
Telah satu bulan berlalu. Hubungan Aira dan Yudha makin dekat. Walau terkadang Yudha tampak acuh, tapi Aira tidak pernah bosan. Dia terus saja mengajak Yudha bicara dan becanda sehingga akhirnya pria itu sudah mulai terbuka.
Pagi ini Aira sengaja mampir ke apartemen Yudha. Dia membawa nasi goreng teri buatannya untuk sarapan Yudha. Aira memencet bel. Beberapa kali memencet barulah Yudha membukakan pintu.
"Lama banget sih buka pintunya? Kamu lagi ngapain aja!"
"Aku baru aja selesai mandi," jawab Yudha.
"Aku boleh masuk ya. Aku bawa nasi goreng buat sarapan. Sebelum ke kampus kita sarapan dulu." Sebelum Yudha mempersilakan masuk, Aira telah melangkahkan kakinya.
Aira langsung menuju dapur untuk mengambil piring. Dia kaget melihat ada wanita yang sedang memasak di dapur. Begitu juga dengan wanita itu.
"Maaf ... aku nggak tahu jika ada orang!" ucap Aira. Dia memandangi wajah Manda dengan seksama.
"Aira, kenalkan ini Mami aku," ucap Yudha dari belakang tubuh Aira.
"Mami ... Maaf Tante. Aku kira siapa? Tante masih muda. Aku kira ...."
"Kamu kira siapa?" tanya Yudha sambil tersenyum.
"Aku kira Tante kekasihnya Yudha," ucap Aira pelan.
Mami Manda dan Yudha tertawa mendengar ucapan Aira. Bagaimana bisa gadis itu mengira Mami adalah kekasihnya.
"Emang Tante masih pantas pacaran dengan pria seumuran Yudha?" tanya Mami Manda.
"Anak muda sekarang banyak yang suka dengan cewek lebih tua, Tante. Tapi, Tante emang masih pantas kok pacaran ama seusia Yudha. Tante seperti wanita usia 30-an."
"Jangan memuji Mami. Nanti badan Mami bisa langsung mengembang," ujar Mami. Aira dan Yudha tertawa mendengar ucapan Mami.
"Aku bawa nasi goreng buat sarapan. Bisa kok buat bertiga." Aira mengambil tiga piring dan menyalin nasi goreng ke piring.
Aira lalu menata ke meja makan. Aira juga menyediakan air minum. Mami Manda memerhatikan semua dengan tersenyum. Setelah semua tersaji. Aira baru duduk.
"Coba masakan aku, Tante. Jika enak Tante bisa puji, kalau tidak enak Tante diam saja. Aku dah mengerti nanti."
"Tante coba ya? Sepertinya enak banget." Mami Manda mencoba memasukan satu sendok ke dalam mulutnya. Tampak Mami Manda tersenyum.
"Enak banget. Ini kamu masak sendiri?" tanya Manda.
__ADS_1
"Tentu saja Tante."
Yudha yang mendengar Mami memuji langsung mencobanya. Tampaknya Yudha juga menyukai nasi goreng itu. Terbukti dengan dia tetap menyuap ke mulutnya tanpa jeda.
"Ini kamu beli di mana?" tanya Yudha.
"Aku Udah ngomong dari tadi, aku yang masak. Bukan di beli."
"Kok enak banget. Emang kamu bisa masak?" tanya Yudha dengan mulut berisi sehingga suaranya kurang jelas.
"Kalau mulut berisi makanan itu, jangan bicara. Habiskan dulu makanannya."
Yudha tersenyum menanggapi ucapan Mami. Dia meneruskan menyuap makanannya. Setelah sarapan Aira dan Yudha pamit. Senyum Mami tampak terus mengembang dari bibirnya melihat Aira dan Yudha.
Semoga kehadiran Aira bisa membuat Yudha dapat melupakan Lani. Gadis itu juga tampak baik. Aku harap Yudha bisa membuka hatinya untuk kehadiran wanita lain.
Visual Aira.
Yudha
Tiga bulan kemudian.
Di tempat lain, Lani dan keluarga yang saat ini tinggal di sebuah kontrakan kecil tampak sedang merintih di kamarnya.
Sudah dua minggu ini Lani merasakan sakit dibagian kepalanya hingga sering mual dan muntah. Terkadang hingga kejang dan pingsan.
Jefri akhirnya melepaskan Lani. Namun, ayahnya harus membayar semuanya dengan merdekam di penjara. Pria itu melakukannya sejak dia memaksa Lani berhubungan badan dan wanita itu mengalami kejang hingga pingsan. Jefri yang ketakutan akhirnya melepaskan Lani.
"Kak, apa kepala kakak terasa sakit lagi?" tanya Dira melihat kakaknya merintih kesakitan.
"Entahlah Dek. Satu minggu ini Kakak merasakan sakit kepala yang berat. Kakak jadi pelupa. Tangan ini sering kaku dan juga sering merasakan kesemutan," ujar Lani.
"Apa tidak sebaiknya Kakak periksa ke dokter. Jangan di biarkan. Takutnya ada penyakit yang sedang kakak idap."
"Kakak takut jika itu benar. Kakak takut mendengar kenyataan jika di tubuh ini mengidap suatu penyakit yang berbahaya."
__ADS_1
"Tapi Kakak juga tidak bisa mengabaikan. Takut makin parah. Sejak kapan kakak merasakan sakit ini?"
"Sejak satu bulan lalu," jawab Lani. Dia yang saat terakhir berhubungan badan merasakan sakit kepala yang dahsyat. Jefri yang tidak percaya tetap memaksa berhubungan hingga Lani mengalami kejang dan jatuh pingsan.
"Kakak harus berobat. Aku ada uang simpanan. Bisa buat berobat. Lagi pula kakak ada asuransi kesehatan, bukan? Lebih baik Kakak ke dokter. Aku takut terjadi sesuatu dengan Kak Lani."
"Dek, akhir-akhir ini Kakak sering lupa dengan kejadian yang lalu. Tapi anehnya Kakak tidak bisa melupakan Yudha. Kakak ingin sekali bertemu dengannya. Hanya sekadar menyapa saja sudah cukup."
"Aku akan cari tahu di mana sekarang Kak Yudha berada. Aku juga kuliah di kampus yang sama dengan Kak Lani."
"Nggak usah, Dek. Biarkan Yudha dengan kehidupannya saat ini. Kak Lani senang jika dia telah melupakan hubungan kami. Itu berarti dia tidak menyimpan dendam."
Lani terdiam. Pikirannya melayang ke Yudha. Cuma Lani sedikit lupa awal mereka berkenalan. Entah mengapa Lani merasa memori dalam otaknya makin berkurang. Kejadian lama banyak yang dia lupakan.
Lani memang memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya. Dia fokus dengan penjualan online. Alasan utama Lani sebenarnya adalah karena dia tidak ingin lagi sedih. Setiap dia ke kampus teringat terus tentang cintanya dengan Yudha.
Walau Lani sadar, Yudha belum tentu masih mengingat dirinya. Namun, rasa cintanya tidak bisa hilang. Dia selalu saja teringat kisah cintanya. Walau kebersamaan mereka hanya sekejap, tapi sangat membekas dihatinya.
Lani kembali merasakan sakit yang begitu berat dikepalanya hingga akhirnya dia menjerit tidak tahan dengan rasa nyeri yang dia rasakan.
Dira menjadi kaget dan langsung memeluk kakaknya. Dira sangat kuatir melihat Lani yang menarik rambutnya karena rasa sakit yang dirasakan.
"Sakit, Dek. Sakit banget," ucap Lani dengan berurai air mata.
"Kakak harus ke rumah sakit. Aku rasa ini bukan hal sepele."
Lani yang merasakan sakit hingga tubuhnya merosot ke lantai. Lani bersujud dengan tangan yang masih menarik rambutnya.
"Sakit ...," teriak Lani akhirnya. Dira yang melihat itu tidak bisa tinggal diam lagi. Dira berlari keluar mencari ibunya.
"Ibu, tolong kak Lani," teriak Dira. Ibu yang sedang memasak menjadi kaget.
"Kenapa dengan Lani?" tanya Ibu.
"Kak Lani berteriak karena merasa sakit kepala berat."
Ibu dan Dira berlari menuju kamar Lani, tampak anaknya yang menangis merintih dengan menarik rambutnya dengan keras. Dira melihat banyak rambut yang tercabut saat Lani menariknya.
"Lani ... kamu kenapa, Nak," ucap Ibu kuatir. Tidak pernah dia melihat anaknya merintih kesakitan hingga begitu.
__ADS_1
...****************...