TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 82. Melamar Aira


__ADS_3

Malam ini Yudha mengajak Aira makan malam dan meminta gadis itu berdandan. Awalnya Aira tidak mau dan bertanya-tanya dengan Yudha, kenapa dia harus berdandan? Yudha hanya mengatakan ingin makan malam. Lama Yudha meyakinkan Aira,baru gadis itu setuju.


Langit malam yang cerah, membuat Yudha semakin bersemangat untuk melancarkan aksinya kali ini. Sudah seharian dia merancang apa yang dia impikan bersama dengan beberapa pelayan yang memang ditugaskan oleh pihak manager restoran buat membantu event yang dia harapkan bakal berhasil sampai tuntas.


Di dalam mobilnya, Yudha sedang bernyanyi-nyanyi mengikuti lirik lagu yang dia putar. Suasana hatinya sedang senang dan Yudha juga ingin mengekspresikannya melalui lagu agar dunia tahu bahwa masih ada hal yang membuatnya bisa tersenyum dan tertawa setelah penderitaan yang dia alami karena keegoisan papinya.


Usai menempuh perjalanan sekitar dua puluh menit, Yudha sampai di depan sebuah salon perempuan. Tanpa canggung, lelaki itu pun masuk ke salon itu dan dia mendapatkan tatapan aneh dari para pengunjung lainnya.


Namun tak berselang lama, Yudha dihampiri oleh salah satu petugas salon yang berdandan kian menawan.


"Sini, ikut eyke," ajaknya dengan gaya khas laki-laki manja.


Yudha mengikuti ke mana laki-laki cantik itu mengajaknya. Ternyata Yudha diajak ke sebuah ruangan yang lebih tertutup. Dia diminta duduk di sebuah sofa yang disediakan dan tak lama, laki-laki cantik tadi keluar dari salah satu ruangan sambil membawa perempuan asli yang tentunya lebih cantik dari karyawan salon tadi.


Mata Yudha takjub melihat itu, dia terpesona pada kecantikan Aira yang mengenakan dress selutut dengan lengan terbuka. Yudha yang mulanya duduk, kini dia sampai berdiri hanya karena Yudha sangat tak sabar untuk ingin melihat Aira dari samping.


"Gimana hasil dandanan eyke? Cetar membahana 'kan? Bisa bikin mata you berkilau-kilau kayak mata ngelihat duit merah sama biru," ucap sang karyawan salon sambil merasa puas dengan hasil karya tangannya.


Aira menundukkan kepalanya, dia sedikit malu buat membalas tatapan Yudha karena Aira takut jika Yudha tidak suka melihatnya seperti ini.


Namun tak lama, Yudha mengangkat dagu Aira hingga kedua mata mereka bertemu. Yudha tersenyum begitu lembut pada Aira, membuat gadis itu ikut tersenyum.


"Aku aneh ya?" tanya Aira pelan.

__ADS_1


Sebuah gelengan kepala dari Yudha menjadi jawaban atas pertanyaan Aira. Gadis itu sedikit merasa lega melihat jawaban Yudha, tentu saja Aira berharap kalau Yudha tidak sedang berbohong kepadanya.


"Kamu cantik," puji Yudha berbisik di samping telinga Aira, membuat gadis itu semakin tersipu malu.


Karyawan salon tadi ikut gemas pada tingkah Yudha dan Aira. Bahkan dia sampai menggerakkan tangannya seolah sedang meremas sesuatu karena saking gemasnya.


"Pergi sekarang?" tanya Yudha seraya membentuk tangan kirinya menjadi huruf D besar. Aira pun menganggukkan kepalanya, dia melingkarkan tangannya ke lengan Yudha.


"Bayar dulu sebelum pergi," tegur karyawan salon tadi, membuat Yudha dan Aira seketika tertawa.


Yudha jadi malu karena ketahuan belum membayar, lebih tepatnya dia lupa kalau belum melunasi tagihan.


"Maaf, aku lupa karena pasanganku terlalu cantik begini," ucapnya. Yudha pun segera memberikan kartu debitnya kepada karyawan salon tadi dan melunasi semua biaya tagihan salon dan dress yang dipakai oleh Aira.


Yudha memperlakukan Aira dengan penuh perhatian. Lelaki itu juga membukakan pintu seperti biasa dan bahkan memakaikan sabuk pengaman untuk Aira. Selesai dengan Aira, Yudha ganti berlari ke arah kursi kemudinya. Dia melajukan mobilnya menuju ke restoran yang sudah dia pesan jauh-jauh hari.


"Kamu sebenarnya mau ngajak aku ke mana?" tanya Aira kepada Yudha. "Kamu dari tadi siang sikapnya aneh banget. Kamu yang tiba-tiba jemput aku ke rumah, ngajak aku ke salon, terus kamu yang ninggalin aku di salon berjam-jam, dan sekarang kamu datang lagi pakai pakaian rapi begini. Sebenarnya kamu lagi merencanakan apa sih, Yud?" Aira lanjut bertanya karena dia benar-benar penasaran pada apa yang dilakukan oleh Yudha.


Yudha menoleh ke arah Aira, dia tersenyum lalu tangan Yudha terulur ke arah tangan kiri Aira. Yudha sama sekali tidak menjawab, dan Aira hanya bisa menerimanya.


Dua puluh menit berlalu, Yudha kembali tiba di restoran yang sudah dia pesan. Namun ketika Aira akan turun, Yudha menahan tangannya dan itu membuat Aira sedikit heran.


"Kenapa lagi?" tanya Aira sambil melihat tangannya yang ditahan oleh Yudha.

__ADS_1


Yudha mengeluarkan sebuah kain, dia perlihatkan kain itu kepada Aira.


"Aku harap, kamu tidak keberatan kalau aku minta kamu untuk bersedia matanya ditutup sebentar. Nanti aku bakal menuntun kamu sampai ke dalam restoran," kata Yudha membuat kening Aira mengerut.


Aira mendesah sebelum berkata, "Ya sudah, aku mau mataku ditutup. Asal kamu nggak aneh-aneh sama aku."


Yudha menganggukkan kepalanya, dia meyakinkan Aira lewat tatapan matanya kalau Yudha tidak akan macam-macam pada Aira. Karena sudah mendapat restu dari Aira, Yudha pun akhirnya menutup kedua mata Aira pakai kain yang sudah dia siapkan.


Sepasang kekasih itu masuk ke dalam restoran berdua. Yudha dengan sangat hati-hati membantu Aira untuk berjalan dan memastikan kalau gadisnya itu tidak akan tersandung. Dua orang pelayan membantu membukakan pintu ruangan yang sudah dipesan oleh Yudha.


Ruangan itu juga dihias dengan sedemikian cantik dan apik oleh Yudha sendiri, tentunya dibantu para pelayan restoran yang memang ditugaskan untuk mengatasi event ini. Maka dari itu, tadi siang Yudha sengaja meninggalkan Aira di salon agar dia bisa menghias ruangan ini untuk acara yang sudah dia siapkan.


Yudha melepaskan Aira, lelaki itu meminta kekasihnya untuk berdiri di sana dan tidak boleh membuka penutup matanya sampai Yudha memintanya. Kini, posisinya Yudha sudah berlutut dengan satu kakinya di depan Aira.


"Kamu dengar aba-aba dari aku ya, dalam hitungan ketiga nanti kamu boleh buka penutup mata dan buka mata kamu," kata Yudha yang diiyakan oleh Aira.


Yudha langsung menghitung angka satu sampai tiga. Aira benar-benar membuka penutup matanya dan membuka matanya, betapa terkejutnya gadis itu ketika dia melihat Yudha berlutut di depannya sambil memegang satu kotak cincin berlian yang ditujukan kepadanya.


"Menikahlah denganku, Aira. Jadilah pelengkap hidupku," ucap Yudha singkat. Padahal Yudha sudah menyiapkan banyak kata-kata tapi ternyata saat dia mempraktikkannya secara langsung, Yudha mengalami kesulitan dan hanya ini yang bisa keluar dari bibirnya.


Aira terkejut, dia bahagia dan tanpa banyak berpikir panjang, akhirnya Aira menganggukkan kepalanya. Gadis itu terlalu syok karena dilamar mendadak seperti ini oleh lelaki yang dia cintai.


Yudha pun memakaikan cincin berlian tadi ke jari manis Aira dan dia juga memberikan satu bouquet bunga mawar merah kepada kekasihnya. Sekarang Yudha berdiri, dia peluk tubuh Aira sebagai rasa bahagianya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2