TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 45. Pendekatan.


__ADS_3

Tanpa di duga Aira dan Yudha tinggal di apartemen yang sama. Saat Aira ingin masuk ke lift, dia melihat ada Yudha di dalam.


"Kamu tinggal di apartemen ini juga?" tanya Aira.


"Ya ...," jawab Yudha singkat.


"Kenapa selama ini aku nggak pernah melihat kamu?" tanya Aira lagi.


"Tentu saja kamu tidak pernah melihatku. Aku baru seminggu tinggal di sini!"


"Oh, iya. Masuk kampus aja juga kamu baru," ucap Aira sambil memukul dahinya pelan. Yudha tersenyum melihat tingkah Aira yang lucu.


"Kamu tinggal di unit berapa?"


"Lantai 15 Unit 205."


"Berarti kita tetanggaan. Kemana aja sih aku, kenapa ada orang cakep di samping apartemen aku nggak tahu," gumam Aira. Namun, masih dapat di dengar Yudha. Kembali pria itu tersenyum.


"Aku boleh mampir ke apartemen kamu sesekali? Tentu saja tidak boleh karena kita bukan kekasih atau suami istri." Aira bicara pada dirinya sendiri.


"Lain kali boleh saja. Tapi saat ini apartemen aku masih berantakan. Mami janji mau datang, tapi karena kesibukan sampai hari ini belum juga ke sini."

__ADS_1


"Aku bisa bantu kamu membersihkan apartemen," ucap Aira.


"Terima kasih, tapi aku malu. Masa baru kenal udah minta tolong bersihkan apartemen."


"Nggak apa, ayo aku bantu. Dari pada berantakan terus nanti banyak tikus."


Mendengar kata tikus, Yudha akhirnya setuju. Dia paling geli dengan binatang itu. Bisa-bisa tidak makan seminggu jika melihat ada tikus dalam apartemennya.


Yudha dan Aira bekerja sama membersihkan dan merapikan apartemennya. Dalam waktu hampir satu jam dihabiskan mereka untuk membersihkan apartemen.


Aira duduk di sofa dengan keringat yang bercucuran. Pendingin ruangan seakan tidak berfungsi apa-apa. Yudha membawa 2 gelas air jeruk dingin dan meletakkan dihadapan Aira.


"Nggak usah. Aku mau mandi dan istirahat. Kapan-kapan saja." Aira meneguk minuman itu hingga kandas. Yudha melihatnya dengan tersenyum. Tanpa malu gadis itu menghabiskan segelas air jeruk.


"Aku pamit. Jika masih butuh bantuan, silakan hubungi nomor yang aku beri tadi. Jasaku murah. Satu jam cuma 13 juta."


"Itu bukan murah. Kamu mau merampok?" Aira dan Yudha tertawa bersama.


***


Lani telah keluar dari rumah sakit. Saat ini Lani dan ibunya sedang berbincang. Lani tetap pada pendiriannya untuk bebas dari Jefri.

__ADS_1


"Maaf, Bu. Sebaiknya kita pindah dari apartemen ini. Besok aku akan mencoba mencari kontrakan. Aku janji akan tetap membantu Ibu buat kebutuhan hidup kita. Namun, aku tidak bisa berjanji akan memberikan uang yang banyak seperti dulu. Tapi buat makan kita aku masih sanggup mencarinya."


"Siapa yang memengaruhi kamu melakukan semua ini."


"Ini memang keinginan dari hatiku. Aku tidak mau begini terus."


"Bukankah Jefri mengatakan segera menikahi kamu. Dia akan mengurus surat-suratnya terlebih dahulu."


"Tapi aku tidak mencintai Jefri. Aku tidak bisa menikah dengannya."


"Cinta tidak bisa membuat kamu kenyang. Cinta juga tidak bisa membuat kamu banyak uang. Jangan sok idealis kamu."


"Tapi aku tidak bisa, Bu. Aku mau hidup dengan orang yang aku cintai dan mencintai aku apa adanya."


"Impian kamu terlalu tinggi. Tidak akan ada satu pria pun yang mau denganmu. Seharusnya kau bersyukur karena Jefri mau menikahi kamu."


Lani menarik napas dalam. Dia tidak akan mau kembali menjadi budaknya Jefri. Apapun yang akan terjadi, walaupun dia harus melihat kedua orang tuanya di penjara.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2