
"Dia tadi pergi sama Yudha, tetapi Aira tidak pamitan dengan Yudha," jelas lelaki itu pada Mama kekasihnya Aira.
"Aira di kamar, tadi pulang dia diam saja. Terus sampai kamar dia menghindari kami," jelas Mama Aira.
Yudha semakin yakin jika Aira pergi karena perbuatanya pada Lani yang berlebihan. Gadis itu berhak di hukum, tetapi dia ingin terus bersama Aira.
"Boleh Yudha ke kamar Aira?" izin lelaki itu.
Mama mengangguk menandakan setuju jika Yudha melihat putrinya. Pelan tapi pasti, Yudha menghampiri kamar kekasihnya. Di depan pintu pria itu berhenti sejenak lalu menghela nafas.
Yudha mengetuk pintu Aira dengan pelan.
Hingga beberapa kali.
"Aira, ini Yudha. Kita perlu bicara," ujar Yudha lirih di depan pintu Aira.
Awalnya tak ada jawaban, namun pada ketukan ke empat Yudha dikejutkan karena Aira membuka pintu. Sehingga keduanya kini saling berhadapan. Yudha melihat ada jejak-jejak air mata di mata Aira.
Matanya merah dan pipinya masih basah.
__ADS_1
"Bicara apa?" Tanya Aira lirih. Dia benar-benar tak bisa melakukan apapun, jika belum memperbaiki Mood. Bisa saja dia merah-marah di dekat Yudha.
"Kita bicara di dalam aja?" tawar Yudha.
Aira mempersilahkan Yudha masuk kamarnya. Ini bukan pertama kalinya, mereka berduaan di kamar. Tetapi, orang tua Aira percaya Yudha bukan orang yang tak bertanggung jawab.
Mereka saling berhadapan, Yudha menatap mata Aira. Di sana dia mencari kecemasan apa yang dialami wanitanya, sehingga dia bisa membantunya.
"Jadi?" tanya Aira.
"Kemu kenapa pergi dari RS tanpa pesan apapun?"
"Ada urusan penting," jawab Aira menutupi.
Yudha nampaknya sadar jika seseroang sedang menutupi rasa cemburunya. Pria itu tidak bisa marah, karena cemburu tanda cinta. Cuma, Yudha tak suka jika Aira pergi tanpa meninggalkan pesan.
"Maafkan aku ya, karena perlakuanku kepada Lani berlebihan. Pasti itu membuat kamu tidak nyaman," ujar Yudha meminta maaf terlebih dahulu. Pria itu menyadari buntut kesalahannya.
Aira meneteskan air mata lagi, tetapi Yudha langsung menghapusnya. Aira tak seharusnya menangis hanya karena merasa tidak enak karena cemburu. Kalau begini Yudha jadi gemas dengan Aira. Wanita itu sungguh tulus, sampai tak mau membebani kekasihnya karena perasaan yang dia rasakan.
"Kenapa?" tanya Yudha.
"Aku bingung sama perasaanku, awalnya aku tidak khawatir dengan Lani. Tetapi makin ke sini, aku takut dan cemas kalau kamu akan berpaling," jelas Aira bergetar.
"Itu nggak mungkin. Aku akan selalu memilih kamu."
"Tapi kalian pernah menjadi sepasang kekasih. Dan aku hanya orang baru untuk kamu Yudha."
Yudha paham overthinking Aira. Wanita itu pasti cemas karena Lani mengenalnya lebih dulu daripada Aira. Gadis itu merasa insecure dengan dirinya sendiri.
Padahal sudah jelas, kalau Aira akan selalu menjadi juaranya. Hati Yudha milik Aira sekarang, bukan milik Lani. Lani adalah masa lalu, bahkan masa lalu yang menyakitkan. Yudha bahkan tak mau mengingat-ingat Lani lagi. Lani tak berhak untuk diberi kesempatan lagi.
"Kamu nggak perlu khawatir. Yudha itu punya Aira. Kamu berhak cemburu, karena kamu mau melindungi punya kamu," ujar Yudha menenangkan Aira.
Wanita itu tak sedih lagi, melainkan hatinya semakin menghangat karena ucapan manis dari Yudha.
...****************...
__ADS_1