
Saat Dira masih terus membujuk Lani untuk mau berobat, ibu Yana masuk. Dia melihat kedua anaknya saling berpelukan untuk memberikan kekuatan.
Ibu Yana menjadi sedih dan ikut menangis. Menyesal mengapa dulu dia membiarkan Lani terjerumus. Andai waktu bisa di putar kembali, Ibu Yana pasti akan melarang anaknya menjadi teman ranjang sahabatnya.
Ibu Yana mengetuk pintu agar kedua putrinya menyadari kehadiran dirinya. Keduanya serempak menoleh.
"Boleh Ibu masuk, Nak?" tanya Ibu.
"Masuk aja, Bu. Kenapa harus minta izin," ucap Lani. Ibu Yana berjalan mendekati kedua putrinya.
"Ada tamu yang mencari kamu, Nak!" ucap Ibu sambil mengusap rambut putrinya yang mulai berguguran.
"Tamu? Mencari aku?"tanya Lani heran. Dia tidak memiliki teman dekat. Sehingga tidak mungkin ada yang mencarinya.
Sejak dulu Lani tidak memiliki sahabat. Tidak ada yang mau berteman dekat dengannya karena Lani yang berasal dari keluarga kurang mampu.
Di saat dia mulai menjadi teman ranjang Jefri, dan mampu membeli barang-barang mewah yang bermerek, ada banyak teman yang mulai mendekati dirinya. Namun, Lani justru yang menjauh dari mereka karena takut ada yang mengetahui kerjanya. Sehingga Lani. di sebut sombong.
"Iya, Nak. Mereka bertanya pada Ibu, apakah ini betul tempat tinggal kamu?"
Lani dan Dira saling pandang. Merasa sangat aneh. Baik Lani atau Dira tidak pernah memberikan alamat rumah mereka.
"Mereka ingin bertemu kamu, Lan."
"Baiklah, Bu. Mungkin memang teman aku. Bisa saja aku yang lupa jika pernah memberikan alamat rumah ini. Maklum saja, sejak sakit aku jadi pelupa banget."
Dira menggenggam tangan Lani. Dia tahu kakaknya pasti sedih mengalami semua ini. Lani sering mengeluh mengenai dirinya yang sangat pelupa. Dira lah yang selalu memberi semangat.
Dira membantu Lani berdiri dan berjalan menuju ruang tamu. Tubuh Lani memang lemah. Bahkan terkadang kaku dan kejang melandanya.
__ADS_1
Kedua tamu itu duduk memunggungi dirinya sehingga belum tahu siapa yang datang berkunjung.
"Selamat siang," sapa Lani. Kedua tamu itu menoleh. Lani kaget melihat siapa yang datang mencari dirinya.
Tubuhnya terasa kaku seketika tidak bisa digerakan. Air mata menetes dari sudut mata membasahi pipinya. Tidak menyangka jika masih ada kesempatan bertemu dengan pria yang sangat dia rindukan.
Yudha yang datang berdua Aira, berdiri melihat kehadiran Lani. Dia tersenyum.
"Selamat Siang, Lani. Apa kabar?" tanya Yudha dengan suara pelan dan memandangi Lani dengan mata berkaca. Wanita yang dulu sangat dia cintai itu tampak pucat dan kurus.
Visual Lani
"Baik. Kamu apa kabar?" tanya Lani. Dira membantu kakanya itu untuk duduk di sofa yang ada dihadapan Yudha. Lani menghapus air matanya. Diliriknya Aira yang duduk di samping Yudha.
Merasa diperhatikan, Aira tersenyum pada wanita itu. Aira terpana memandangi wajah Lani yang cantik walau sedang sakit. Pantas Yudha begitu mencintainya hingga kecewa berat. Tidak akan ada rasa kecewa begitu besar, jika tidak karena cinta yang juga begitu besarnya.
"Selamat siang, Lani!" ucap Aira.
Yudha yang menyadari jika dia datang dengan Aira, lalu memperkenalkan wanita itu. Aira tadi kembali meminta pada Yudha untuk sembunyikan hubungan mereka hingga Yudha dapat membujuk Lani untuk berobat.
"Jadi kamu teman kuliahnya Yudha?" tanya Lani. Aira mengangguk sebagai jawaban.
Lani berpikir sejenak. Kenapa dia tidak mengenal wanita itu. Bukankah dia dan Yudha satu kampus. Wanita itu lupa jika Yudha telah pindah dari kampus.
"Kenapa aku tidak mengenal kamu? Padahal jika kamu teman satu kampus Yudha, kita juga satu kampus'kan?" tanya Lani.
__ADS_1
Mendengar ucapan Lani, Yudha dan Aira saling berpandangan. Dira langsung menyadari jika kakaknya Lani pasti lupa jika mereka telah sama-sama keluar dari kampus.
"Aku satu kampus dengan Yudha, di tempat kuliahnya yang baru."
"Kamu pindah kuliahnya, Yud? Kenapa?" tanya Lani.
Yudha makin tidak paham dengan apa yang dialami mantan kekasihnya ini. Mungkinkah kanker otak yang dideritanya telah menghilangkan sebagian kenangan.
Pengidap kanker otak bisa mengalami perubahan kepribadian dan mental. Kondisi ini akan membuat pengidap lebih mudah emosional, terlihat lebih sering kebingungan, atau kehilangan ingatan (memori).
Melihat wajah Yudha yang keheranan, Dira akhirnya bersuara. Menjelaskan apa yang terjadi.
"Maaf, Kak. Kak Lani memang sering lupa dengan memori yang lama. Tapi tidak semuanya," ucap Dira.
"Kenapa, Dek? Apa kak Lani salah lagi? Lupa lagi?" tanya Lani. Air matanya jatuh membasahi pipi. Tidak bisa dia bendung lagi.
Lani jadi teringat penyakit yang sedang di deritanya saat ini. Apakah semua kenangan akan dia lupakan secara perlahan? Lani berusaha mengingat apa yang terjadi. Terbayang diingatkan dirinya saat Yudha marah-marah. Lani teringat kembali dengan Jefri.
"Sakit aku ini pasti karma atas perbuatan aku dulu. Aku telah menduakan kamu. Aku pantas mendapatkan semua ini. aku memang jahat. Aku kotor dan menjijikan," ucap Lani sambil menarik rambutnya. Kepalanya terasa pusing karena mencoba mengingat apa yang terjadi.
"Kak, Udah jangan dipaksa buat mengingat semuanya. Nanti sakit kakak makin parah," ujar Dira.
Aira dengan spontan menggenggam tangan Yudha. Dia tahu, pastilah saat ini pria itu kaget sekaligus sedih melihat wanita yang pernah mengisi hatinya menderita sakit begitu.
"Maaf, Kak. Aku bawa Kak Lani buat istirahat dulu," ucap Dira. Gadis itu mengajak Lani buat istirahat. Namun, Kakaknya Lani menolak. Dia masih mau mengobrol dengan Yudha.
Visual Yudha
__ADS_1
...****************...