
Dira memandangi Yudha, menunggu reaksi pria itu. Dira berharap jika pria itu mau menemui kakaknya dan saling memaafkan. Mungkin dengan saling ikhlas, itu akan lebih baik.
"Aku ingin meminta tolong Kak Yudha untuk membujuk Kak Lani agar mau di operasi."
"Kenapa harus aku? Apa kamu yakin Lani akan mau jika aku yang membujuknya? Kamu adiknya saja tidak bisa merayu apa lagi aku yang bukan siapa-siapa. Aku rasa kamu salah datang ke sini."
Dira tidak tahu harus berkata apa, dia melihat sikap Yudha masih sama. Tidak ada tanda-tanda jika pria itu mau menemui Lani.
"Maaf, Dira. Aku tidak bisa. Aku hanya bisa doakan dari sini saja. Semoga penyakitnya Lani diangkat, dan dia sembuh kembali."
Yudha tetap tidak berubah pikiran. Mendengar itu Dira berdiri dari duduknya dan tanpa Yudha dan Aira kira, adiknya Lani itu berlutut di depan Yudha dan memohon pada pria itu.
"Aku mohon Kak. Akhir-akhir ini kak Lani sering menyebut nama kak Yudha. Mungkin kehadiran Kak Yudha dan membujuknya, Kak Lani mau melakukan operasi. Atau kemo. Jika semua pengobatan tidak mau kak Lani lakukan itu akan makin memperpendek umurnya. Apa kak Yudha tidak ada rasa kasihan?Jika memang Kak Yudha sudah tidak memiliki perasaan paling tidak lakukan atas nama teman, kenalan atau sesama manusia!"
Aira yang melihat Dira berlutut, ikut berdiri dan meminta Dira bangun dan duduk kembali. Aira tidak tahu pasti apa yang membuat kekasihnya ini keras hati dan tidak mau membantu. Sesakit apa hati luka. Apa yang telah terjadi dengan hubungan mereka dulunya? Banyak pertanyaan menari di kepala Aira.
Dira terisak. Terbayang jika kakaknya Lani akan pergi selamanya. Dia tidak mau berobat karena bagi Lani tidak ada gunanya semua itu. Dirinya juga akan segera meninggal. Padahal pengobatan dapat mencegah sel kanker meyebar dengan cepat.
"Dengar, Dira. Yudha pasti akan datang. Sekarang aku minta kamu tenang. Berikan waktu buat Yudha berpikir. Aku yang akan membawanya kehadapan Lani," ucap Aira dengan menggenggam tangan Aira.
Dira tersenyum mendengar ucapan Aira. "Mbak Aira janji!"
"Ya, aku janji. Dan aku bisa pastikan jika Yudha masih sangat peduli pada Lani. Semua ucapannya tadi hanyalah luapan emosi sesaat. Aku harap kamu bisa memahami sikapnya Yudha tadi."
"Iya, Mbak. Aku paham sekarang."
"Kalau begitu kita sarapan. Mungkin mie gorengnya dah keburu dingin!"
Aira mengajak Dira dan Yudha buat sarapan. Menyajikan menu makanan dengan teh hangat. Dira menyantapnya dengan semangat. Selain karena masakannya enak, Dira juga lapar
__ADS_1
Setelah sarapan, Dira pamit. Yudha masih saja diam tanpa banyak bicara. Entah apa yang ada dalam pikiran pria itu.
"Kak Yudha, Mbak Aira, aku pamit."
"Hati-hati. Sampaikan salamku buat Lani. Semoga penyakitnya segera di angkat. Dan dia bisa dengan ikhlas menghadapi semua ini."
"Terima kasih, Mbak."
Dira menyalami Yudha dan Aira sebelum pergi meninggalkan apartemen pria itu. Dira sangat berharap jika Yudha berubah pikiran dan bersedia menemui Lani. Jika memang Yudha masih saja keras dengan pendiriannya, Dira berharap jika Aira dapat membujuknya.
Dira langsung kembali ke Jakarta hari ini juga. Tidak ingin menunda lebih lama lagi. Takut Lani curiga jika dia bermalam berlama-lama.
Yudha duduk di sofa sambil menonton. Namun, pikirannya bukan ke acara televisi tapi tetap pada Lani. Yudha ingin bertemu tapi hatinya melarang. Dia tidak ingin membuat Aira kecewa.
Setelah Aira membersihkan dan mencuci piring bekas makan mereka, gadis itu ikut bergabung dengan Yudha. Dia tersenyum ke arah pria itu.
"Kapan kita ke Jakarta?" tanya Aira.
Aira tersenyum. Menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Menggenggam tangan kekasihnya. Aira juga tahu jika sesungguhnya Yudha mengerti maksudnya.
"Mumpung kita liburan, kita ke Jakarta. Bisa dua tujuan tercapai. Menemui Lani, dan liburan. Kamu juga bisa sekalian berkenalan dengan Papa dan Mamaku."
"Aku belum siap buat bertemu!"
"Sayang, aku nggak tahu apa yang menyebabkan kamu dan Lani berpisah. Namun, sebagai orang yang pernah dekat dengannya aku yakin saat ini sebenarnya hati kamu ingin bertemu tapi ego melarang. Jangan biarkan penyesalan nanti menghantui kamu."
"Aira, aku akan mengatakan semuanya. Apa yang menyebabkan aku berpisah dari Lani? Kenapa sakit hati ini masih membekas."
"Jika kamu belum siap untuk mengatakan semuanya. Aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai kapanpun kamu siap."
__ADS_1
Yudha menarik napas. Seharusnya dia berterus terang pada Aira. Namun, Yudha berpikir jika dia mengatakan semua itu sama saja dia membuka aib Papinya.
"Aira, aku bukan ingin menyembunyikan sesuatu denganmu. Namun, saat ini aku belum siap untuk mengatakan semuanya. Ini menyangkut aib keluargaku juga. Suatu saat aku janji akan mengatakan itu semua."
Aira tersenyum dan berkata, "Aku akan selalu menunggu. Yang terpenting kamu telah jujur mengenai hubunganmu dengan Lani dulu."
Yudha mengecup telapak tangan Aira. Gadisnya ini sangat pengertian. Yudha sangat beruntung bisa mendapatkan cinta dari wanita itu.
"Bagaimana kalau besok pagi kita berangkat?"
Yudha hanya diam, masih ragu menjawab. Dia takut Mami tidak setuju dengan keputusannya. Selain Yudha, Mami juga korban dari Lani. Mami juga yang paling tersakiti.
"Bukannya aku tidak mau menemui Lani, tapi aku juga memikirkan perasaan Mami. Apakah dia setuju jika aku menemui Lani?" tanya Yudha pada diri sendiri. Namun, suaranya sangat jelas di dengar oleh Aira.
"Mami ...?" tanya Aira.
"Iya, Mami. Alasan aku sangat membenci Lani juga karena Mami. Wanita itu telah menyakiti dan melukai hatinya."
Dahi Aira berkerut mendengar ucapan Yudha. Apa sebenarnya yang terjadi dengan Lani dan Yudha. Rasa penasarannya bertambah.
"Aku rasa Mami pasti mengerti jika tahu Lani sedang menderita penyakit berbahaya," ucap Aira.
"Masalahnya hubungan aku dan Lani itu putus karena Lani itu selingkuhan Papi. Dia bukan hanya menyakiti hatiku tapi juga Mami. Dua tahun dia menjadi simpanan Papi. Rumah tangga Mami harus kandas karena orang ketiga dan ternyata orang itu Lani. Hati siapa yang tidak akan sakit dan terluka karena itu."
Aira menutup mulutnya karena kaget mendengar ucapan Yudha. Jadi itu alasannya mereka berpisah. Pantas saja Yudha tampak begitu terluka. Ternyata dua orang yang dia sayangi mengkhianatinya.
"Lani telah membayar semuanya. Dia harus mengidap penyakit yang mematikan. Kita sebagai manusia biasa yang juga tidka luput dari salah, tidak bisa menghakimi kesalahan orang lain. Lagi pula sepertinya Lani sudah tidak lagi berhubungan dengan Papi kamu. Dira tidak ada menyinggung Papi kamu dari tadi."
...****************...
__ADS_1