
Yana menarik nafas dalam. Dia juga tidak percaya jika dirinya dan putrinya Lani, sama-sama merebut suami Manda. Diakui Yana, jika dia yang berada pada posisi Manda pasti akan marah juga.
"Apa kamu tahu bagaimana perasaan aku saat ini? Sesak ... Dua kali berumah tangga, dua kali dapat pria yang hanya mencintai hartaku dan yang lebih menyesakan dada adalah kedua suamiku direbut oleh darah yang sama. Ibu dan anak," ucap Manda dengan suara yang lumayan tinggi.
"Aku minta maaf, Manda. Aku tahu ini salamku. Namun, di sini Lani tidak tahu hubungan kita. Dia tidak sengaja menghancurkan rumah tanggamu. Lani juga melakukan semua karena terdesak ekonomi. Bukan karena ingin merebut Jefri dari sisimu."
"Bukan merebut bagaimana? Apakah kamu sadar karena kedekatan Lani dan Jefri-lah rumah tanggaku akhirnya kandas!"
Lani sayup-sayup mendengar ucapan Manda dan Ibunya. Dia memandangi wajah Yudha meminta penjelasan.
"Sepertinya Mami dan Ibu bertengkar. Apa yang mereka perdebatkan?" tanya Lani dengan Yudha.
Yudha tidak menjawab pertanyaan Lani. Memandangi wajah wanita itu tanpa kedip. Jika apa yang ibu dan Mami pertengkarkan itu benar, berarti dia dan Lani bersaudara. Apa yang harus dia lakukan?
"Yudha, Mami dan Ibu kenapa? Apa ada hubungannya denganku? Apa aku melakukan kesalahan lagi? Apa yang aku lakukan dulu? Kenapa ingatanku banyak yang hilang?" tanya Lani.
Tampak air mata mengalir dari sudut matanya. Ada rasa kasihan dari dalam hatinya melihat keadaan Lani, tapi rasa benci juga terselip dari hatinya.
Lani dan Ibunya yang telah menoreh luka di hati Mami dan dirinya. Gara-gara Ibu Yana, dia harus kehilangan sosok ayah dari masih dalam kandungan.
Ketika Mami Manda bahagia dengan pernikahan keduanya, Lani datang menghancurkan semua itu. Yudha tidak bisa membayangkan bagaimana hancur hati Mami.
__ADS_1
"Aku pasti sangat jahat sehingga Tuhan menegur aku dengan penyakit ini. Katakan saja, Yudha. Dosa apa yang aku lakukan? Sejahat apa diriku ini?" tanya Lani dengan terisak.
Dira keluar dari rumah dan kaget melihat Yudha. Begitu juga ketika melihat ada wanita yang bertengkar dengan ibunya.
"Kenapa Kak Lani menangis?" tanya Dira. Dia berlutut dihadapan Lani dan menghapus air mata saudara perempuannya itu.
"Dokter sudah katakan, jangan Kakak banyak pikiran dulu. Nanti bisa bahaya bagi kesehatan kakak!"
Dira menghapus air mata yang mengalir di pipi Lani dan memeluk kakaknya. Dira kuatir Lani kembali sakit. Dokter sudah mengatakan jika penyakit Lani sudah 50 persen bisa disembuhkan. Hanya tunggu pengobatan selanjutnya.
Dira berdiri dan mendekati Mami dan Ibunya. Ingin tahu siapa wanita yang sedang berdebat dengan ibunya saat ini.
"Ada apa ini, Bu? Kenapa bertengkar? Lihatlah Kak Lani jadi kuatir dan menangis. Bisa berakibat buruk bagi kesehatannya!" ucap Dira sedikit emosi.
"Manda, Lani sudah menerima balasan apa yang dia lakukan. Kamu lihat itu, dia berjuang antara hidup dan mati."
Manda melihat ke tempat Lani sedang duduk. Tampak wanita itu menangis. Yudha hanya duduk terdiam di sampingnya.
"Tante, siapa?" tanya Dira. Tampaknya gadis itu kurang senang dengan ucapan Manda.
"Tanya dengan Ibumu siapa aku?"
__ADS_1
Dira memandangi Ibunya memohon jawaban. Namun, Ibunya bukan menjawab, tapi air mata yang keluar dari kedua sudut matanya.
Bagaimana Yana akan menjelaskan semua. Jika Dira, Lani dan Yudha ternyata bersaudara. Apa kata Dira jika mengetahui dirinya dulu perebut suami Manda dan Lani juga perusak rumah tangganya.
"Aku nggak rela atas uang yang telah suamiku dan anakku habiskan buat anakmu Lani. Semoga kau mendapat balasan atas apa yang telah kau lakukan!"
Manda berjalan mendekati Lani. Ketika berhadapan dengan wanita itu. Tiba-tiba Lani berlutut. Tadi samar-samar ingatan Lani kbali. saat dia dan Manda bertemu.
"Maafkan aku, Tante. Aku telah menerima balasan atas perbuatanku. Aku tahu semua salahku. Kenapa aku berhubungan dengan suami orang? Maafkan aku, Tante!" ucap Lani.
Dira yang berjalan dibelakang Manda mulai mengerti dengan apa yang terjadi. Namun, dalam pikiran Dira, Mami marah dengan Ibunya karena Lani yang telah menjadi simpanan Jefri.
Dira membantu Lani berdiri dan meminta kakak-nya itu duduk kembali. Dira tidak mau Lani kembali sakit.
"Maaf, Tante. Aku mengaku jika Kakakku Lani bersalah karena telah berhubungan dengan suami Tante. Namun, Tante tidak bisa hanya menyalahkan Lani saja. Om Jefri juga bersalah. Jelas sudah memiliki istri, kenapa masih bermain dengan wanita lain! Lagi pula Lani telah berpisah dari Jefri dan telah menerima karma atas perbuatannya. Lihatlah dia saat ini!" Dira menunjuk ke arah Lani yang masih menangis terisak.
Manda sebenarnya mendatangi Lani, hanya untuk melihat keadaannya. Bukan untuk menghakimi wanita itu. Sesakit apa pun perasaannya saat ini, tapi Manda masih punya perasaan. Tidak mungkin marah dengan orang yang sedang sakit.
Namun, melihat Dira yang marah secara tiba-tiba membuat emosi Manda kembali di uji. Dia menatap Dira dengan mata tajam.
"Aku tahu suamiku juga salah sehingga memutuskan berpisah. Dan perlu kamu ketahui gadis kecil, kemarahanku bukan ditujukan buat kakakmu. Aku masih punya hati. Tidak mungkin aku marah dengan orang sakit. Aku marah hanya dengan ibumu. Setelah dia merebut suamiku, dia tidak puas juga sehingga membiarkan anaknya merebut suamiku lagi. Ibumu dan kakakmu merebut kedua suamiku!" ucap Manda penuh penekanan.
__ADS_1
Dira dan Lani yang mendengarnya menjadi sangat kaget. Lani memegang kepalanya yang terasa sangat sakit karena tadi memaksa ingatannya pada Mami Manda.
...****************...