
Selama menunggu persiapan operasi, Yudha benar-benar menepati janjinya untuk menemani Lani. Tetapi, tentu saja selalu ada Aira di samping Yudha. Kadang Lani merasa tidak suka dengan Aira, karena dirasa mengganggu momennya dengan Yudha. Namun, Aira punya cara untuk mengelabui Lani.
Aira akan menunggu di luar jika dirasa Lani mulai tidak nyaman. Kemudian, Yudha juga akan alasan keluar, supaya bisa berduaan dengan Aira. Saat Lani tenang, barulah keduanya kembali masuk ruangan. Sejatinya mengurus orang dengan otak yang sakit itu cukup mudah, hanya perlu sedikit manipulasi saja.
Untung Aira memiliki banyak akal, sehingga Yudha tak perlu banyak berpikir. Karena otaknya sudah terlalu lelah hanya untuk menahan rasa bencinya.
"Sayang, aku takut," ujar Lani sambil menggenggam tangan Yudha erat. Kini ia sedang diantar menuju ruang operasi.
Yudha tak tahu mau menjawab apa, karena sungguh lelaki itu tidak peduli. Harus mengurus Lani saja itu sudah merepotkan, apalagi dia juga harus menanggapi semua tingkah wanita itu. Yudha semakin pusing saja.
"Lani, tenang aja. Operasinya pasti berjalan lancar, yang penting kamu sembuh dulu ya," ujar Aira menggantikan Yudha. Gadis itu berada di sisi satunya, berhadapan dengan Yudha. Mereka saling berpandangan, Yudha menatapnya memelas seakan meminta Aira menyelamatkannya dari situasi itu.
"Kamu?" ujar Lani dengan pandangan bertanya.
Keberadaan Aira selalu dipertanyakan oleh Lani. Wanita itu selalu lupa dengan Aira, mungkin karena Aira tak pernah ada di ingatan lama Lani. Yang ada hanya Yudha dan hubungan mereka sebagai sepasang kekasih.
"Aku Aira, teman Yudha, teman kamu juga," jawan Aira dengan senyuman maklum.
Yudha selalu kagum dengan Aira. Bagaimana bisa kekasinya itu dengan sabar mengurus Lani, yang notabene mantan kekasih Yudha. Seharusnya mereka tak dalam hubungan yang baik. Tetapi, Aira malah mengasihani Lani lalu merawatnya dengan ikhlas.
Tak hanya Yudha yang kagum, tetapi suster yang selama ini merawat Lani juga tersenyuh dengan kebaikan Aira. Kedatangan Yudha dan Aira benar-benar merubah emosi Lani menjadi lebih tenang. Tak seperti sebelumnya, yang kasar dan suka mengamuk.
Hingga tiba saatnya Lani memasuki ruang operasi. Yudha dan Aira hanya bisa mengantar hingga depan pintu, seterusnya suster yang membawa Lani. Sepasang kekasih itu hanya bisa menunggu hingga proses operasi selesai.
"Apa kita bisa pergi sekarang?" Yudha bertanya pada Aira dengan manja.
"Kita tunggu sampai Lani selesai ya, kamu kan sudah janji kemarin," jawab Aira penuh kesabaran.
Yudha hanya bisa cemberut mendengar jawaban Aira. Yudha akhirnya hanya bisa menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya itu. Pria itu tampaknya lelah, karena harus menanggung beban yang seharusnya bukan untuknya.
Butuh berjam-jam hingga operasi Lani selesai. Aira selalu menyediakan apapun untuk Yudha agar dia tak bosan. Mereka menunggu sambil makan, minum, dan mengobrol bersama.
__ADS_1
Mungkin sekitar 6 jam mereka menunggu hingga Lani bisa diantar kembali ke ruangannya.
"Pasien masih dalam kondisi yang belum stabil, diharapkan jangan sampai ada banyak hal yang membebani otaknya," ujar Suster yang mengantar Lani hingga ke ruangannya.
"Baik, terima kasih," jawab Aira dengan ramah.
Setelahnya suster itu pergi, dan hanya menyisakan Yudha dan Aira. Kedua sejoli itu berdiskusi bagaimana kelanjutan perawatan Lani ini. Yudha tentu saja tak bisa terus-terusan mengurus Lani.
Mereka sudah tak berhubungan lagi, untuk apa Yudha di sana. Dan lagi, Lani adalah orang yang dia benci karena sudah merusak keharmonisan keluarganya. Lani adalah pelakor sesungguhnya.
"Kalau kamu keberatan mengurus Lani, biar aku aja. Kamu yang penting kelihatan mukanya di depan Lani ya," tawar Aira sukarela.
Yudha terdiam, pria itu merasa banyak membebani Aira. Padahal hubungan antara Aira dan Lani lebih tak masuk akal lagi. Mereka adalah asing, tak harusnya Aira ikut bertanggung jawab.
"Kamu istirahat aja ya, Sayang. Sejak kemarin kamu terus memaksakan diri. Kini biar aku yang melakukan sisanya," tolak Yudha.
Detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam telah Yudha lalui dengan rasa bosan di rumah sakit ini. Menunggu Lani sadar saja, terasa sangat lama sekali.
"Sayang minum," rintih Lani.
Awalnya Aira yang bangun akan membuatkan minum. Tetapi, gadis itu ditahan oleh Yudha dengan tangannya.
"Jangan, Biar aku aja," ujar Yudha sambil merebut gelasnya.
Dari lirikan mata Aira, dia mempertanyakan kenapa Yudha menggantikannya. Kemudian, tanpa perdebatan lagi Yudha langsung membawakan air kepada Aira.
Untuk hal-hal selanjutnya, Yudha lah yang melakukan. Mulai dari minum, meminta makan, meminta bantuan.
Awalnya Aira tak memperdulikannya, karena dia tahu kalau Lani hanyalah orang sakit. Tetapi makin ke sini, Lani semakin memanfaatkan kedekatannya dengan Yudha.
Seperti kata Dokter, otak Lani mungkin akan kembali seperti semula. Dia akan mengingat semuanya. Jadi Aira bersiap-siap, supaya Yudha tak marah lagi jika sewaktu-waktu Lani membawa topik tentang hubungan mereka.
__ADS_1
Tetapi, bukannya hal buruk. Malah hubungan Lani dan Yudha semakin dekat. Yudha menyuapi Lani dengan sabar, mirip seperti yang dilakukan Aira. Yang jelas Yudha semakin kesini nampak menikmati untuk mengurus Lani. Apalagi Lani begitu ganjen dengan Yudha, meski tahu ada Aira.
"Sayang, aku mau itu," ujar Lani begitu manja, dengan suara seperti dibuat-buat.
"Yang ini?" tanggap Yudha
"Iya," balas Lani sambil terkikik kecil
Aira melihat itu, seperti melihat sepasang kekasih. Lani yang manja, dengan Yudha yang mengayominya. Rasanya hati Aira seperti dibakar, iya dibakar api cemburu.
Pria itu tak biasanya begini, Aira paham saat Yudha ingin meringankan bebannya. Tetapi, bukan ini reaksi yang diinginkan Aira.
Selama merawat Lani, itu semua memang sengaja dia lakukan. Aira merawat Lani, agar wanita itu tak mendekati Yudha. Kasarnya, biarlah Aira lakukan semuanya mau mengurus orang sakitpun sanggup asal Yudha tak mengurus langsung.
Seperti diabaikan, Aira diam-diam pergi menyelinap keluar. Aira pergi dari rumah sakit tanpa diketahui oleh Yudha. Kerena, lelaki itu asik dengan Lani. Wanita itu dinotice.
Aira butuh menenangkan diri. Sepertinya dia sudah kebanyakan overthingking tentang kekasihnya dan Lani. Itu membuat otaknya pusing.
Sedikit demi sedikit Lani menerima suapan Yudha. Wanita itu sangat menikmati momen itu. Itu seperti gambaran yang dia bayangkan selama ini. Kembali bersatu bersama Yudha. Menjalin cinta baru di jalan yang baru.
Lani tahu dia banyak salah pada Yudah, tetapi bukan berarti dia salah seutuhnya. Semua itu terjadi karena dia terbawa nafsu.
Makin lama, makanan tinggal sedikit. Yudha melihat kanan kirinya mencari keberadaan kekasihnya Aira. Tetapi, ia tak menemukan siapapun.
"Aira mana ya?" tanya Yudha pada Lani.
"Tidak tahu," jawan Lani tak acuh.
Yudha merengut, kini moodnya tak lagi baik. Pria itu pamit keluar mencari Aira. Tetapi nihil, kemana gerangan kekasihnya itu.
...****************...
__ADS_1