
Ibu mendekati Lani dan memeluk putrinya itu. Rasa kuatir tampak di wajahnya. Sejak mereka lepas dari Jefri, Lani-lah yang selalu bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Ibu Yana sudah mulai sadar dengan apa yang telah dia lakukan selama ini. Menjual anak hanya untuk kesenangan pribadi.
Awal mereka pindah ke kontrakan kecil ini, Ibu Yana selalu uring-uringan. Tidak pernah mau keluar rumah. Apa lagi bertemu dengan temannya.
Namun, beberapa hari ini telah tampak perubahan pada wanita yang melahirkan Lani itu. Dia mulai bisa menerima kenyataan. Sudah mulai mau bertemu temannya.
"Lani, kamu kenapa, Nak?" tanya Ibu Yana dan membawa Lani ke dalam pelukannya.
"Sakit, sakit, Bu," ucap Lani sebelum akhirnya pingsan.
"Lani, Lani. Bangun, Nak!" Ibu Yana memukul pipi Lani pelan. Tampak wajah Ibu yang sangat kuatir.
"Dira ... panggilkan taksi!" teriak Ibu Yana sambil terisak. Dia merasa bersalah melihat keadaan putrinya ini. Lani tampak sangat pucat.
Dira langsung menghubungi nomor taksi. Sementara taksi datang, ibu membalurkan minyak kayu putih ke seluruh tubuh Lani terutama dibawah hidung agar Lani siuman.
Ibu Yana masih terus memukul pelan pipi Lani agar putrinya sadar. Namun, usahanya tidak juga berhasil.
Taksi datang lima belas menit kemudian, dengan bantuan supir taksi ibu menggendong Lani. Ibu Yana duduk di belakang dengan Lani dan Dira didepannya.
Sampai di rumah sakit, Lani langsung masuk ruang IGD. Dokter melakukan pemeriksaan. Setengah jam kemudian Dokter keluar dari ruangan dan menemui Ibu Yana dan Dira.
"Apa saya bisa bicara dengan keluarga Lani?" tanya Dokter.
"Saya Ibu nya, Dok!"
"Ibu bisa ikut saya ke ruang praktik. Ada yang ingin saya sampaikan."
Ibu Yana mengikuti langkah dokter menuju ruang kerjanya. Pikirannya sudah tidak menentu. Ibu Yana sangat takut mendengar kenyataan jika anaknya mengidap suatu penyakit berbahaya.
__ADS_1
Setelah dipersilakan duduk, Ibu Yana duduk dihadapan Dokter. Sebelum bicara tampak Dokter itu menarik napas dalam.
"Sejak kapan Lani sering merasakan sakit kepala yang begitu dahsyat?" tanya Dokter Andi dengan suara pelan.
"Sudah satu bulan yang lalu, Dok. Lani sering mengeluh sakit."
"Apa lagi yang sering Lani keluhkan dengan Ibu?"
"Tadi adiknya Lani mengatakan jika kakaknya mengeluh sering lupa, badan kadang kaku dan sering kesemutan. Sakit kepala yang datang tiba-tiba tapi sangat sakit banget. Jika dengan saya, Lani tidak pernah jujur. Mungkin dia tidak mau saya kuatir, Dok!"
"Dari gejala yang sering Lani alami, sepertinya Lani saat ini sedang menderita kanker otak. Namun, untuk memastikan semua itu kami perlu mengadakan berbagai Tes kesehatan."
Ibu Yana tampak sangat syok mendengar ucapan Dokter. Tubuhnya langsung terasa lemas. Tidak ada tenaga. Bagaimana mungkin anaknya bisa menderita penyakit mematikan. Bagaimana dan apa yang akan dia lakukan untuk kesembuhan putrinya?
Dokter menjeda ucapannya terlebih dahulu. dan melanjutkan penjelasannya lagi.
"Kanker Otak biasanya memiliki gejala Sakit kepala kambuhan, biasanya semakin lama semakin sering kambuh.Terkadang kejang tanpa sebab jelas. Sebagian anggota tubuh sering mati rasa.Sering mual dan muntah.
"Dokter, tidak mungkin anak saya menderita penyakit itu. Coba Dokter periksa lagi," ucap Ibu Yana dengan suara bergetar.
"Untuk dapat hasil yang pasti kami akan melakukan serangkaian tes kesehatan. Adapun pemeriksaan yang digunakan untuk mendiagnosis kanker otak yaitu Pemeriksaan Elektroensefalogram (EEG) Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara merekam aktivitas listrik di bagian otak dengan menggunakan elektroda pada kulit kepala. Kedua Pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) . Dan ketiga CT Scan. Dan yang terakhir Pemeriksaan Biopsi. Hasilnya bisa kita lihat nanti."
Ibu Yana tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Dokter. Pikirannya hanya tertuju pada Lani. Apakah yang akan terjadi dengan anaknya itu? Dia tidak tega melihat putrinya harus menderita karena mengidap penyakit mematikan itu.
Uang, itu juga menjadi pikiran Ibu Yana. Untuk biaya pengobatan Lani pasti mereka akan membutuhkan banyak uang. Simpanannya diberikan lagi pada Jefri. Ibu Yana berharap itu akan mengurangi hutangnya pada Jefri. Namun, diluar dugaan walau semua uang tabungannya diberikan, pria itu tidak mengurangi hutangnya sedikitpun.
***
Di tempat lain, Yudha sedang makan berdua Aira di sebuah restoran. Empat bulan bersama, Yudha yakin jika Aira cocok buat pendampingnya. Menjadi kekasih menggantikan Lani.
"Aira, kamu sudah mendengar semua kisah cintaku terdahulu. Kamu juga dapat mengerti dan menerimanya. Kehadiran kamu selama ini telah mampu membuat aku bisa bangkit kembali. Hari ini aku ingin hanya ingin mengatakan, jika hidupku indah karena kamu bersamaku, kamu membuatku bahagia bahkan jika aku merasa sedih dan rendah. Senyummu menerangi hidupku dan semua kegelapan menghilang. Maukah kamu menjadi milikku?”
__ADS_1
Aira kaget mendengarnya. Yudha selama ini masih sedikit acuh. Tidak mengira jika pria itu mencintainya. Aira pikir, cintanya akan bertepuk sebelah tangan. Dari awal Aira mengira dirinya saja yang jatuh cinta dengan Yudha. Namun, ternyata mereka berdua saling memcintai.
"Aira, meskipun aku memiliki banyak hal untuk dikatakan, tetapi kata-kataku bersembunyi dariku dan aku tidak bisa mengungkapkannya. Hal sederhana yang ingin aku katakan adalah aku mencintaimu hari ini dan selalu. Caramu bisa membuatku tertawa bahkan di hari-hari tergelap membuatku merasa lebih ringan dari apa pun," ucap Yudha selanjutnya.
Aira masih diam membisu semua kata-katanya hilang karena bahagia mendapati kenyataan jika Yudha juga mencintainya. Air mata bahagia menetes dari sudut matanya.
"Aira, sekali lagi aku tanyakan, apakah kamu mau menjadi kekasihku?" tanya Yudha.
"Yudha, aku rasa kamu pasti sudah tahu jawaban dariku. Tidak perlu kata-kata. Dari sikapku selama ini pasti kamu telah tahu dan mengerti perasaan ini."
"Tapi aku juga butuh kepastian berupa ungkapan dan kata."
"Apa yang harus aku katakan? Aku malu ah. Kamu kok bisa romantis gini. Biasanya cuek," ucap Aira. Wajahnya memerah menahan malu. Padahal biasanya dia yang paling bawel.
"Ya, kamu harus katakan kamu cinta aku atau tidak," ucap Yudha, membuat Aira makin salah tingkah.
"Harus ya?" tanya Aira lagi.
"Harus dan wajib. Jika kamu tidak mengatakan cinta. Aku anggap kamu menolak aku!" Yudha tersenyum karena mampu membuat Aira salah tingkah.
"Baiklah. Yudha, aku bersedia menjadi kekasihmu. Aku juga sangat mencintai kamu. Aku ingin kita saling terbuka dalam hubungan ini. Tidak ada yang disembunyikan. Semoga hubungan ini menjadikan kita pribadi yang lebih baik," ucap Aira.
Yudha tertawa mendengar ucapan Aira yang serius. Biasanya gadis itu selalu berkata semaunya.
"Kenapa tertawa?" ucap Aira cemberut.
"Ternyata kamu kalau bicara serius, lucu!" Yudha masih terus tertawa melihat wajah Aura yang makin merah menahan malu.
...****************...
__ADS_1