TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 42. Masuk Rumah Sakit.


__ADS_3

"Lani ...," teriak Jefri. Membuka pintu kamar mandi dengan paksa dan langsung menggendong tubuh Lani yang membeku karena kedinginan.


Jefri langsung menggendong dan membawanya ke rumah sakit terdekat. Beruntung Lani cepat di tangani. Dokter mengatakan dirinya kedinginan hingga pingsan.


Saat ini Lani telah berada di ruang rawat inap. Ibu dan Dira menjaganya saat ini karena Jefri harus pulang mengganti pakaian.


Lani membuka matanya dan melihat ibu dan adiknya yang duduk di sofa. Dira yang melihat Lani telah membuka mata langsung berdiri dan menghampiri wanita itu.


"Syukurlah akhirnya Kak Lani sadar. Apa yang Kakak lakukan? Kenapa bisa pingsan di kamar mandi?" tanya Dira penasaran.


Ibu Yana ikut berdiri dan menghampiri anaknya itu. Tampak dari wajah tegangnya jika wanita itu sedang menahan amarahnya. Lani hanya diam.


"Apa yang kau lakukan? Kau pikir dengan menyakiti dirimu, kau akan bisa bebas dari Jefri dan dapat mengejar putranya?" tanya Ibu Yana.


Ibu Yana telah mengetahui jika Lani pernah dekat dengan putra Jefri. Pria itu mengatakan semua yang terjadi kemarin.Lani masih saja bungkam dengan apa yang dikatakan ibu-nya.


"Jangan mimpi terlalu tinggi, Lani. Jika kamu nanti terjatuh sakitnya akan parah. Kamu seharusnya bersyukur karena Jefri mau menikah denganmu. Mana ada pria baik-baik yang mau dengan wanita simpanan seperti kamu!" Ibu berucap dengan cukup keras.


Wanita itu bosan melihat tingkah anaknya yang mulai melunjak dan berubah sejak jatuh cinta dengan Yudha. Selalu saja melawan apa yang Jefri katakan.


"Apa kamu lupa jika ini semua keinginan kamu? Aku tidak pernah meminta kamu buat jual diri!" ucap Ibu sedikit berteriak. Wajahnya merah menahan emosi.


"Ibu, kenapa berteriak? Ini di rumah sakit. Lagi pula kak Lani masih sakit. Kenapa Ibu marah-marah?" tanya Dira.


Dira kasihan melihat Kakaknya yang tampak tidak memiliki gairah hidup ini. Matanya menerawang entah kemana. Dira tidak tahu apa yang sedang Lani pikirkan saat ini.


Saat ini usia Dira telah memasuki 18 tahun. Dia akan mulai kuliah tahun depan. Dira teringat jika Lani mulai menjadi wanita simpanan saat berusia sama dengannya.

__ADS_1


"Kakakmu ini harus di buka matanya. Biar dia sadar diri. Jangan selalu bermimpi," ucap Ibu Yana.


Tanpa Dira dan Yana duga, Lani bangun dan duduk menghadap Ibunya. Matanya merah menyala menatap ke arah Ibu Yana. Wanita itu sedikit ngeri melihatnya.


"Aku memang salah karena mencari uang dengan menjual diri. Namun, Ibu yang lebih salah. Membiarkan aku bahkan mendukung aku menjadi pe*la*cur. Perlu ibu tahu, aku tidak bisa lepas dari Jefri karena ayah dan Ibu!" Lani berucap tidak kalah lantangnya.


Ibu Yana terdiam awalnya. Namun, dia tidak bisa terima disalahkan anaknya. Harga dirinya merasa terinjak. Dia balik menantang Lani. Menatapnya dengan mata melotot.


"Aku mendukung kamu karena kamu yang telah terlanjur jatuh ke dalam lembah hitam itu. Kalaupun kamu mundur juga percuma. Perawanmu juga telah direnggut Jefri. Kenapa sekarang kamu jadi menyalahkan aku dan Ayahmu!"


"Karena uang yang sering ibu dan ayah minta itu dihitung sebagai hutang oleh Jefri. Dan aku diancam akan dipenjarakan jika aku pergi darinya. Kenapa Ibu meminta uang sebanyak itu tiap bulannya. Bukankah aku telah memberi ibu uang yang cukup banyak. Kemana perginya semua uang itu. Atau apa yang pernah aku dengar itu benar. Uang yang aku berikan dan yang ibu minta pada Jefri habis buat judi online. Ibu juga ikutan berjudi'kan?" tanya Lani.


Tangisnya pecah. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk melepaskan diri dari Jefri. Padahal pria itu tidak pernah lagi memberikan uang lebih untuknya.


Jefri hanya memberi uang buat jajan saja. Jika kebutuhan lain Lani gunakan dari uang tabungannya dan juga dari penghasilan penjualan online.


Ibu Yana kaget mendengar ucapan Lani. Dia memang tidak tahu jika semua uang yang dia minta pada Jefri dihitung sebagai hutang. Yang menandatangani surat itu ayah Lani.


"Aku nggak tahu jika itu di hitung hutang. Yang aku tahu jika itu berupa pemberian dari Jefri. Lagi pula apa susahnya menerima pria itu. Dia telah tahu siapa kamu. Jika dengan pria lain belum tentu bisa menerima kamu apa adanya," ucap Yana.


"Sudahlah, Bu, Kak Lani juga. Jangan sesali apa yang telah terjadi.Jalani saja dan jika tidak sanggup lambaian tangan. menyerahlah."


"Aku sudah mau menyerah. Aku lelah dengan semua ini. Dua tahun lebih menjadi budak nafsu. Aku ingin bebas seperti anak seusia aku tapi itu tidak mungkin karena tubuh ini telah terjual. Aku muak dan jijik dengan diri sendiri."


Lani menangis terisak, Dira membawa Lani kedalam pelukannya.


Apakah aku saja yang menawarkan diri pada Om Jefri untuk menggantikan Kak Lani. Sudah cukup dua tahun ini dia berkorban untukku.

__ADS_1


Dira telah memutuskan akan bicara pada Jefri. Siapa tahu pria itu bersedia menerima tawarannya untuk mengganti posisi Lani.


Lani kembali teringat Yudha. Dia telah mengikhlaskan kepergian Yudha. Bukankah semua memang salahnya. Mulai hari ini, Lani akan mencari jalan keluar terbaik untuk hidupnya.


Menangisi penyesalanku, aku tahu ini mungkin karma, ya aku terima karma ini, kenyataan jika waktu nggak akan bisa kembali lagi.Seandainya aku terlahir kembali, akan kuperbaiki kesalahan dan penyesalanku di masa-masa itu.


Ketika kamu menyakiti orang lain, baik sadar atau tidak, itu akan membawamu pada penyesalan. Tidak ada orang yang mau tenggelam dalam rasa penyesalan. Menyesali perbuatan yang sudah terjadi, bisa membuatmu menyalahkan diri sendiri.


***


Di tempat lain Yudha telah mulai kuliah lagi. Di kelas itu ada seorang wanita yang selalu memperhatikan semua gerak-gerik Yudha.


Saat jam istirahat Yudha ke taman. Dia masih belum mau bergabung dengan teman lainnya. Melihat Yudha sendirian, wanita itu mendekatinya.


"Boleh aku bergabung?" tanya wanita itu.


"Silakan?"


Wanita itu duduk di samping Yudha dan mengulurkan tangannya. "Kenalkan nama saya Aira. Kamu siapa?" tanya Aira.


"Yudha ...." Pria itu menerima uluran tangan Aira.


Aira mengajak Yudha mengobrol walau pria itu hanya menjawab sesekali.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2