TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 85. Pernikahan Telah Usai


__ADS_3

Aira tidak menyangka kalau kamar yang tadi pagi sampai sore menjadi kamar riasnya, kini sudah disulap menjadi kamar pengantinnya untuk malam ini. Seingat Aira, terakhir kali dia berganti pakaian di sini, kamarnya belum serapi ini dan belum banyak bunga yang dijadikan hiasan. Namun sekarang, semuanya sudah disulap menjadi seapik dan seindah mungkin.


Yudha pun meneguk ludahnya sendiri melihat kamar pengantinnya dipenuhi hiasan bunga mawar dan lilin di mana-mana. Bahkan Yudha bisa mencium seluruh kamar itu dipenuhi oleh aroma wangi dari mawar yang berhamburan di sana sini.


"Aira, lebih baik kamu mandi dulu. Setelah kamu, nanti baru aku yang mandi," titah Yudha kepada Aira.


Mendengar hal itu, Aira pun menganggukkan kepalanya. Dia bergegas ke kamar mandi dan membasuh dirinya. Untungnya, acara malam tadi tidak membuat rambutnya dihias oleh banyak aksesoris, jadi Aira tidak perlu kesulitan untuk melepas aksesoris di kepalanya.


Tidak sampai satu jam, Aira sudah keluar dari kamar mandi mengenakan kimono handuknya. Gadis itu sedikit canggung, karena biasanya sehabis mandi tidak ada siapa-siapa di kamarnya. Namun mulai malam ini, Aira akan berbagi kamar dengan Yudha. Gadis itu harus terbiasa dengan kondisi seperti ini.


"Kamu sudah selesai mandinya 'kan? Kalau begitu, aku ganti yang mandi." Yudha ganti pamit, dia akan mandi secepat mungkin agar bisa lanjut ke prosesi berikutnya. Bagi Yudha, proses pernikahan belum berakhir. Masih ada proses terakhir yang semuanya ditentukan oleh usahanya malam ini.


Di kamar, Aira sangat gugup. Dia membuka koper pakaiannya dan mengambil baju tidur yang sudah dia siapkan dari kemarin. Gadis itu memakai baju tidur serba panjang.


"Oke, dengan begini maka Yudha nggak akan ada keinginan buat menyentuhku. Aku masih malu," gumam Aira pelan supaya Yudha tidak mendengarnya.


Usai mengeringkan rambutnya, Aira bergegas naik ke ranjang dan memainkan ponselnya. Gadis itu tadinya berniat untuk meninggalkan Yudha tidur, hanya saja Aira terlalu gelisah sehingga dia malah tidak bisa tidur.


Yudha sudah keluar dari dalam kamar mandi. Lelaki itu mengambil pakaian gantinya dan kembali ke dalam kamar mandi untuk berganti pakaian. Kini, Yudha sudah memakai kaos putih polos dan celana boxer hitam. Lelaki itu juga mengeringkan rambutnya sebentar pakai handuk dan menyusul Aira ke atas ranjang.


Mengetahui Yudha duduk di sampingnya, jantung Aira pun semakin berdetak tak keruan. Gadis itu tidak tahu harus berkata apa. Padahal ini bukan kali pertamanya mereka berada di dalam satu kamar berdua, tapi entah kenapa bagi Aira ini terasa lebih menegangkan dari biasanya.


"Kamu nggak ngantuk, Ra?" tanya Yudha berbasa-basi.

__ADS_1


"Ah? Oh, hehehe, kayaknya bentar dulu deh tidurnya," jawabnya sambil menampilkan giginya yang putih bersih.


Pandangan Yudha turun ke leher jenjang milik Aira. Lelaki itu susah payah menelan salivanya hanya karena melihat lehernya Aira yang menggoda.


"Kita bakal langsung tidur 'kan malam ini?" Kali ini ganti Aira yang bertanya karena dia juga bingung harus bicara apa.


"Ah? Kalau kita ngobrol dulu sebentar gimana?" tanya Yudha seraya menggeser tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan Aira.


"Oh, iya deh." Aira menganggukkan kepalanya. Gadis itu berusaha tenang saat Yudha sudah semakin dekat dengannya. Bahkan Aira harus menahan napas ketika Yudha mengalungkan tangan kirinya di bahunya, sehingga seolah-olah posisinya Aira sedang bersandar di sandaran ranjang dengan berbantalkan lengan Yudha.


Yudha melihat tangan kanan Aira, dia pegang tangan Aira dan membuat jantung Aira semakin berdegup tak menentu.


"Cat kuku kamu bagus ya, Ra, warnanya," kata Yudha berbasa-basi.


Yudha sangat pandai mengalihkan perhatian Aira sehingga Yudha berhasil melakukan aksinya. Memasukan tangannya ke dada.


Pandangan Aira kini jatuh ke bagian dadanya, ada tangan Yudha di sana yang sedang mengusapnya perlahan. Aira merasa belum siap, tapi dia juga tidak bisa menyingkirkan tangan Yudha dari sana sehingga Aira hanya bisa membiarkan Yudha melanjutkannya. Aira semakin tak keruan, dia jadi panas dingin karena Yudha.


"Yud, bisa ditunda dulu nggak? Aku takut," katanya memohon, tapi Yudha menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tampan. Tak lama, Aira kembali mendelik ketika Yudha lagi-lagi menyerangnya.


"Lampunya dimatiin ya? Aku malu dilihatin sama kamu nanti." Aira memohon hal lainnya karena sepertinya Yudha sudah tidak bisa ditolak lagi. Untuk ke sekian kalinya, Yudha menggelengkan kepalanya.


"Aku ingin melihat tubuh indah istriku untuk yang pertama kalinya, masa dimatiin sih lampunya? Kamu juga harus melihatku dengan mata cantikmu, Sayang," balas Yudha membuat kedua pipi Aira merah merona.

__ADS_1


Aira tidak bisa kabur, dia sudah berada di dalam genggaman Yudha sekarang. Meski takut, tapi Aira juga penasaran untuk mencobanya.


"Kata teman-temanku, kalau pertama itu rasanya sakit banget. Aku takut sakit, Yud," adunya lagi.


Yudha tersenyum kepada Aira dan dia berkata, "Makanya, kamu percaya sama aku. Kebetulan, aku sudah tanya-tanya ke teman aku yang kebetulan profesinya dokter," ucapnya.


"Tanya apa? Jangan bilang kalau kamu tanya tentang tutorial malam pertama?" tanya Aira kaget.


Yudha tertawa mendengar pertanyaan istrinya. Yudha membuka mulutnya, "Bukan itu, Sayang, tapi aku tanya bagaimana caranya membuat istri aku nyaman saat melakukan hubungan pertama kali," jawabnya.


"Terus apa katanya?" Aira mulai penasaran.


"Dia bilang, aku hanya perlu membuat kamu relaks saja dan kamu juga berusaha tenang, tidak gugup, tidak takut dan kita harus menikmatinya." Yudha mengulangi apa yang dia dapatkan dari temannya.


Aira menganggukkan kepalanya perlahan, dia percaya pada Yudha. Bahkan sekarang Aira memperbolehkan Yudha melepas baju tidurnya. Dapat Aira lihat kalau Yudha terlalu pada bagian dadanya. Meski sedikit malu, tapi Aira berusaha menahannya dan tidak menutupi bagian dadanya. Gadis itu membiarkan Yudha menikmati pemandangan di tubuhnya sepuasnya.


Yudha mulai berusaha membuat Aira relaks hingga akhirnya mereka sama-sama tidak mengenakan sehelai benang pun. Kegiatan mesra mereka berlanjut, Yudha sudah bersiap di posisinya. Begitu pula Aira yang mengikuti semua instruksi dari Yudha. Hingga akhirnya Aira menggigit bibir bawahnya ketika Yudha berhasil melakukan tugasnya. Aira dan Yudha resmi bersatu dan menjadi satu mulai detik ini.


Pandangan Yudha tidak lepas dari wajah Aira, meski Aira masih malu-malu kucing, tapi karena rayuan, akhirnya Aira mau menatap Yudha yang ada di atasnya. Tak lama, Aira dan Yudha merasakan sensasi luar biasa di tubuh bagian inti mereka. Ini pelepasan pertama mereka dan akan mereka kenang selamanya.


Sepasang suami istri baru itu sama-sama tersenyum bisa melewati malam pertama mereka dengan manis dan sukses. Kecupan manja Yudha berikan di kening Aira.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2