TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 62. Operasi.


__ADS_3

Akhirnya hari ini Lani akan menjalankan operasinya. Ditemani Aira, Yudha datang ke rumah sakit. Sebenarnya Yudha masih enggan buat menemani Lani, tapi Aira memaksa. Gadis iti telah berjanji dengan Dira


Lani terbaring lemah di bankar rumah sakit. Alat-alat penunjang kehidupan terpasang di badannya. Namun untuk urusan keras kepala, dia masih juaranya.


Dokter sudah memberikan jalan terbaik bagi pengobatan Lani, yaitu melalui operasi. Dengan adanya operasi, kemungkinan sembuh bagi Lani akan besar.


Sayangnya, mendekati hari dilangsungkannya operasi. Lani mengancam tak mau melakukannya jika Yudha, yang dianggapnya masih berstatus pacarnya, tak menemaninya. Suster yang menangani Lani kebingungan karena pasiennya itu sulit sekali dibujuk.


Fisik Lani memang terlihat sehat, tetapi otaknya sudah digrogoti kanker. Hal itu membuat ingatannya memudar, sampai membuatnya linglung. Bahkan menyerukan hal-hal aneh


"Aku mau ketemu Yudha!" pekik Lani kesekian kalinya. Setiap suster memulai pembicaraan tentang operasi, Lani selalu marah-marah.


"Tenang Nona Lani ya, tenang," suster yang sedang memeriksa Lani mencoba menenangkan wanita muda itu.


Sayangnya Lani tidak bisa tenang, sehingga suster terpaksa memberikan suntikan obat penenang.


Dengan tidak stabilnya kesadaran Lani, Suster mencoba mendiskusikannya dengan Dokter yang menangani Lani juga keluarga pasien. Pada akhirnya pihak pihak keluarga menghubungi Yudha yang terus di bicarakan oleh Lani.


Meski dengan negosiasi alot, mengingat Yudha merupakan mantan Lani. Dengan perpisahan mereka yang tagis. Lani adalah selingkuhan Jefri, ayah Yudha sendiri.


Sebenarnya masih berat bagi lelaki itu untuk datang, tetapi keluarga Lani memohon padanya. Mereka bilang ini mengenai hidup dan matinya Lani. Mana mungkin Yudha bisa mengabaikan itu.


Kenapa setelah sekian lama, Lani masih menjadi batu sandungan Yudha. Dia sudah mencoba memaafkan wanita itu, tetapi tetap saja tidak bisa. Lani sudah menghancurkan hidupnya, dan juga keluarganya.


"Sayang, aku tahu pasti hati kamu masih sakit. Tetapi, bagaimana kalau kita kesampingkan itu dulu," nasihat Aira. Wanita yang kini menemani Yudha, kekasih barunya. Aira adalah sosok wanita sabar, dan dewasa. Dia menemani Yudha di saat terburuknya, lalu membantu lelaki itu bangkit lagi.


Salah satu alasan Yudha bersedia menemani Lani karena Aira yang memintanya. Aira kasihan melihat keadaan wanita itu.


"Ini karma buat dia, buat apa aku iku campur tangan," Yudha kembali dengan argumennya.


"Itu mungkin karma, tetapi disini dia masih bisa diselamatkan. Siapa tahu dengan bantuanmu, itu bisa menjadi ladang pahala," Aira kembali berujar dengan lembut.


"Tapi ...,"


"Kenapa kamu tidak yakin dan ragu, bukankah aku juga akan temani kamu," ujar Aira mantap.


Yudha menatap Aira dengan sendu. Lelaki itu hanya luluh dengan kata-kata Aira. Wanita itu selalu berhasil menjawab semua argumen Yudha.

__ADS_1


Setelah itu keesokan harinya, Yudha datang bersama kekasihnya, Aira. Sekali lagi lelaki itu hanya datang karena permintaan Aira dan keluarga Lani. Jika mereka tidak meminta sampai memohon kepadanya, mungkin Yudha tak akan mau menginjakkan kaki di rumah sakit tempat Lani berada.


Pihak rumah sakit mengantarkan Yudha ke ruangan observasi Lani. Dari luar ruangan, Yudha bisa melihat bagaimana kacaunya mantan pacarnya itu. Lani nampak berbeda dengan yang dulu, sekarang mungkin karena penyakit tubuhnya jadi kurus, kulit wajahnya kusam, serta bibirnya kering. Lani benar-benar jadi orang pesakitan sekarang.


"Kita masuk sekarang?" tanya Aira, karena Yudha membeku di luar ruangan Lani. Sedangkan, suster sudah meninggalkan mereka dan mempersilahkan mereka masuk.


Yudha mengangguk, lalu menggandeng tangan Aira erat. Seakan meminta kekuatan, agar emosinya tak mengambil alih. Di dalam sana ada orang yang pernah Yudha cintai setengah mati, namun kini dia masih membencinya.


"Lani," panggil Yudha pada Lani yang terbaring lemas. Lelaki itu juga berjalan mendekat ke bankar Lani. Dia ingin melihat wanita itu dari dekat, bagimana menderitanya Lani ini.


"Yudha?" sahut Lani menatap tidak percaya pada kehadiran Yudha.


"Iya, ini Yudha," jawab lelaki itu.


Lani langsung bangkit, dan memeluk Yudha erat.


"Sayang, akhirnya kamu datang," ujar Lani dengan nada manjanya.


Semenjak mengantar Lani buat daftar pengobatan di rumah sakit itu, Yudha memang tidak pernah muncul lagi.


"Iya," jawab Yudha meringis.


Jika yang Suster bilang, Lani masih menganggap Yudha sebagai kekasihnya. Di sisi lain, Aira pun tidak khawatir lagi karena mantan kekasih pacarnya memang benar-benar sakit. Tak ada yang perlu dicemburui karena itu hanyalan haluan milik Lani sendiri. Yang jelas cinta Yudha sekarang adalah milik Aira.


"Gimana keadaannya Lani?" tanya Yudha sambil melepas pelukan Lani. Lalu membawa wanita itu duduk lagi. Aira juga tak diam saja, dia juga mengambil posisi di samping Yudha.


"Aku sering pusing. Kadang dokter kasih obatnya disuntik, itu sakit banget," jawab Lani sambil menunjuk infusnya, memberitahu Yudha bahwa disitulah tempat dokter menyuntikkan obat.


"Tapi Lani, kamu pengen sembuh kan?"


"Iya," Lani mengangguk.


"Kalau gitu Lani mau operasi kan?"


"Mau, asal kamu selalu temani Aku," jawab Lani dengan nada memohonnya.


Yudha mengangguk, "aku akan temani, sampai kamu selesai operasi ya."

__ADS_1


"Benar? Janji?"


"Iya, aku janji," ujar Yudha sambil memberikan pinky promisnya.


Lani dengan senyuman lebarnya, yang baru pertama kali terbit setelah sekian lama di rawat. Itu dikarenakan oleh Yudha. Saat Lani merasa hatinya kembali menghangat, ia tersadarkan jika Yudha ditemani seseorang saat ke ruanganya.


"Yudha, itu siapa?" tunjuk Lani pada Aira yang melemparkan senyum padanya. Lani lupa jika pernah bertemu Aira.


"Eum ...."


"Hai, Lani. Aku Aira, sahabatnya Yudha," kata Aira menyerobot jawaban Yudha.


Aira tak mungkin memperkenalkan diri sebagai kekasih baru Yudha. Bisa-bisa Lani akan marah-marah lagi, dan susah dibujuk. Ia tak ingin, Yudha semakin terbebani karena dirinya.


Aira tahu bagaimana tidak nyamannya posisi laki-laki itu sekarang. Dia sebagai kekasih pun, harus mendukung serta tak boleh menghalangi.


"Kamu ngapain ke sini? Aku kan pengen berduaan sama Yudha," ujar Lani sedikit sewot. Wanita itu pikir jika keberadaan Aira membuat ketiganya semakin canggung.


"Aku nemenin Yudha aja kok," ujar Aira menjawab dengan apa adanya.


"Yudha nggak perlu teman, dia kan udah sama aku. Kamu pulang aja," usir Lani pada Aira.


Yudha menggenggam tangan Aira erat. Seakan menunjukkan bagaimana marahnya dia. Yudha sudah membawa sabar untuk menghadapi sikap Lani, tetapi kini Yudha ingin memaki Lani karena mengusir Aira.


Yudha tahu, tetapi rasanya tak terima saat orang yang dia benci mencoba mengusir orang yang dia sayangi. Lani bukan siapa-siapa bagi Yudha sekarang. Tetapi, dia tak bisa bilang secara gamblang. Aira menahannya, tak membiarkan Yudha melawan.


"Sstt, tahan. Jangan marah. Bersabarlah sebentar. Aku bakal keluar dulu, supaya dia puas," bisik Aira di samping Yudha.


"Tapi, itu tidak perlu!" marah Yudha.


"Kenapa Yudha?" Lani, bertanya kembali karena mendengar bisik-bisik orang yang mengunjunginya.


"Eh ngga apa-apa," jawab Yudha berusaha agar tidak dicurigai.


"Anu, Aku mau pamit dulu ya Lani, Yudha. Aku ada urusan nih di luar." Aira menjalankan rencananya untuk menenangkan Lani.


"Ya udah, sana pergi," ucap Lani.

__ADS_1


Dada Aira terasa sesak mendengar pengusiran Lani. Namun, dia harus maklum dengan keadaan Lani saat ini.


...****************...


__ADS_2