TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 41. Aku Mau Pergi.


__ADS_3

Lani yang merasa Jefri telah sering menginjak harga dirinya menjadi sakit hati. Apa karena pria itu memberi dia uang sehingga bisa melakukan sesuka hatinya.


Dengan sekuat tenaganya Lani berdiri dan menatap Jefri dengan mata menyala. Sudah cukup kesabarannya selama ini menghadapi sikap Jefri yang semena-mena.


"Aku ingin mengakhiri semua ini. Aku sudah bosan dan muak denganmu!" ucap Lani dengan penuh emosi.


Mendengar ucapan Lani, pria itu menjadi naik darah. Jefri yang kesadarannya mulai hilang karena mabuk langsung menampar pipi Lani dengan kerasnya. Hingga tubuh wanita itu terhuyung.


"Dasar ja*lang. Apa kau pikir bisa lepas dariku setelah kau menikmati uangku?"


"Kenapa tidak? Kau memberikan uang setelah kau menikmati tubuhku. Jadi itu sama saja, aku menjual tubuhku dan kau beli dengan uangmu. Apakah kau bisa meminta uang itu lagi? Tentu saja tidak. Itu hak aku karena kau juga telah menikmati tubuhku!"


Lani mengabaikan rasa sakit dipipinya. Wanita itu mengambil ponsel dari dalam tas dan memotret pipinya. Jefri yang mabuk tidak memperhatikan itu. Lani lalu menghidupkan perekam suara.


"Dasar ja*lang ...." Tangan Jefri terhenti di udara. Kesadarannya yang kadang hilang kadang timbul. Jefri menghentikan gerakan tangannya meningat jika di apartemennya terdapat banyak cctv.


"Mulai hari ini aku tidak akan menjual tubuhku untukmu. Dan kau juga tidak perlu memberikan aku uang."


Lani berjalan setelah mengatakan itu semua. Jefri yang telah terbawa emosi menarik tangan wanita itu dan menyeretnya masuk ke kamar. Setelah itu Lani dikurung.


Lani berteriak minta dibukakan pintu. Namun pria itu mengabaikan suara teriakan wanita itu. Jefri bahkan mengambil sebotol minuman lagi di bar mini yang ada diapartemennya.


Jefri kembali meminum dan hingga dia ambruk ketiduran karena mabuk. Dia tidak ingat jika Lani di kurung di dalam kamarnya.


***


Di kediaman Manda. Dia sedang menyiapkan semua kebutuhan Yudha yang akan pindah kuliah ke luar kota saja. Manda tidak mengizinkan putranya ke luar negeri.

__ADS_1


Yudha pindah ke Yogyakarta, sekalian belajar menjadi pemimpin perusahaan Manda yang ada di kota itu.


"Sebelum kamu pergi, Mami ingin mengatakan sesuatu."


"Ada apa, Mi? Sepertinya serius banget!" ucap Yudha. Dia melihat wajah Mami yang tampak tegang.


Mandi memutuskan akan mengatakan semuanya. Tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Yudha juga perlu tahu penyebab Papi nya selingkuh. Bagaimana pun Jefri adalah Papi yang baik buat Yudha sebelum mereka berselisih.


Manda ingin Yudha tetap menghormati Jefri, bagaimana pun sikap dan kelakuan pria itu. Dia juga ikut andil membesarkan Yudha dengan penuh kasih sayang.


"Sebenarnya Papi kamu mulai selingkuh juga karena salah Mami yang telah membohongi dirinya selama ini." Mami menghentikan ucapannya, menarik napas dalam. Kejujuran memang akan terasa sulit. Namun harus dia lakukan. Tidak mungkin sembunyikan lagi.


"Kebohongan apa yang telah Mami lakukan sehingga Papi melakukan itu? Aku yakin itu semua karena Papi saja yang tidak tahu diri sebagai suami. Tidak bersyukur memiliki istri seperti Mami."


"Dengar dulu apa yang akan Mami katakan. Sebelumnya Mami juga minta maaf karena menyembunyikan ini dari kamu, sehingga kamu dan Papi menjadi begini. Saling membenci." Manda kembali menarik napas dalam. sebelum mengatakan semuanya.


Yudha menarik napas dalam. Baru dia tahu alasan Papi nya mulai menjauhi keluarga dan mencari kesenangan di luar sana.


"Aku mengerti dengan perasaan Papi dan Mami. Semua sudah terjadi. Tidak ada gunanya menyesali takdir. Aku juga sudah merelakan dan mengikhlaskan Lani. Semoga kedepannya diberikan pasangan yang sesuai. Aku pamit dulu, Mi. Jaga kesehatan."


"Maaf Mami tidak bisa mengantar kamu karena lusa sidang keputusan perceraian Mami dan Papi. Mami akan menyusul seminggu lagi. Sekalian Mami ingin mengatakan pada seluruh karyawan, jika kamu yang akan memimpin perusahaan."


"Mi, apa nggak tunda aja. Mami saja yang pimpin. Aku masih kuliah. Malu, Mi."


"Satu tahun lagi kamu juga wisuda. Sekalian belajar. Tapi Mami akan selalu memantau dan sekali seminggu akan datang memastikan kinerja kamu. Walau itu perusahaan Mami yang akan jatuh ke tangan kamu, tapi sebagai seorang pemimpin tetap kamu harus menunjukan sikap yang baik."


Yudha menganggukan kepala setuju dengan ucapan Mami. Yudha akan di antar supir. Dia akan tinggal di apartemen milik Mami. Apartemen itu digunakan saat Mami berkunjung ke Yogyakarta.

__ADS_1


Mami mengantarkan Yudha putranya hingga masuk ke mobil. Sebelum mobil meninggalkan halaman, Yudha membuka kaca mobilnya. "Mami, hati-hati. Aku sayang Mami. Jangan pikirkan lagi, semua yang terjadi dalam hidup karena takdir Tuhan. Tuhan yakin Mami mampu sehingga diberikan cobaan."


"Iya, Sayang. Kamu juga yang sabar. Mami yakin akan ada wanita yang jauh lebih baik dari Lani dipersiapkan Tuhan untukmu. Semoga kamu bisa cepat melupakan semuanya. Ini yang terbaik untukmu. Tuhan masih sayang denganmu sehingga cepat menunjukkan siapa wanita yang kamu cintai itu."


Yudha hanya tersenyum menanggapi ucapan Mami dan melambaikan tangan sebelum meminta supir menjalankan mobil meninggalkan kediamannya dan Mami.


Setelah Mobil itu hilang dari pandangan barulah Mami masuk. Mami duduk di ruang keluarga dan menyalakan televisi. Baru kali ini dia berpisah dengan putranya itu.


Usia Yudha saat ini telah 21 tahun. Selama itu tidak pernah sekalipun mereka berpisah. Kemanapun pergi selalu bareng. Baru kali ini Manda harus berpisah dengan putra tercintanya.


"Mungkin ini yang terbaik untukmu, Sayang. Lani memang wanita baik tapi bukan terbaik. Jika dia rela menjual harga dirinya hanya demi uang, tidak menutup kemungkinan itu juga akan dilakukan jika kamu tidak dapat memenuhi keinginannya kelak setelah melahirkan." Mami bicara pada dirinya sendiri.


***


Ditempat lain, matahari telah bersinar terang. Jam telah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Jefri mengecek matanya. Kepalanya terasa berat, akibat mabuk kemarin.


Jefri mencoba mengingat apa yang terjadi. Dia baru sadar dan langsung menuju kamar. Jefri ingat jika Melani dia kurung di kamar tadi malam.


Jefri membuka pintu kamar. Suasananya tampak gelap karena lampu yang dimatikan. Pria itu menghidupkan lampu kamar. Dia heran karena tidak ada suara siapapun.


Jefri melihat seisi kamar ternyata kosong. Dia mulai tampak kuatir. Jefri mencoba mencari Lani ke balkon juga tidak tampak.


Jefri melihat pintu kamar mandi yang terbuka sedikit dan terdengar suara air. Jefri mengintip dan kaget melihat tubuh wanita itu tergeletak kaku di lantai.


"Lani ...," teriak pria itu. Membuka pintu kamar mandi dengan paksa dan langsung menggendong tubuh Lani yang membeku karena kedinginan.


...****************...

__ADS_1



__ADS_2