
"Lani ... tunggu?" panggil Aira. Wanita itu keluar dari mobil dan berjalan menghampiri Lani. Dia menarik napas dalam. Bagaimana mungkin dia pulang sekarang. Nanti Aira bisa mengira dia sombong.
"Aira, baru sampai ya? Apa kabar?" tanya Lani. Dia memeluk dan mengecup kedua pipi Aira.
"Iya. Kamu mau kemana? Masuk dulu. Aku dan Yudha membeli banyak ole-ole buat kamu," ucap Aira. Dia memeluk lengan Lani dan mengajaknya masuk.
Lani akhirnya mengikuti langkah Aira masuk. Terpaksa dia bertahan. Mami Manda hanya bisa memandangi tanpa bisa berbuat apa-apa.
Dia juga tidak mungkin melarang Aira untuk mengajak Lani masuk. Istri Yudha itu mengajak Lani duduk di sofa. Dia membuka satu koper dan memperlihatkan isinya.
"Lihat apa yang aku beli buatmu. Ada baju, sepatu dan tas. Ini pasti sesuai denganmu."
Aira mengeluarkan semua yang dia beli buat Lani dan meletakan di atas sofa. Mami Manda masuk ke rumah dan membiarkan anak-anak itu mengobrol.
Yudha memilih duduk di samping Aira, istrinya. Dia memeluk bahu wanita itu sambil tersenyum dengan Lani.
"Aira, aku tidak tahu harus berkata apa. Kamu begitu baiknya. Kamu memang pantas untuk Kak Yudha," ujar Lani. Air matanya sudah mulai membasahi pipi.
__ADS_1
Yudha membisikan sesuatu ke telinga Aira dan wanita itu menganggukan kepala tanda setuju. Entah apa yang pria itu katakan.
Yudha berpindah duduk ke samping Lani. Menarik tangan wanita itu pelan dan menggenggamnya.
"Dengar Lani, aku ini saudara laki-lakimu. Aku bertanggung jawab atas hidupmu hingga kau memiliki suami. Aira selalu mengingatkan aku mengenai kamu. Dia ingin setelah kami wisuda, kita pergi berobat. Aku dan Aira akan menemani kamu, sekalian mami. Aku ingin kita pergi berobat sekaligus untuk liburan. Tapi aku ada syarat," ucap Yudha.
Lani memandangi wajah pria yang pernah begitu dicintainya. Laki-laki pertama yang mengisi hati wanita itu. Pada akhirnya dia harus melupakan semua rasa itu karena ternyata mereka bersaudara. Merubah cinta menjadi sayang sebagai saudara bukanlah mudah, tapi dia harus melakukan itu.
Lani dapat melihat ketulusan hati Aira. Wanita itu memang pantas menjadi pendamping Yudha. Pria baik yang pernah dia temui.
"Syaratnya apa, Kak?" tanya Lani. Dia memang memanggil Yudha dengan sebutan kakak sejak mengetahui mereka bersaudara.
"Apa Aira tidak keberatan jika Kak Yudha mengajak aku berobat?" tanya Lani. Dia tidak ingin gara-gara dirinya Aira dan Yudha bertengkar.
Aira tersenyum dan mendekati Lani. Dia duduk di sebelah kanan Lani. Sedangkan Yudha duduk di sebelah kiri.
"Aku tidak akan marah jika Yudha memberikan bantuan untuk kamu berobat. Karena kamu adalah adiknya Yudha. Aku bahkan berharap jika kamu sehat seperti sedia kala dan mendapatkan jodoh terbaik," ucap Aira.
__ADS_1
"Sebenarnya ini semua juga ide dari Aira. Aku telah bertanya dengan Mami. Dan dia setuju. Kita akan berangkat satu bulan lagi setelah aku dan Aira wisuda. Jika aku telah memegang perusahaan akan sulit pergi jauh dan lama. Lagi pula, lebih cepat melakukan pengobatan buatmu itu lebih baik."
"Baiklah, Kak. Nanti kau katakan pada Ibu."
Mereka bertiga mengobrol hingga lupa waktu. Lani akhirnya menginap di rumah Mami Manda.
***
Satu bulan telah berlalu. Yudha, Aira, Lani dan Mami saat ini sedang berada di bandara. Mereka akan ke luar negeri untuk berobat jalan bagi Lani dan juga sekaligus liburan.
Yudha tidak ingin Mami merasa diabaikan. Dia juga ingin antara Lani dan Maminya tidak ada dendam lagi. Bagi Yudha keduanya juga wanita penting selain Aira.
Aira tetap nomor satu di hati. Saat ini hubungannya dengan Aira makin mesra. Istrinya itu juga makin manja.
"Sayang, pesawatnya udah mau berangkat. Nanti kita ketinggalan. Jangan makan terus," omel Aira melihat suaminya itu terus saja menyantap nasi goreng yang dipesannya.
"Sebentar, Sayang. Aku masih lapar," ucap Yudha.
__ADS_1
Mata Aira membesar mendengar ucapan suaminya itu. Telah habis dua piring masih saja mengatakan lapar. Aira menjadi heran, kenapa seminggu ini selera makan suaminya menggila. Keinginannya juga aneh-aneh.
...****************...